69% Tak Patuhi Protokol Kesehatan

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - PSBB Surabaya Raya sudah memasuki tahap III yang dimulai 26 Mei 2020 hingga 8 Juni 2020. Perpanjangan PSBB tahap III itu dituangkan dalam Keputusan Gubernur Nomor 188258/KPDS/013/2020 tentang perpanjangan kedua pemberlakuan PSBB dalam penanganan COVID-19 di wilayah Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Gresik. Namun melihat pada pelaksanaan PSBB sebelumnya yakni tahap I dan II di Surabaya Raya dinilai banyak orang telah gagal.

Menanggapi hal itu, tim Litbang Surabaya Pagi menggelar polling kepada masyarakat dengan beberapa pertanyaan terkait tanggapan mereka tentang perpanjang PSBB Jilid III di Surabaya Raya (Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Gresik).

Polling dilakukan tepat pukul 09.00 WIB  dan ditutup pukul 17.00 WIB, Rabu (27/5/2020). Dengan responden rentang usia 20 tahun sampai 56 tahun dengan background mahasiswa, pekerja swasta, dan wiraswasta, dengan domilisi tidak hanya di Kota Surabaya tetapi juga di Kabupaten Sidoarjo dan Gresik.

Metode polling dilakukan menggunakan wawancara langsung menggunakan telepon dan WhatsApp. Jumlah total responden yang dihimpun sebanyak 68 responden.  Hasilnya, diperoleh bahwa 30 responsen merespon (44 persen) dengan Setuju tentang di perpanjangnya PSBB jilid III. Sementara 38 responden atau 56 persen memilih Tidak Setuju jika PSBB jilid III diberlakukan.

Selain itu, dari 56 persen responden yang tidak setuju dijalankan PSBB jilid III, ternyata, 78 persen meminta dijalankannya konsep New Normal seperti yang sedang disiapkan Presiden Joko Widodo.

Seperti apa alasan para responden yang berhasil diwawancara secara random oleh tim litbang Surabaya Pagi.

“Saya memilih tidak setuju. Karena tidak sama dengan bantuan yang pemerintah turunkan kepada kita. Apalagi bagi orang-orang bawah. Jika PSBB di perpanjang sampai kapan kita tinggal dirumah, keluarga mau makan apa? Iya jika orang kaya yang pekerja PNS dan aparat yang tinggal di rumah gaji tetap ada. Jika sebagai pekerja swasta, tidak kerja ya tidak ada gaji dan bisa-bisa malah kena PHK. Bukannya kita tidak mensuport program pemerintah, namun pemerintah juga harus memikirkan nasib rakyat kecil, kita mau covid ini cepat selesai, namun jika kita di rumahkan tidak kerja kita tidak bisa makan,” kata Zulfarkhan saat diwawancarai secara langsung.

 

PSBB Jilid 1 dan 2, Gagal

Masyarakat juga menyampaikan alasannya mengapa PSBB di Surabaya Raya ini gagal pada sebelumya.  Warga Kenjeran, Winda Ayu menyampaikan bahwa  PSBB yang diterapkan tidak efektif , kalau tetap dilanjutkan berjilid-jilid pun akan tetap sama hasilnya tidak membawa perubahan. “Contohnya perbatasan check poin di Suramadu tidak berjalan, tidak ada pengecekan disana , hanya penyemprotan disinfektan aja dan penjagaan disana pun kurang maksimal walaupun ada banyak aparat keamanan yang berjaga. Kalaupun PSBB masih berlanjut, harapannya lebih diperketat dan ditindak tegas” ungkap Winda Ayu.

“Saya rasa peraturan yang dijalankan sekarang ini hanya berdasarkan formalitas, tidak ada tindakan yang jelas dan terukur, sampai saat ini pun banyak warga yang sering berkerumun dijalanan tanpa ada teguran dari petugas, Jadi pada kesimpulannya PSBB tetap diperpanjang tapi peraturannya makin ditingkatkan, aku juga kadang heran, iki PSBB tapi kok aktifitas normal,” ujar Irfan yang berkomentar.

Sedangkan untuk masyarakat yang SETUJU mereka beranggapan jika ini jalan yang tepat guna meminimalisir penyebaran virus covid-19. “Menurut saya PSBB tetap harus dijalankan,karena ibaratnya PSBB ini jadi acuan/ aturan/batasan bagi masyarakat lain saat beraktivitas di tengah pandemi ini, jika tidak ada maka saya yakin, korban covid-19 akan semakin bertambah” ujar Mudiantok saat diwawancari secara langsung lewat telefon.

 

Setujui New Normal

Salah satu pengguna facebook menuliskan bahwa kembali beraktivitas dengan mengikuti ketentuan PSBB dapat menjadi solusi untuk kondisi saat ini. "Saya berfikir percuma saja diam di rumah, pada akhirnya tetap saja kendaraan umum dibuka, tempat umum juga ada yang dibuka, jadi seperti merasa percuma saja, gitu. Jadi coba saja di Surabaya Raya diterapkan New Normal,"ungkapnya

“Inginnya new normal tapi tidak semua orang mau menuruti aturan. Peraturan yang di laksanakan pun hanya pakai  masker. Karena terbatasnya petugas dan banyaknya jalan tikus, orang masih bisa seenaknya masuk surabaya lewat jalan tikus, jadi tak begitu efektif, tak sepenuhnya salah pemerintah seharusnya masyarakat harus lebih lagi dalam mendukung program pemerintah dengan inisiatif menutup jalan tikus yang dapat dilewati sembarang orang masuk surabaya,  perkara jaga jarak tidak bisa berkomentar karena bergantung kesadaran diri.” kata Afifah saat diwawancarai. n ana/litbangSP