22 Kabupaten di Jatim Kena La Nina!

Beberapa pohon di sepanjang Jalan Ahmad Yani Surabaya, tumbang karena angin kencang dampak La Nina, yang terjadi pada awal Januari 2020 lalu. SP/Arlana

 

 

BMKG Prakirakan kota Surabaya, Baru Diguyur Hujan Awal November 2020. Puncak Hujan Deras Disertai Angin terjadi Bulan Januari 2021

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menginformasikan kondisi iklim di Indonesia, khususnya Jawa Timur diprediksi bakal terjadi fenomena La Nina. Fenomena ini merupakan siklus lebih dinginnya laut di pasifik equator dan akan mempengaruhi sistem iklim global. Intensitas hujan sedang hingga lebat, dan potensi bencana alam perlu di waspadai beberapa wilayah di Jawa Timur. Dicatat ada 22 daerah di Jawa Timur berpotensi terdampak La Nina, seperti penurunan suhu, datangnya musim hujan lebih awal dan potensi bencana, seperti banjir, longsor hingga puting beliung.

Selama kurang lebih seminggu hingga tiga minggu kedepan, Surabaya masih masuk dalam masa Pancaroba. Awal musim hujan di Surabaya, diperkirakan baru terjadi bulan November.

"Prakiraan awal musim hujan disertai angin ada pada bulan November, dan puncaknya terdapat di bulan Januari hingga Februari," kata Teguh Tri Susanto, S.Si., M.T. Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Juanda kepada SURABAYAPAGI.com, Kamis (22/10/2020). Teguh menambahkan, cuaca ekstrem seringkali terjadi di masa ini, yaitu masa pancaroba.

Sementara, tambah prakirawan BMKG, setidaknya ada beberapa titik Kota/Kabupaten di Jawa Timur yang harus lebih waspada akan cuaca ini. Diantaranya, Bangkalan, Sampang, Sumenep, Probolinggo, Kediri dan Malang. “Biasanya untuk malam dan dini hari, sangat berpotensi angin kencang. Angin bergerak dominan dari Timur ke Tenggara dengan kecepatan 05-30km/jam,” jelasnya.

Selain itu, juga ada potensi curah hujan, hingga potensi bencana hidrometeorologi terutama banjir dan tanah longsor yang tinggi tentunya terjadi karena faktor dari La Nina. "Faktor dari La Nina dapat berdampak bagi Indonesia, khususnya Indonesia Timur," tambah Teguh.

Karena, tambahnya, cuaca yang berubah-ubah di masa peralihan ini harus menjadi perhatian lebih bagi masyarakat. Himbauan bagi masyarakat supaya mengelola air secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

 

Himbauan BPBD

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim memiliki sejumlah imbauan untuk masyarakat. Hal ini diungkapkan oleh Kasi Kedaruratan BPBD Jatim Satriyo Nurseno mengingatkan masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, La Nina sudah mulai masuk ke Indonesia dan berdampak pada peningkatan curah hujan.

Satriyo meminta masyarakat untuk senantiasa mengenal kondisi di wilayah masing-masing. Misalnya di wilayah rawan banjir dan longsor.

"La Nina sudah mulai masuk ke Indonesia, khususnya Jawa Timur. La Nina membawa curah hujan lebih dari normal ke wilayah Indonesia. Waspada, masyarakat harus mengenal kondisi wilayah masing-masing. Jika curah hujan tinggi, khususnya di wilayah rawan banjir dan longsor harus tahu struktur wilayah sekitar masyarakat," pesan Satriyo, Kamis (22/10/2020).

 

Waspada Pohon Roboh

Tak hanya itu, saat datang hujan dengan angin besar, Satriyo menyarankan Masyarakat tidak asal berteduh. Karena, dikhawatirkan rawan roboh. "Waspada saat angin besar. Jangan berteduh di bawah pohon atau bangunan yang rentan roboh," imbuhnya.

Selain itu, Satriyo juga mengingatkan masyarakat mengetahui jalur evakuasi hingga nomor darurat petugas di wilayahnya. Hal ini penting jika terjadi bencana. "Di setiap wilayah, masyarakat harus tahu jalur evakuasi jika terjadi bencana hidrometeorologi. Mengingat dan mencatat nomor darurat petugas di wilayah, agar dapat segera melaporkan jika terjadi bencana," papar Satriyo.

"Tingkatkan kapasitas diri masyarakat dengan mengenal ciri-ciri bencana sehingga tahu harus apa jika terjadi bencana. Dan yang terpenting jangan panik," tambahnya.

Sementara itu, Satriyo menyebut pihaknya juga melakukan beberapa hal. Seperti melakukan rapat koordinasi dengan BPBD di kabupaten atau kota hingga melakukan pemetaan antisipasi dan dampak bencana.

Pihaknya juga telah menyiapkan imbauan kesiapsiagaan ke kabupaten atau kota. Selain itu, BPBD Jatim juga aktif menyosialisasikan imbauan ini melalui media cetak hingga media sosial. Sedangkan dalam waktu dekat, Satriyo menyebut pihaknya berencana akan melakukan apel pasukan dan gelar peralatan.

"Kami sudah melakukan rakortek dengan BPBD kabupaten atau kota dan lintas sektor untuk siaga darurat bencana hidrometeorologi di masa pandemi COVID-19. Kami juga telah melakukan antisipasi dampak dan kebutuhan bencana," pungkas Satriyo.

 

Naiknya Curah Hujan

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa pun menginstruksikan jajaran OPD terkait dalam menghadapi bencana hidrometereologi dan fenomena La Nina. Penegasan itu disampaikan gubernur saat Rapat Koordinasi (Rakor) bersama semua pihak di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim, Rabu (21/10/2020).

Gubernur juga meminta jajaran BMKG, BPBD, Dishub, PU Cipta Karya, Binamarga dan Dinas Sosial untuk bersiap mengantisipasi peningkatan curah hujan tinggi sebagai dampak La Nina. "Bedasarkan data dari BMKG menunjukkan, La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi curah hujan naik 25 persen," ungkapnya.

Mantan Mensos itu juga meminta instansi yang memiliki kemampuan kebencanaan untuk segera memitigasi dari setiap potensi kebencanaa dari hulu hingga hilir. Terutama, pada jalur jalur evakuasi kepada masyarakat jika terdapat bencana banjir, longsor ataupun angin puting beliung.

"Saya minta ini harus di detailkan, baik BMKG, BPBD, Dinsos, Dinas PU Cipta Karya, Dinas Kesehatan, hingga Bappeda dan seluruh instansi kebencanaan untuk mengantisipasi adanya dampak yang terjadi. Ini sesuatu yang kompleks karena kebencanaan yang terjadi dapat mengakibatkan kemiskinan baru," tegasnya.

 

Dari Hulu ke Hilir

Pemetaam mitigasi pun dilakukan secara detail dari hulu hingga hilir. Mulai menghitung seluruh potensi dampak yang ditimbulkan terhadap sektor sosial, ekonomi dan kehidupan masyarakat baik tempat evakuasi, dampak sosial dan ekonomi seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan sebagainya.

"Kalau kita bisa mendetailkan koordinasi secara operasional, akan bagus dalam melangkah menangani kesiapsiagaan bencana. Kami tidak ingin terlambat merespon adanya fenomena La Nina," terangnya.

Menurutnya, di masa Pandemi Covid-19 ini penanganan bencana harus dilakukan secara detail dan terukur.  Ia mengibaratkan, jika terjadi banjir, puting beliung, maupun longsor bisa melakukan evakuasi di mana saja dengan tetap menjaga protokol kesehatan. "Inilah yang membedakan antara antisipasi resiko bencana alam saat ada dan tidak ada pandemi Covid-19. Dalam waktu dekat, kami akan melakukan apel kesiapsiagaan bencanaan bersama semua pihak untuk lebih mengantisipasi dampak dari kebencanaan bisa dipersiapkan dengan detail," jelasnya.

Ia juga menghimbau kepada masyarakat agar tetap berhati- hati terhadap dampak bencana hidrometeorologi. Seperti bencana banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, sambaran petir, pohon tumbang dan jalan licin. "Intinya kami ingin masyarakat tetap waspada namun harus tetap tenang dan jangan panik," imbaunya. mbi/arf/cr3/rmc