•   Jumat, 3 April 2020
Pemilu

2000 Santri Awasi Pilgub Jatim

( words)
Santri-Santri saat ikrar pengawasan Pilgub Jatim di Masjid Al Akbar, kemarin. Foto: SP/RIKO.


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Calon Gubernur Jatim yang berlatar Nahdlatul Ulama tidak akan bisa berbuat curang di pilgub Jatim ini. Pasalnya, Badan Pengawas Pemilu mengerahkan 2.000 Santri dan Santriwati di 38 kabupaten/kota dilibatkan untuk ikut berperan dalam pengawasan pelaksanaan pilkada serentak 2018 dan pemilu 2019 di Jatim.
Keterlibatan santri di 38 kabupaten/kota di Jatim ini, ditandai dengan pembacaan ikrar perwakilan santri dan santriwati dari 5.500 pondok di Jatim. Dan dilakukan penyematan pin dan pemakai spanduk di kepala yang bertuliskan "santri Mengawasi". Acara ini dilaksanakan di Masjid Nasional Al - Akbar pada, Rabu (27/12) malam.
Adapun isi ikrar Santri yaitu, pertama siap berpartisipasi melakukan pengawasan tahapan Pemilu 2018 dan pemilu 2019, kedua menolak money politik pada pemilu 2018 dan pemilu 2019. Ketiga yaitu, menolak kampanye hitam pada pemilu 2018 dan pemilu 2019.
"Ini merupakan partisipatif yang pertama dilakukan oleh Bawaslu dengan melibatkan para santri untuk mengawasi pilkada serentak 2018 dan pemilu 2019 di Jatim," ujar Ketua Bawaslu Jatim, Mohammad Amin ditemui usai penandatanganan deklarasi dengan santri se Jatim.
Lebih lanjut pihaknya menjelaskan, keterlibatan para santri untuk pengawasan pilkada serentak 2018 di Jatim ini. Karena provinsi Jatim ini mengingat banyak pondok pesantren di setiap kabupaten/kota. "Dengan keterlibatan Santri ini diharapkan pelaksanaan pilkada Serentak 2018 di Jatim berjalan dengan sukses, lancar dan damai," ujarnya.
Terkait dengan catatan dari Bawaslu Jatim untuk pelaksanaan pemilukada se Jatim saat ini, ia mengatakan dari beberapa indeks dan masukan dari panwaslu kabupaten/kota ini kerawanan pemilu di pondok pesantren ini banyak ditemukan pelanggaran dan kecurangan, seperti ada santri yang bukan putra daerah tersebut atau kelahiran daerah tersebut mengikuti pemilihan.
Untuk mengantisipasi kecurangan tersebut, maka pihak Bawaslu Jatim melibatkan peran santri untuk melakukan pengawasan pemilu tersebut. "Jadi kami harap tidak hanya para santri saja, tapi juga orang tua santri juga ikut melakukan pengawasan,” ujarnya.
Ia menambahkan, untuk target pertama teknis pengawasan Bawaslu yaitu memberikan bimbingan teknis kepada para santri yang akan dilakukan oleh pihak panwaslu di kabupaten/kota. Mulai pemahaman tentang pelanggaran pemilu dan apa yang dilakukan apabila menemukan pelanggaran tersebut. "Kami ingin Pilkada serentak 2018 dapat berjalan damai, dan tidak banyak terjadi pelanggaran. Kami harapkan para santri dapat berperan besar untuk mewujudkan itu," ujarnya.
Sementara itu perwakilan santri dari Kabupaten Blitar, Mohammad Deka Nasrulloh mengatakan langkah dari Bawaslu dengan melibatkan para santri ini dalam pengawasan pilkada serentak 2018 mendatang merupakan langkah yang tepat. Karena santri ini merupakan kaum yang bersih menjaga utuhnya NKRI. "Dengan merangkul para santri ini insyaallah pelaksanaan pilkada di Jatim 2018 dan pemilu 2019 akan berjalan Damai, aman dan bersih," ujar santri dari pondok Al kamal.
Anggota Bawaslu RI, Muhammad Afifudin mengapresiasi positif langkah Bawaslu Jatim yang telah menggandeng santri di Jatim untuk ikut terlibat dalam pengawasan pilkada serentak 2018 dan pemilu 2019. "Menggandeng dalam jumlah santri terbanyak dan diselenggarakan di Masjid nasional Al Akbar ini merupakan langkah pertama di Indonesia. Dan diharapkan itikad baik ini membawa hasil yang bagus untuk pengawasan pilkada serentak 2018 dan pemilu 2019, berjalan dengan damai dan lancar,” tegasnya. rko

Berita Populer