Warga Paciran saat mengarak gundukan ketupat dalam acara festival kupatan dalam rangka Hari Rata Ketupat di WBL FOTO:SP/MUHAJIRIN KASRUN

SURABAYA PAGI, Lamongan - Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, warga pesisir di Lamongan selalu merayakan hari raya ketupat, dengan berbagai acara mulai karnaval, lomba menghidangkan kupat sampai arak gundukan kupat, di area Wisata Bahari Lamongan (WBL), Kamis (13/6/2019).

Selain mengarak ketupat, sejumlah kesenian, diantaranya jaranan, tongklek dan lainnya juga turut memeriakan acara gebyar ketupat itu. Diperkirakan ada seribu masyarakat dari luar Lamongan yang turut menyaksikan acara tersebut.

Sementara gundukan kupat yang menyerupai menara masjid itu di arak dari terminal Paciran menuju Wisata Bahari Lamongan (WBL), dengan diikuti peserta karnaval yang menggunakan berbagai busana khas Sunan dalam penyebaran Islam di Lamongan, khususnya di wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lamongan, Ismunawan dalam kesempatan acara kupatan tersebut, mengaku acara ini hampir dilakukan setiap tahun, dengan berbagai event pertunjukan hiburan kesenian, karnaval hingga penyajian berbagai macam masakan dari bahan lepet dan lontong.

"Acara ini setidaknya bisa membantu pihak pengelola wisata, untuk mendorong para wisatawan bisa menikmati wisata di WBL sambil melihat acara kupatan yang kental dengan budaya dan syiar penyebaran Islam di wilayah pesisir," terangnya.

Sebelumnya masyarakat Paciran dan sekitarnya dalam merayakan hari raya kupatan ini secara sendiri-sendiri, dengan mengelar selamatan di rumah mereka masing-masing. Namun karena banyaknya faktor yang menyebabkan budaya ini terkikis oleh digitalisasi zaman.

Hingga akhirnya muncul sebuah ide, agar budaya ini terus dilestarikan dengan cara dibuat sebuah festival. "Kegiatan ini baru empat tahun berjalan. Dan sebelumnya masyarakat Paciran tidak mengadakan acara seperti ini," katanya.

Pelestarian budaya yang terus dijalankan setiap tahunnya ini, juga merupakan upaya pemerintah Kabupaten dalam mempromosikan wisata bahari di pesisir pantai utara laut Jawa tersebut. Saat ini sudah terdapat beberapa objek wisata baik buatan maupun alam yang sudah mulai menjamur di Lamongan khususnya di Paciran. "Intinya dengan melestarikan budaya tersebut akan mampu menarik wisatawan," ungkapnya.

Lebih jauh Ismunawan menyebutkan, tradisi yang baru digaungkan selama 4 tahun belakangan ini, adalah sebagai bentuk untuk menghormati jasa Raden Nur Rahmat atau yang biasa disapa Sendang Duwor dalam menyebarkan agama Islam di wilayah pesisir pantai utara laut Jawa.

Konon kata Ismunawan, dahulunya Raden Nur Rahmat diberikan dua buah masjid oleh Mbok Rondo Mantingan. Masjid tersebut bisa menjadi milik Raden Nur Rahmat asal Raden Rahmat asal dalam hitungan satu hari masjid tersebut harus sudah pindah dari tempat asal.

"Jadi di titik ini Tanjung kodok ini dahulunya ada dua masjid dan diangkut oleh Raden Nur Rahmat ke atas atau di sendang suwir," ujar pria yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala BKD Lamongan ini.

Alhasil Raden Nur Rahmat yang mempunyai kelebihan, pun bisa memenangkan sayembara tersebut. Masjid-masjid yang diberikan oleh Mbok Rondo Mantingan berhasil ia angkut ke atas. Anehnya masjid tersebut dibawa naik ke atas oleh beberapa ekor katak.

"Konon dahulunya kawanan katak-katak itulah yang membawa masjid itu naik ke gunung atau di sendang duwur, yang berada di atas sana," pungkasnya. jir


Warga dengan busana khas Sunan Dukur saat mengikuti festival ketupat di WBL.