•   Rabu, 17 Juli 2019
Peristiwa Nusantara

3 Bulan ini, Ribuan Istri di Surabaya Ceraikan Suami

( words)


Ingin menikahi gadis-gadis Surabaya, tak cukup bermodal tampang keren. Tapi juga harus cukup modal dan mental. Jika tak memiliki itu dan nekat mengajak berumah tangga, jangan kaget digugat cerai. Fenomena inilah yang terjadi saat ini. Perkara perceraian di Pengadilan Agama (PA) Surabaya, mayoritas diajukan pihak istri. Tak heranhanya dalam tempo tiga bulan ini, ada ribuan janda baru di Surabaya. Tepatnya 1.412 istri yang cerai dari suaminya.
----------------
Hermi,
Wartawan Surabaya Pagi
Siapa pun tak ingin rumah tangga yang telah dibina retak dan berakhir perceraian. Namun, jika pasangan suami istri (pasutri) terus menerus hidup tak harmonis, perceraian justru dianggap jalan terbaik. Seperti dialami Siti (39 tahun), sebut saja begitu. Perempuan berkulit putih dan tinggi semampai ini terpaksa menggugat cerai di PA Surabaya, lantaran merasa tertipu oleh suaminya.
Padahal, dari pernikahan yang dilangsungkan pada 2015 silam, sudah dikaruniai satu orang anak yang saat ini berusia satu tahun. “Saya ini bekerja sebagai distributor obat (detailer) di rumah sakit di Surabaya. Sehari-harinya banting tulang demi kebutuhan hidup. Tapi suami saya malah sukanya ke warung kopi,” ungkap Siti saat mengurus percerainnya di PA Surabaya, akhir pekan kemarin.
“Saya benar-benar tertipu,” lanjutnya. Ia kemudian menceritakan awal mula perkenalannya dengan suaminya itu. Saat itu, Siti diperkenalkan sosok laki-laki oleh rekan satu pekerjaan dengannya. Laki-laki itu yang saat ini menjadi suaminya diceritakan sebagai orang yang baik, sabar, pekerja keras, penolong, dan bertanggungjawab.
Ia lantas penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam tentangnya. Termasuk pekerjaan yang dikatakan suaminya saat sebelum nikah bahwa dirinya memiliki bisnis mebel yang penghasilannya Rp 5 juta per bulan. “Pada tahun 2015 akhirnya menikah. Inginnya pernikahannya itu ya sakinah, mawaddah warahmah. Namun, setelah menikah semua kebenaran baru terbuka,” ungkapnya.
Faktanya, lanjut Siti, suaminya tidak mempunyai pekerjaan sama sekali alias pengangguran. Padahal saat perkenalan dulu mengaku sebagai pengusaha mebel. Saat menikah, suaminya bilang baru saja bangkrut. “Meski merasa dibohongi, tapi karena sudah telanjur menikah, saya mencoba sabar dan memberi nasihat kepada suaminya untuk berusaha mencari nafkah bersama-sama untuk kebutuhan hidup bersama,” tutur Siti.
Ia bahkan membantu suaminya untuk memasarkan produk-produk mebelnya, seperti kursi ruang tunggu, meja, lemari, dan lainnya. “Saya kan marketing, ya sekaligus memasarkan obat-obatan ke rumah sakit gitu,” ucap dia.
Setelah Siti mendapatkan order dari relasinya untuk membeli barang-barang mebel itu, teryata suaminya beralasan tidak mempunyai CV. Padahal dulunya ngaku mengurus tender di lembaga pemerintahan. “Jadi saya benar-benar merasa dibohongi, malu rasanya,” kata Siti yang terlihat geram.
“Sampai saat ini suami saya itu tidak mau bergerak untuk bekerja. Sehari-hari keseringan tidur di rumah, pergi ke warung kopi dan cangkuran bersama teman-temannya,” lanjutnya.
Saat Siti berusaha mengingatkan suaminya untuk bekerja, jawabannya malah menyakitkan. “Dia bilang buat apa bekerja kalau kamu sudah kerja. Dia gak merasa bersalah, padahal tidak pernah memberi nafkah istrinya," tandasnya.
Begitu juga, saat Siti hamil beroperasi untuk melahirkan anaknya. Suaminya tidak membiayai operasi itu. Bahkan selama 4 bulan suaminya tidak mengunjungi dirinya. “Dia bilang anak belum tentu menghasilkan dan pada saat dewasa belum tentu berbakti kepada orangtua. Jawaban apa orang macam itu,” cetus dia.
Lantaran tak bisa diharapkan lagi, ia terpaksa menempuh gugatan cerai. Alasannya bukan hanya karena suaminya tidak memberi nafkah. Tapi juga tak memperhatikan sang buah hati. Apalagi suaminya sudah kabur dari rumah. "Suami saya tidak bertanggung jawab atas anak dan istrinya, jadi dia sudah pergi. Hampir setahun tanpa memberi nafkah sama sekali. Jadi ngapain mau dipertahankan? Urus anak dan keuangan, saya biasa mandiri," tegas Siti.
Masalah Gender
Wakil Ketua Pengadilan Agama Surabaya Moh. Mujib mengatakan penceraian yang diajukan pihak istri lebih banyak dibandingkan pihak suami. Menurutnya, hal itu menunjukkan perempuan sekarang sudah cerdas dan menuntut persamaan gender. Berbeda dengan zaman dahulu yang hanya diam dan tidak menggugat apapun meski suaminya kurang bertanggungjawab.
"Macam-macam alas an istri gugat cerai. Suami tidak konsisten sebagai kepala rumah tangga, istri pergi ke Pengadilan. Mindsset wanita sekarang sudah maju, sudah mengetahui persamaan hak dan kewajiban suami istri. Kalau dianiaya, dikhianati, langsung ke pengadilan (gugat cerai)," papar Mujib dikonfirmasi Surabaya Pagi, Minggu (14/4/2019).
Faktor Cerai
Mujib yang juga hakim Pengadilan Agama ini menambahkan berdasarkan data perkara penceraian dari bulan Januari hingga Maret 2019, sudah ada putusan cerai sebanyak 1.412. “Jadi selama 3 bulan ini. "Ada 410 perkara untuk cerai talak yang diajukan suami, dan 1.002 untuk gugat cerai yang diajukan istri, sehingga totalnya 1412 perkara," beber dia.
Kata Mujib, faktor penceraian tersebut mayoritas karena masalah ekonomi. Kemudian, tidak ada keharmonisan dan gangguan pihak ketiga (selingkuh). Selanjutnya, masalah kekerasan dalam rumah tangga sehingga mereka melakukan penceraian. "Faktor ekonomi jelas berpengaruh. Faktor X dalam sebuah penelitian masing-masing mempengaruhi seperti orang ketiga," pungkanya. n

Berita Populer