•   Rabu, 17 Juli 2019
Bisnis Makro

Ekonomi & Ibu Pertiwi Diperkosa, Luhut – Prabowo Panas

( words)
Luhut Binsar Panjaitan tanggapi pernyataan kontroversial Prabowo Subianto. (Foto: SP/IST)


SURABAYAPAGI.com - Luhut menyindir balik Calon Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pemerintah kerap membanggakan pertumbuhan ekonomi sebesar lima persen yang sebenarnya tak pernah dirasakan masyarakat
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyindir balik calon presiden Prabowo Subianto terkait pernyataannya soal pertumbuhan ekonomi. Luhut menegaskan pertumbuhan ekonomi saat ini adalah capaian bagus di tengah penurunan harga komoditas dan gejolak global.
"Jadi kalau ada yang bilang ’pertumbuhan ekonomi 5 persen bagus itu ndasmu,’ ya yang ngomong itu yang ndasmu," katanya, Senin (8/4).
Prabowo dalam orasi politiknya pada pekan lalu menyindir pemerintah kerap membanggakan pertumbuhan ekonomi sebesar lima persen. Padahal, menurut dia, pertumbuhan ekonomi itu tak pernah dirasakan masyarakat.
"Elite sana itu kalau ngomong ekonomi bagus, pertumbuhan bagus, terus harus pakai logat asing gitu ngomongnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah lima persen. Lima persen ndasmu," ujar Prabowo.
Menurut Luhut, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tertahan di kisaran lima persen disebabkan oleh kondisi ekonomi global. Selain itu, ini juga merupakan dampak dari upaya Presiden Joko Widodo yang tengah mendorong pertumbuhan wilayah Indonesia Timur melalui infrastruktur dan kebijakan BBM satu harga.
"Ini salah satu yang berakibat ekonomi kita 5 persen di samping global ekonomi, kita masih tertahan. Tapi 6 persen growth (pertumbuhan ekonomi) itu bukan hal yang susah," paparnya.
Ia pun menyanggah pernyataan Prabowo yang menyebut Ibu Pertiwi sedang ’diperkosa’ mengacu pada kondisi sumber kekayaan alam dan hak rakyat yang dirampas. Menurut dia, seluruh indikator makro ekonomi mencerminkan kondisi yang baik.
"Jadi kalau orang bilang ibu pertiwi diperkosa, mungkin diperkosa dia kan. Ini yang Anda lihat semua data-data yang kami ambil bukan data sembarang," katanya Senin (8/4).
Selain data pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan, angka ketimpangan ekonomi menurut dia juga berangsur turun. Presiden Joko Widodo juga banyak mengeluarkan kebijakan yang diperuntukkan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Luhut juga membantah pernyataan Prabowo yang menyebut harga kebutuhan pokok yang tinggi. Menurutnya, pemerintah telah berupaya untuk menciptakan keseimbangan antara harga di produsen dan konsumen.
"Bagaimana kalau menurunkan harga komoditas tiba-tiba, beras misalnya. Harga di produsen atau petani bagaimana? Nanti menjerit lagi. Jadi bernegara itu tidak sekadar marah-marah," pungkasnya.

Berita Populer