Ceo dan Founder Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, saat memaparkan hasil survei nasional di Hotel Oria, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin. (Foto: SP/IST)

SURABAYAPAGI.com - Lembaga Alvara Research Center merilis hasil survei mengenai elektabilitas calon presiden-calon wakil presiden, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Berdasarkan hasil survei, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin unggul hampir di semua area kepulauan di Tanah Air.

"Jokowi-Ma’ruf unggul dengan elektabilitas lebih dari 50 persen, sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno hanya unggul di Sumatera dengan selisih yang tidak begitu jauh," tutur CEO Alvara, Hasanuddin Ali dalam jumpa pers di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat (15/3).

Hasan menjelaskan di Sumatera, Prabowo-Sandi unggul 46,3 persen dibanding Jokowi-Ma’ruf 40,2 persen. Di Pulau Jawa, Jokowi-Ma’ruf unggul dengan 58 persen dibanding Prabowo-Sandi 29,4 persen.

Di Bali, Jokowi-Ma’ruf unggul 60,6 persen dibanding Prabowo-Sandi 36,4 persen. Di Kalimantan, Jokowi-Ma’ruf unggul 50,7 persen dibanding Prabowo-Sandi 38,4 persen. Sedangkan di Sulawesi pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul 58,1 persen dibanding Prabowo-Sandi 36 persen. Di Papua, Jokowi-Ma’ruf juga unggul 54,4 persen dibanding Prabowo-Sandi 39,4 persen.

Hasan juga menjelaskan elektabilitas kedua pasangan calon bisa mengalami perubahan namun tidak mengubah posisi keduanya. Menurut dia, perubahan elektabilitas akan terjadi jika adanya peristiwa yang bisa mengubah pilihan masyarakat.

"Melihat tren dari bulan Agustus 2018 hingga survei ke-4 di akhir Februari 2019, dalam kondisi yang normal, prosentase elektabilitas pasangan kandidat dalam satu bulan mendatang bisa saja berubah, namun diprediksi tidak akan merubah posisi. Kondisi ini berlaku jika tidak ada sebuah perlakuan maupun peristiwa yang merubah persepsi, perilaku, dan emosional pemilih," tuturnya.

Dalam melakukan survei, Alvara menggunakan multi-stage random sampling terhadap 1.201 responden berusia 17 tahun ke atas dan mempunyai hak pilih. Sampil diambil dari 34 provinsi di Indonesia yang proporsional dari jumlah masyarakat dari setiap wilayah. Margin of error sebesar 2,8 persen dan tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.