Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan saat memberikan keterangan. (Foto: SP/IST)

SURABAYAPAGI.com - Zulkifli Hasan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menegaskan, Pemilu adalah kontestasi politik biasa yang berlangsung tiap lima tahun sekali.

Dalam Pemilu yang demokratis, rakyat bebas untuk memilih siapa yang dinilai layak mewakilinya di kursi legislatif, dan siapa pasangan calon presiden yang terbaik versinya masing-masing.

Usai melantik empat anggota MPR RI penggantian antar waktu (PAW), Kamis (14/03/2019), di Komplek Parlemen, Senayan, Zulkifli menyatakan tidak sependapat dengan pihak-pihak yang mengibaratkan Pemilu seperti perang.

Dengan tegas, Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) menyebut nama Neno Warisman yang sempat memicu kontroversi karena membacakan puisi ’Perang Badar’ pada acara Malam Munajat 212, Kamis (21/02/2019), di Lapangan Monas.

Zulkifli juga keberatan dengan istilah ’Perang Total’ yang digunakan Moeldoko Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin pasangan calon presiden nomor urut 01.

"Pemilu itu bukan Perang Badar, bukan Perang Total. Jadi, saya kritik keras Pak Moeldoko dan Mbak Neno (Warisman). Sederhananya, pemilu bertujuan memperbarui komitmen para pemimpin terhadap kepentingan rakyat. Kalau seorang pemimpin dianggap memiliki kinerja yang baik, maka rakyat dapat memilihnya kembali," tandas Zulkifli.