?Catatan Politik Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior Surabaya Pagi)

Suka atau tidak, Rocky Gerung RG), telah menjadi sosok yang kontroversial dalam kancah politik praktis selama masa kampanye Pilpres 2019.

Tak sedikit yang menebak RG itu seorang akademisi dari Universitas Indonesia Jakarta. Tetapi tahun 2018, status sebagai dosen UI dibantah oleh Rektor UI, Prof. Muhammad Annis.

Dalam Wikipidea bahasa Indonesia, RG dicatat sebagai seorang filsuf, akademisi dan intelektual publik Indonesia. RG juga dicatat pernah mengajar di Universitas Indonesia dan merupakan salah satu pendiri Institut Setara.

Lalu, posisi RG, yang kini mulai ditanggap ke berbagai kota di Indonesia, itu tepatnya sebagai pengamat politik, akademisi atau partisan malu-malu?.

Mengikuti argumentasi di forum diskusi ILC setiap hari Selasa, akal sehat saya berkata RG, tidak layak dianggap pengamat politik. Mengapa?.

Akal sehat saya berbisik bahwa untuk menjadi pengamat yang baik, seseorang harus netral.

Secara keilmuan, tugas pengamatan tidak boleh melibatkan perasaan atau penilaian personal. Maklum, akal sehat saya menyerap bahwa pengamat politik yang menyentuh perasaan personal, pendapat pribadi, dan prasangka, tidak akan melihat apa yang sebenarnya ada.

Akal sehat saya meyakini pengamat politik yang hanya melihat obyek yang terdistorsi oleh persepsinya cenderung partisan politik. Mengingat, seorang pengamat politik yang baik, mesti mau mengabaikan perasaan personal. Pada dirinya dituntut melihat segala hal dengan apa adanya.

Ini penting dimiliki oleh setiap pengamat politik agar masyarakat percaya dengan pembahasan yang diberikan. Akal sehat saya berkata, pengamat politik itu mesti memberikan hasil pemikiran untuk kebaikan bangsa ini berdasarkan profesionalitas bidangnya. RG yang filsuf, mesti taat pada disiplin ilmunya, bukan mengomentari semua bidang. Tipe pengamat semacam ini cocok dinamai pakar balsam.

***

Pantaskah RG, yang seperti sekarang masih layak dianggap sebagai akademisi? Akal sehat saya mengatakan, seorang yang berpikir akademik meski ia bukan dosen, mesti tidak melupakan etika dan budaya akademik. Ini pelajaran yang saya catat dari dosen filsafat ilmu dan filsafat hukum.

Apalagi untuk budaya akademik sekelas UI yang sudah lama dikenal sebagai Perguruan Tinggi yang mengembangkan nilai-nilai pendidikan karakter bertajuk “Growing with Character”.

Jujur, meski saya pernah mengajar di depan mahasiswa, saya bukan dosen. Selama saya kuliah hingga tingkat doktoral, saya menhargai budaya akademik dari beberapa profesor.

Budaya akademik bagi saya tak bisa dilepaskan dari budaya kampus (campus culture). Budaya ini saya serap tidak hanya untuk meningkatkan intelektual mahasiswa dan apalagi dosennya, tetapi juga kejujuran, kebenaran dan pengabdian kepada kemanusiaan.

Nah, apakah RG, yang dalam setiap diskusi di ILC, selalu nyinyir terhadap paslon 01, menurut akal sehat saya tidak merealisasikan nilai-nilai karakter positif. Ini bila RG berangkat menggunakan sudutpandang seorang akademisi.

Menyimak berulang-ulang komentar-komentarnya., RG, tidak bisa menghindar dirinya cenderung lulusan filsafat UI yang partisan pada Prabowo-Sandi.

RG, meski berkali-kali mengklaim bukan pendukung Prabowo-Sandi, pernyataan-pernyataannya tidak bisa disembunyikan bahwa RG ‘’pengikut’’ paslon 02.

Nyatanya, dalam beberapa kegiatan forum diskusi di daerah-daerah, RG mudah dikenali telah tergabung atau aktif dalam gerakan pemenangan Prabowo-Sandi.

***

Pernah ada survei tahun 2017 tentang kepercayaan atas lembaga-lembaga besar. Peringkat terendah ditempati partai politik (45%), parlemen (55%), pengadilan (65%), dan media massa (67%). Bahkan peringkat kepolisian Indonesia terkenal korup (70%) mengalahkan pers.

Dengan survei ini, kredibilitas pengamat politik meski terendah, posisinya dicatat kurang dipercaya oleh publik.

Akal sehat saya menyerap komentator-komentator RG, yang berani mengomentasi semua permasalahan publik, tidak mencerminkan disiplin seorang akademisi berilmu filsafat.

Dalam sejumlah komentar di ILC, pernyataan RG, menurut akal sehat saya tak ubahnya sebuah retorika yang kontroversial seperti ‘’bikinan’’ tim PR (public relations) paslon 02.

Pernyataannya mirip pernyataan sarjana media Eric Louw, bahwa yang terjadi sepanjang dekade politik praktis adalah "PR-isasi politik". Artinya, ada kerja-kerja ‘’tim humas’’ yang berperan signifikan dalam politik.

Pada banyak komentar, akal sehat saya menyebut gaya komunikasi RG lebih informal dan kelihatan menonjolkan efek personal.

Akal sehat saya menilai, RG ini, tercatat sebagai akademisi, tapi selama kampanye Pilpres 2019, cenderung berpenampilan sosok pemalu menyebut bagian dari tim sukses paslon 02.

Pemahaman akal sehat saya, ini melihat sosok RG cenderung pemalu mengakui dirinya selama ini memiliki keberpihakan pada paslon 02.

Pemalu yang saya maksudkan ini tidak terkait dengan kondisi fobia sosial atau introvert. Pemalu yang saya gambarkan bukan sifat atau kepribadian saat RG merasa canggung atau khawatir dalam situasi sosial tertentu.

RG, menurut akal sehat saya, malu-malu mengaku bahwa dirinya berada dalam lingkaran tim sukses Prabowo-Sandi. Padahal, RG menyuarakan kepentingan paslon 02. Apalagi saat saya akan berdiskusi dengannya satu panggung di Surabaya.

Akal sehat saya menilai sifat malu-malunya seperti ini bisa berperan ganda yaitu tidak ingin ditebak secara vulgar ia sebenarnya bagian dari jaringan pendukung Prabowo- Sandi.

Ini karena pilihan RG, bukan karena rasa takut yang dimiliki RG.

Saat diskusi yang disiarkan tvOne (public speaking), akal sehat saya menebak RG sebenarnya bukan pemalu, tapi malu-malu dituding pengamat politik yang tidak “netral”.

Dalam beberapa kali saya mengamati di ILC tvOne, RG, saat memulai bicara kadang sedikit gugup. Tapi, pada akhirnya, RG masih bisa melanjutkannya, bahkan mulai merasa nyaman beberapa menit kemudian.

Dari penampakan di ILC ini, RG bukan menunjukan orang yang punya gangguan kecemasan sosial, yang suka gelisah. RG, meski jarang mengutip teori-teori seperti umumnya akademisi, suka bicara dengen ‘’pede’’ menyebut orang lain dengan dungu dan kedunguan. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)