Mujahidin, perajin sepatu di Kampung Sepatu Tambak Osowilangun. Foto: SP/Prila Sherly

Industri rumahan perajin alas kaki di kawasan Surabaya perlahan menghilang satu persatu. Tidak hanya karena banyaknya pabrik besar yang menyediakan produksi massal. Namun, minat remaja menekuni usaha turun temurun ini sudah luntur. Ini pula yang terjadi di kampung sepatu Kelurahan Tambak Osowilangun, Kecamatan Benowo, Surabaya.

------

Karena keturunan dari para perajin tidak menginginkan untuk melanjutkan usaha orang tuanya, membuat usaha sepatu dan sandal di kampung ini mulai sepi. Ssemakin lama, mereka kekurangan sentuhan tangan perajin alas kaki. Padahal, di Kelurahan Tambak Osowilangun, terdapat kurang lebih 50 pengrajin alas kaki.

Kini, para pengrajin semakin berumur dan menua yang lalu meninggal dunia, tanpa anaknya mau melanjutkan usahanya. Salah satu pengrajin alas kaki yang bertempat tinggal di Gang X, yakni Muhajidin. Ia mengaku ketiga anaknya tidak ingin melanjutkan usaha orang tua.

Ia menyampaikan bahwa tetangganya yang merupakan pengrajin alas kaki telah meninggal dunia. Keturunan dari tetangganya tidak ingin melanjutkan usaha orang tuanya sehingga terpaksa berhenti.

“Anak anak saya juga tidak ingin menjadi pengrajin seperti bapak dan ibunya, alasan utamanya karena sudah jenuh. Maka dari itu, lebih memilih menjadi salah satu buruh pabrik di sekitar sini saja”, ungkap Mujahidin saat ditemui Surabaya Pagi, Jumat (18/1) kemarin.

Usaha yang telah didirikannya sejak 1983 kini mengalami penurunan produksi akibat sedikitnya tenaga kerja bantuan. “Sekarang ini saya hanya mampu memproduksi sepuluh kodi yang dikerjakan bersama saudara, istri, dan tetangga saja. Padahal dulu bisa mencapai 50-100 kodi dengan bantuan pekerja dari Jombang dan Tulungagung”, ujar Mujahidin.

Hasil produksi milik Muhajidin dibawa oleh pihak pengepul yang kemudian dikirimkan ke Pasar Turi, Jalan Semarang, hingga Bali. Dirinya mengaku produksi alas kakinya tidak sampai diekspor ke luar negeri. Paling jauh hanya luar pulau. Pihak Pemerintahan Kota Surabaya belum memberikan bantuan dalam hal pemasaran.

Ia menjelaskan pernah mendapatkan bantuan dalam bentuk uang sebagai modal dan mesin jahit dari Pelindo. Sedangkan, Disperindag memberikan bantuan mesin jahit yang sudah sejak dua tahun lalu lamanya. “Saya berharap semoga saja Pemerintah Kota Surabaya bisa membantu kami dalam hal apapun untuk mengembangkan usaha”, kata Mujahidin. n