MARIANI Tanubrata alias Swee Ing dan Welly, anaknya, ternyata tidak hanya dilaporkan oleh Andrias Thamrun dan Go Giek Fe. Pemilik factory outlet elektronik “Gunung Sari Intan” di Jalan Kertajaya ini, rencananya Jumat (7/12/2018) hari ini akan dilaporkan Ny. Sikki, istri mantan Pangdam V/Brawijaya Ahmad Djunaidi Sikki, ke Polda Jatim.


Mariani Tanubrata alias Swee Ing

Seorang pengacara Surabaya membenarkan Swee Ing, diduga sudah menipu Ny. Sikki. “Swee Ing, ngaku kenal baik dengan bu Sikki. Tapi disalahgunakan. Kerugian bu Sikki, saya dengar lebih besar dari kerugian saya,” ungkap Andrias, yang dalam laporan ke Polrestabes kemarin mengaku dirugikan Welly, anak Swee Ing, sebesar Rp 10 miliar. Masing-masing tertipu Welly dengan modus hutang dan jual property dengan jumlah berbeda. Andrias Thamrun merasa ditipu hingga Rp 10 Miliar. Modus operandinya antara lain menggadaikan sertifikat Ruko ke Bank, tetap dijual ke Andrias. SedangkanGo Giek Fe tertipu cek kosong. Andrias mengatakan, Swee Ing, ibu dari Welly, merupakan teman lamanya dan istrinya, juga sering meminjam ke beberapa orang penting. Salah satunya pernah meminjam ke istri mantan Pangdam V/Brawijaya Ahmad Djunaidi Sikki (mantan Pangdam V/Brawijaya periode 2000-2005). “Dia (Mariani) itu sering cerita-cerita ke saya, juga ke istri saya. Kalau dia itu dekat dengan pak Sikki dan istrinya. Juga sering pinjem juga itu ke istrinya (A.D. Sikki, red),” cerita Andrias terkait perbuatan Swee Ing, ibu dari Welly itu. Namun, tambah Andrias, dari pengakuan Mariani, pinjaman ke istri A.D. Sikki itu ada yang sudah dibayar, tapi kabarnya juga ada yang belum. “Tapi ceritae, wis dibayar sama Mariani. Bener gaknya, saya gak tau,” tegas Andrias.


Welly Tanubrata

Setengah hari tak ada Pembeli Sementara, Surabaya Pagi Kamis (6/12/2018) kemarin juga mencoba undercover ke tempat usaha Welly Tanubrata “Gunung Sari Intan” yang terletak di Jalan Kertajaya 53 Surabaya. Dari pantauan Surabaya Pagi, Kamis siang kemarin terlihat lengang. Toko yang sudah berdiri sejak tahun 1998 itu semakin menua bersama waktu. Hampir setengah hari Surabaya Pagi memantau toko perlengkapan elektronik, belum nampak satu pun pengunjung datang. Waluyo, salah seorang warga sekitar menyebut, jika toko tersebut dikabarkan sedang dalam kondisi tak sehat lagi, beberapa karyawan terdengar sambat, suatu waktu di warung kopi. Mulai dari gaji terlambat, hingga pemutusan hubungan kerja demi mengurangi defisit perusahaan yang kian hari kian besar. "Sepi mas, memprihatinkan, mau ambruk, gak kayak dulu, gajinya sering terlambat juga" kata Waluyo saat berbincang dengan Surabaya Pagi, Kamis (6/12/2018).


Kondisi Gunung Sari Intan, Kamis (6/12/2018) siang kemarin, terlihat sudah tak terawat dan sepi pengunjung. (Foto: SP/Dimas Maulana)

Welly Jarang ke Toko Ternyata kondisi yang diceritakan Waluyo memang tak jauh dari situasi yang saat ini terlihat diluar gedung empat lantai itu. terlihat dua satpam berpakaian safari hitam asyik berbincang sambil membunuh waktu, sesekali karyawan berpakaian kemeja orange kombinasi abu turut nimbrung dalam percakapan. Surabaya Pagi, mecoba menghampiri, menanyakan langsung bagaimana sebenarnya kondisi perusahaan yang dirintis oleh keluarga Tanubrata ini. "saya tidak tahu mas, soal hutang. Tapi disini memang karyawan banyak yang keluar, masalah gaji, Pak Welly jarang kesini," singkat Seorang karyawan. Jual Barang Stock Lama Tak puas dengan keterangan pendek ini, Surabaya Pagi mencoba kembali menggali informasi lagi. Seorang karyawan lainnya menyebut jika Perusahaan itu sedang tidak berjalan dengan baik. Dari dua puluhan lebih karyawan, kini hanya tinggal sebanyak sepuluh karyawan saja. Gedung lima tingkat tersebut tak terisi barang sepenuhnya. Hanya beberapa item lama yang terpanjang di tiga lantai dari jumlah lantai gedung tersebut. "Perusahaan sedang tidak berjalan, Ini stok lama semua, cuma tiga lantai yang dipakai, karyawan juga barusan banyak yang keluar. Tinggal sepuluh orang saja," kata karyawan laki-laki yang tak mau disebut namanya. Jual Ruko Pasca Gadaikan Sertifikat Perusahaan milik Welly Tanubrata ini, kata tetangganya, cukup terkenal di era awal 2000an. Perusahaan ini awal-awalnya menyediakan aneka macam kebutuhan elektronik. Mulai dari kebutuhan dapur, interior hingga suporting digital media pun ada di toko empat lantai ini. Banyaknya pesaing yang tumbuh dan berkembang di awal tahun 2011 hingga sekarang ini membuat Welly Tanubrata memutar otak. Pengusaha yang tinggal di Kertajaya Indah Timur itu pun tak segan berhutang kepada koleganya. Hutang yang menumpuk, dan perusahaan yang semakin sepi membuat ia tak sepenuhnya ingin menuntaskan uang yang telah dipinjamnya. Hal ini sinkron dengan dua laporan polisi yang dibuat oleh dua orang yang merasa menjadi korban penipuan oleh putra dari Mariani Tanubrata alias Swee Ing itu. Keduanya adalah Andrias Thamrun dan Go Giek Fe. Masing-masing tertipu Welly dengan modus hutang dan jual properti dengan jumlah berbeda. Andreas Thamrun merasa ditipu hingga Rp 10 Miliar. Modus operandinya antara lain menggadaikan sertifikat Ruko ke Bank, tetap dijual ke Andreas. SedangkanGo Giek Fe tertipu cek kosong setelah Welly berhutang padanya dengan jumlah 80 juta rupiah. Welly: Saya Repot Surabaya Pagi, Kamis (6/12/2018) kemarin juga mengkonfirmasi lagi kepada Welly Tanubrata. Konfirmasi terkait laporan atas dugaan penipuan dan penggelapan oleh Andrias Thamrun dan Go Giok Fe. Dihubungi melalui pesan WhatsApp, Welly enggan mengomentari lebih dalam. Bahkan saat ditanya terkait kondisi toko elektronik Gunungsari Intan yang saat ini mulai sepi, terkesan bungkam. "Maaf mas, saya masih repot," jawab singkat Welly, melalui pesan singkatnya.