M Mufti Mubarok (Alumni 212 dan Pengasuh Ponpes Bumi langit Sidoarjo)

Dahsyatnya reuni aksi damai 212 tahun 2018 akhirnya sukses di gelar setelah menjadi pro kontra dimana mana. Massa jutaan umat tumplek blek mamadati Monas dari seluruh penjuruh Indonesia dan dunia. Reuni ke 2 ini sejatinya menjadi agenda rutin tiap tahun sejak digelar petama kali tahun 2017 yang berlangsung damai, aman, tertib dan bersih. Peristiwa langka ini dilaksanakan untuk memperingati aksi bela umat tiga tahun lalu tepatnya 2 Desember 2016.

Reuni aksi damai tahun 2018 ini menjadi sangat istimewa karena berbarengan dengan tahun politik yang kian mamanas. Tema yang di usung adalah aksi bela tahuhid dan bela NKRI. Sehingga semua umat dari golongan manapun dapat hadir. Reuni 2018 sebenarnya acara reuni biasa biasa saja. Namun karena dinilai ada banyak kepentingan yang ikut nimbrung di belakangnya maka kegiatan ini menjadi ramai, maklum pemilu 2019 sudah di depan mata.

Saya menyaksikan sejak reuni pertama dan kedua, ada perbedaan yang mencolok, reuni 2018 ini paling dasyat dan massa yang berkumpul hampir setara dengan aksi 212 tahun 2016. Sementara reuni 2017 biasa biasa saja dari segi massa dan agenda yang dibahas. Peristiwa besar kaum muslimin ini membuat simpati banyak tokoh baik nasional maupun internasional. Aksi yang di hadiri jutaan umat ini berpusat di satu titik ibu kota berlangsung damai, aman dan bersih, tujuan utamanya adalah pergerakan umat dalam menuntut hak hak kemanusiaan yang jika dibandingkan dengan aksi lain yang pernah ada tidak ada tandingannya di dunia.


Spirit gerakan ini awalnya terjadi karena adanya peristiwa pillkada DKI 2016, namun ghiroh keagamaan ini telah melahirkan gelora semangat jihad yang besar. Para jamaah dengan sadar diri dan ikhlas terkadang tak perduli halangan apa pun, baik yang berasal dari penguasa, aparat maupun pihak pikak yang tidak mendukung.

Banyaknya umat yang hadir dengan cara apapun, ada yang rela jalan kaki, naik motor, kereta, bus dan angkot bahkan ada yang rela menyewa pesawat dari penjuru nusantara. Hingga peristiwa super besar ini patut untuk diperingati dan menjadi sejarah baru Indonesia, setidaknya Monas dan Jakarta menjadi lautan putih putih jutaan umat.

Setidaknya ada 5 (lima) hal penting dalam melihat fenomena peristiwa aksi damai ini : Pertama adalah pesta umat beragama yang haus akan pertemuan yang berskala besar yang dihadiri umat biasa dari seluruh penjuruh tanah air. Ada rasa gembira bertemu dengan jutaan saudara sesama agama, ada penjual kaki lima dimana mana, ada solidaritas bersama yang terbangun. Dengan baju serba putih membawa atribut reuni 212 rasanya hati menjadi tentram menyaksikan acara tahunan yang menghebohkan ini.

Kedua adalah persatuan umat. Umat islam selama ini banyak tergolong dalam organisasi masyarakat yang terkadang memecahkan diri dan kurang bersatu, ada ormas yang pro pemerintah, ada yang kontra pemerintah dan ada yang netral. Dengan membawa misi kalimat tauhid reuni 212 ini mencoba menyatukan seluruh hati termasuk ormas ormas Islam yang ada menjadi satu yaitu umat Islam.

Ketiga adalah kebangkitan ekonomi, selama ini umat Islam hanya menjadi penonton dalam penguasaan ekonomi nasional, ekonomi masih di kuasai oleh sebagian golongan, melalui 212 ini setidaknya menjadi spirit untuk kebangkitan ekonomi umat yang melahirkkan banyak usaha usaha mikro ekonomi melalui, mini bank, koperasi 212, 212 Mart, dan unit unit usaha produktif lain yang telah dan akan di jalankan.

Keempat adalah akumulasi situasi politik. Agama islam telah mengatur semua sendi kehidupan termasuk masalah hak politik. Bicara soal suksesi kepemimpinan nasional 2019, maka kriteria utama pemimpin akan ada pada kriteria umat islam. Umat Islam yang selama ini merasa belum di berikan ruang untuk berekspresi mencoba menyalurkan hak aspirasi yang mungkin terpendam sejak sebelum pilkada DKI dan akan berkembang menjelang pilpres 2019 nanti.

Kelima adalah Wisata Religi. Keinginan untuk hadir di Jakarta dan kerinduan bertemu dengan saudara saudara sesama muslim memang tidak bisa di halangi siapapun. Reuni 212 ini juga merupakan moment mempersatukan umat, trend kebangkitan umat, syiar Islam, dan tentunya juga sebagai sarana menyampaikan aspirasi perjuangan bagi kebangkitan umat untuk bersatu membela NKRI.

Dari lima indikator diatas bahwa reuni 212 merupakan peristiwa sejarah yang secara spontan mengetuk hati setiap muslim dalam bingkai ukhuwah islamiyah dan wathoniyah. Terlepas dari pro dan kontra, inilah potret umat yang patut mendapatkan apresiasi dan perhatian khususnya dalam hal pemberian ruang untuk bersatu membangkitkan semangat nasionalisme serta semangat meningkatkan gerakan ekonomi umat.

Melihat pada keikhlasan dan semangat juang umat yang penuh rasa persatuan ini membuat banyak pemikiran baru hingga muncul gagasan untuk mengusulkan 2 Desember sebagai hari ukhuwah islamiyah sedunia. (M. Mufti Mubarok, Alumni 212 dan Pengasuh Ponpes Bumi langit Sidoarjo)