Suasana rumah duka di Jalan Sambi Arum 51 H/10 Surabaya, Kamis (29/11).

Laporan : Hendarwanto – Firman Komeng

SURABAYA PAGI, Surabaya – Apartemen The Peak Residence Tunjungan Plaza (TP) 5, Jalan Embong Surabaya, Kamis (29/11/2018) sekitar pukul 01.30 WIB, mendadak gempar. Seorang pria ditemukan tewas dengan kondisi terluka dan berlumuran darah di parkiran apartemen milik PT Pakuwon Jati itu. Belakangan diketahui korban bernama Rafif Misbahuddin (22), warga Jalan Sambi Arum 51 H/10 Surabaya. Polisi meyakini korban ini bunuh diri, bukan pembunuhan. Namun motif korban masih misteri, lantaran besok (1/12) ia diwisuda sebagai sarjana hukum di Universitas Airlangga (Unair).

-------

Berdasar informasi keluarga, Rafif merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga angkatan 2014. Sugeng, ayah Rafif, ketika ditemui di rumah duka di Jalan Sambi Arum, Surabaya, memilih tidak banyak berbicara. Ia mengaku terpukul dengan kematian anaknya. Ia mengetahui kabar kematian anaknya sekitar pukul 04.00 WIB, dan langsung mendatangi kamar jenazah RSUD. Dr. Soetomo, Surabaya.

Sekitar pukul 06.00 WIB, jenazah sampai di rumah duka. Sekitar pukul 10.00 WIB, korban disalatkan di masjid Al-Falah dekat rumah duka dan langsung dimakamkan di pemakaman kampung. "Tanggal 1 (Desember 2018, red) nanti dia harusnya diwisuda," ucap Sugeng sambil meneteskan air mata.

"Anak saya ikut futsal. Dulu masuk ke Unair melalui jalur undangan. Dulu kan sekolah di SMAN 2 Surabaya," lanjut Sugeng dengan kalimat terbata-bata.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi kejadian, tubuh Rafif kali pertama ditemukan oleh sekuriti apartemen bernama Junaedi, sekitar pukul 01.15. Dia tewas tergeletak di parkiran 9D The Peak Residence. Saat ditemukan, kondisi tubuh pemuda yang di kartu identitasnya berprofesi sebagai mahasiswa itu sudah tak bernyawa. Tubuhnya bersimbah darah dengan sejumlah luka.

Setelah Tim Inafis melakukan olah TKP di parkiran Apartemen The Peak Residence, jenazah korban dilarikan ke RSUD Dr Soetomo Surabaya.

Keluarga korban dugaan bunuh diri di parkiran apartemen Peak Residence Tunjungan Plaza (TP) 5 menolak untuk dilakukan autopsi. Pihak keluarga menerima kondisi korban dengan apa adanya. Ini diungkapkan Kanitreskrim Polsek Tegalsari Iptu Abidin. Menurutnya, keluarga korban menolak untuk dilakukannya autopsi lantaran orang tua korban tidak ingin dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh anaknya tersebut.

"Iya korban menolak untuk dilakukan otopsi karena sudah menerima kondisinya dengan apa adanya," kata Iptu Abidin.

Motif Bunuh Diri


Apartemen Peak Residence Tunjungan Plaza (TP) 5 merupakan apartemen mewah di Surabaya yang dikelola PT Pakuwon.

Hingga semalam, polisi meyakini korban tewas karena bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 9. Dugaan itu lantaran polisi menemukan sepasang sandal warna coklat dan kacamata minus di pembatas tembok parkir lantai 9. Selain itu jam tangan dalam kondisi pecah melekat di tangan korban.

Kapolsek Tegalsari Kompol David Triyo Prasojo membenarkan penemuan sandal dan kacamata minus tersebut. "Saat kami melakukan olah TKP di lantai 9, kami menemukan sandal dan kaca mata minus untuk baca. Selain itu jam tangan yang masih melekat di tangan korban dalam kondisi pecah," kata David.

Pihaknya kini masih berupaya mengungkap kasus ini, dengan mencari motif dan bukti-bukti lain. Seperti memeriksa CCTV di sekitar lokasi kejadian. Pemeriksaan CCTV ini untuk mencari kejadian pastinya. "Kami masih berupaya untuk meminta rekaman kamera CCTV di lokasi kejadian. Guna untuk mengetahui kejadian pastinya," sebut David.

Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan membenarkan polisi menyelidiki kasus ini. "Iya benar kejadian itu, dugaan sementara itu korban bunuh diri. Tapi kami masih dalami saat ini," cetus Rudi.

Humoris

Rafif dikenal sosok yang pendiam di kampungnya. Menurut Taufik, tetangga korban, anak kedua dari tiga bersaudara itu, tidak banyak keluar dan bersosialisasi di kampungnya. “Pendiam orangnya, nggak pernah neko-neko,” ujarnya,

Namun, di mata teman-teman di kampusnya, Rafif justru kebalikannya, dia sosok periang dan suka bercanda. "Sejak kuliah, orangnya humoris suka kalau interaksi sama teman-teman kuliah dulu," kata Okta, teman kuliah korban, ditemui di rumah duka.

Ia membenarkan korban akan diwisuda Sabtu, 1 Desember 2018. Namun karena ada persyaratan yang belum terpenuhi, wisuda diundur. "Dia teman satu angkatan dengan saya. Harusnya wisuda bareng saya pada September lalu. Namun ada persyaratan yang kurang jadi harus diundur Desember," terang Okta.

Okta juga mengaku terakhir ketemu almarhum Rafif Misbahuddin, September 2018. "Terakhir ketemu ya sebelum saya di wisuda dulu bulan September," ungkapnya.

Sering Terjadi

Kejadian bunuh diri dengan cara melompat dari lantai atas di area Tunjungan Plaza Surabaya, bukan sekali ini saja. Tapi sudah berulang kali terjadi. Seperti kejadian 12 April 2018. Michael Mulyono, warga Kedungdoro, Surabaya dan berprofesi sebagai dokter, tewas terjatuh dari lantai 8 Tunjungan Plaza, Surabaya. Saat itu, polisi menyebut, sesuai keterangan orang tua korban, ada indikasi tekanan psikis pribadi yang menimpa korban hingga berani berbuat demikian.

Sesuai keterangan ayah korban, Andi Mulyono, korban beberapa waktu sebelumnya pernah merasa terpukul akibat dua kali gagal menjalani tes spesialis jantung. Padahal sesuai catatan akademis, korban memiliki nilai dan prestasi cukup baik selama berkuliah di jurusan kedokteran. n