Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Saat kampanye sekarang ini, ada keluhan dari beberapa kelompok, organisasi masyarakat dan elite partai politik bahwa media besar mulai TV, Radio, Suratkabar sampai media sosial, mulai tidak menyiarkan peristiwa-peristiwa politik yang tidak pro-pemerintah.

Disadari atau tidak, ini semua ekses dari para pemilik modal yang telah menguasai media. Bahkan ada sejumlah tokoh yang berkiprah dalam bidang politik turut latah untuk menjadi pemilik media, terutama media nasional. Catat ada Hari Tanoe, Surya Paloh, Aburizal Bakrie dan Choirul Tandjung.

Praktik ini layak disebut "jurnalisme majikan", wartawan menuruti kehendak pemilik modal. Oleh karenanya, pers nasional besar, mulai kehilangan peran watchdognya. Artinya ada pengaruh kepentingan politik dalam kebijakan redaksionalnya. Dampak khususnya dapat memengaruhi informasi yang diberikan. Meskipun, Dalam peristiwa tertentu, tak semua media mengaburkan informasi dan fakta yang terjadi. Contoh kasus kebohongan Ratna Sarumpeat. Hampir semua media nasional yang deimodali politisi memuat. Maklum, Ratna, dikenal sebagai politisi kritis terhadap pemerintah yang kini sedang dipimpin oleh Anda Capres Jokowi.

Fakta akibat pengaruh pemodal media, kadang wartawannya tidak berani melawan kekuasaan politik di media. Disinilah idealism wartawan tergerus.

Orang dekat Ketua Umum Partai Demokrat, Chairul Tanjung, adalah pemilik Trans TV dan Trans 7 serta Detik.com.

Hary Tanoesoedibjo, melalui Indonesia Media Nusantara Citra (MNC), menerima kehadiran pengusaha asal Israel Haim Saban, pemilik Saban Capital Group Inc. Haim Saban membeli lima persen saham Media Nusantara Citra melalui Indonesia Media Partner LLC seharga hampir Rp 700 miliar. Perusahaan ini terafiliasi dengan Saban Capital Group Inc. dan PT Global Mediacom Tbk.

Ada lagi kolaborasi media Surya Paloh (Media Indonesia dan Metro TV). Kelompok media Surya Paloh kini berkolaborasi dengan kelompok Hary Tanoe (RCTI, Global TV, Sindo TV, MNC TV, Koran Sindo, Trust, MNC Radio, serta sejumlah jaringan media lokal, Sindo). Baik Paloh maupun Tanoe, berada di belakang koalisi Anda Capres Jokowi-Ma’ruf.

Sementara Aburizal Bakrie, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, memiliki TV One, ANTV dan Vivanews.com. Dalam Pilpres 2014 lalu, TV One berafiliasi pada Capres Prabowo-Hatta Rajasa.

Masih ada Erick Thohir, yang memimpin PT Visi Media Asia, induk perusahaan media Bakrie. Erick, adik kandung Boy Garibaldi Thohir adalah salah satu pemilik perusahaan pertambangan Adaro yang memiliki Jak-TV dan kelompok usaha Mahaka: di antaranya suratkabar Republika dan jaringan radio Prambors.

Sementara kelompok Jawa Pos yang semula dikelola oleh Dahlan Iskan, kini tampak netral seperti Majalah Tempo dan surat kabar Kompas. Maklum, kini Dahlan sudah keluar dari Jawa Pos, baik kepemilikan dan pengelolaan.

Dalam Pilpres 2019 ini, tiga Kelompok media mainstream yaitu Jawa Pos, Tempo dan Kompas, sejauh ini masih seperti bola liar. Ketigasnya, secara formal sulit mendefinisikan kedekatan politik ke Anda Capres Jokowi atau Anda Capres Prabowo.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Sebagai pelaku bisnis media (mainstream), saya menyoroti media yang dikuasai oleh orang yang berkecimpung di dunia politik dan kepentingan, saat kampanye awal-awal ini kelihatan ‘’afiliasinya’’. Tak dapat disalahkan medias-media seperti ini bertugas menyaring informasi dan opini, bahkan bisa memanipulasi berita yang akan ditayangkan, demi kepentingan Capres yang didukung bos-bos media. Pertanyaannya, adalah yang sampai mengabaikan aturan kode etik jurnalistik.

Kenyataan yang saya pantau, media-media konglomerasi yang berafiliasi ke Capres tertentu, acapkali memberikan berita pencitraan yang tak sesuai kenyataan. Ini yang dapat membuat masyarakat kecewa.

Dari suara di masyarakat oponi yang paling banyak bertebaran, terutama di Media Sosial, Capres yang disorot suka pencitraan adalah Anda Capres Jokowi. Beberapa program dalam Pilpres 2014 lalu dituding ada yang tak jalan, sehingga sering disorot suka bohong.

Akal sehat saya mengatakan, Capres yang bakal menonjol dalam Pilpres 2019 adalah yang didukung sejumlah kelompok media. Capres ini bukan karena kuat dukungan, tetapi karena pencitraan dari pemilik media pengikutnya.

Temuan seperti ini, menurut saya, media yang mendukung Capres tertentu tak lebih dari alat corong dari pemilik kekuasaan untuk kepentingan politik Capres yang disokongnya.

Kekhawatiran saya adanya praktik seperti ini bukan tidak mungkin digunakan taruhan-taruhan politik. Artinya, kelompok pemilik media juga bertarung di dalam arena politik.

Padahal, dalam dunia pers atau etika pers, tak ada tawar-menawar pemberitaan.Maklum, dominasi pemilik media berpengaruh dalam mengendalikan pemberitaannya. Termasuk kebebasan pers.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,

Dengan telah didominasinya perusahaan pers berkorporasi atau mapan oleh satu Capres, saya mulai mempertanyakan fungsi pers yaitu melayani hak publik untuk tahu (right to know) dan memperoleh informasi (right to information), makkin kabur .

Perusahaan pers korporasi besar ini bisa tidak mampu menyampaikan gagasan maupun aspirasi publik secara kritis dan berimbang. Terjadi informasi jungkir balik.

Apalagi kini perkembangan jurnalisme warga (citizenship journalism), yang mengandalkan partisipasi aktif, cukup pesat. Jurnalisme warga melakukan pengumpulan, pelaporan, analisis serta penyampaian.

Pertarungan dua Capres yang tidak berimbang dalam penguasaan media korporasi secara obyektif akan menurunkan Anda Capres Prabowo. Saya bisa memahami menggunakan akal sehat, pendukung Capres Prabowo, memanfaatkan media sosial dan jurnalisme warga.

Hasil sementara yang saya amati dari media TV, mainstream dan media sosial, ternyata ramainya pemberitaan politik di media tidak sebanding dengan kualitas percakapan publik yang ada. Maklum, Capres Prabowo, lemah dalam pembentukan opini dari perusahaan pers konglomerasi.

Ini yang membuat saya merasa iba pada Anda Capres Prabowo-Sandiaga. Mengingat, kerja-kerja media diharapkan mampu meningkatkan mutu percakapan publik, yang alirannya menuju mutu demokrasi.

Dalam realita sampai awal November 2018 ini, saya amati, kelompok media yang pro Anda Capres Jokowi, ibaratnya bisa melakukan kawin silang antara media dengan kekuatan-kekuatan politik parpol pendukung Anda Capres Jokowi.

Melakukan pengamatan secara acak pada pemberitaan MetroTV, Media Indonesia dan grup MNC, saya menemukan ada liputan-liputan yang bias kepentingan politik partisan.

Disini berdampak ruang publik tercemar oleh fitnah, informasi irelevan dan berat sebelah. Semuanya disamarkan sebagai produk jurnalistik.

Sebaliknya, pendukung Anda Capres Prabowo-Sandiaga, melakukan bombardier melalui media sosial. Membaca isu-isu dalam beberapa grup WA (WhatsApp), saya menyimak ada juga pertukaran ide, selain mengolok-olok, bahkan memfitnah. Setelah mengamati selama dua bulan terakhir ini, saya menilai penyebaran berbagai ide, termasuk isi serpian-serpian informasinya, juga bias.

Dari media sosial WA, facebook dan instagram yang saya ikuti, ada yang berbau penyebaran hoax. Malahan ada pengiriman video yang sangat atraktif, seperti sebuah peristiwa. Kadang ada video yang dimanipulasi.

Saya kagum dengan pengikut Anda capres Prabowo-Sandi, yang lebih banyak menciptakan keramaian ide dan gagasan di ruang-ruang maya. Bahkan kadang ada satu tema untuk didiskusi, diperdebatkan, bahkan saling tuduh secara frontal. Tudingan begitu bebas.

Hal-hal seperti ini merupakan kelebhan ‘’kampanye’’ di media sosial yang saya serap dari grup Anda Capres Prabowo-Sandiaga. Saya sempat berpikir, kampanye di media sosial tidak lagi berlaku one man one vote, tetapi satu orang bisa memiliki kekuatan setara puluhan, ratusan, atau ribuan lebih orang.

Grup Anda Capres Jokowi-Ma’ruf saya juga memiliki, tetapi keramaiannya tak sebanding dengan pengikut Anda Capres Prabowo-Sandiaga. Inilah kelebihan media sosial yang berlangsung amat cepat dan hampir tanpa batas.

Akal sehat saya menilai efektivitas media sosial tidak hanya karena jumlah penggunanya yang masif. Maklum, media sosial adalah media rakyat, siapa pun bisa berkontribusi,

Jadi, menurut akal sehat saya karakteristik media sosial sendiri juga merupakan kekuatan. Saran saya, Anda Capres Prabowo-Sandiaga, tak perlu grogi dengan kekuatan media mapan yang mendukung Anda Capres Jokowi-Ma’ruf.

Bagi saya penggiat komunikasi publik, media sosial adalah sarana untuk komunikasi di mana setiap individu bisa saling memengaruhi. Melalui informasi di Media rakyat, saya menangkap sinyal simpatisan Anda Capres Prabowo-Sandi, cukup besar. Dengan fakta ini, kekuatan opini pendukung Prabowo-Sandi, tak bisa diremehkan oleh Anda Capres Jokowi-Ma’ruf. (tatangistiawan@gmail.com,bersambung)