SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Fitra Djaja Purnama yang pernah maju sebagai calon Walikota Surabaya pada Pilwali 2010, kembali menjadi buah bibir. Alumni teknik mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena diduga terlibat kasus suap Rp 7 miliar dari 13 miliar yang dijanjikan dalam pengurusan perizinan proyek Meikarta (Lippo Group) di Bekasi. Fitra Djaja yang disebut sebagai konsultan Lippo Group itu sejak Selasa (17/10/2018) ditahan Polres Jakarta Selatan. Penelusuran Surabaya Pagi, setelah kalah dari Tri Rismaharini-Bambang DH pada Pilwali 2010, Fitra Djaja Purnama diketahui beraktivitas di lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan kerap menyoroti kaset tanah. Seperti kasus aset PDAM Surabaya dan sengketa ruko Semut Indah yang dikelola PT Kereta Api Indonesia (KAI).

----

"Terhadap sejumlah tersangka di kasus dugaan suap terkait proses perizinan Meikarta dilakukan penahanan 20 hari pertama," ucap Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah, Selasa (16/10/2018).

Fitra Djaja Purnama (konsultan Lippo Group) ditahan di Polres Jakarta Selatan bersama Dewi Tisnawati (Kepala Dinas DPMPTSP Kabupaten Bekasi). Kemudian, Henry Jasmen (pegawai Lippo Group) dan Sahat MBJ Nahor (Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemkab Bekasi) ditahan di Polres Jakarta Timur.

Sedang Taryadi (konsultan Lippo Group) dan Jamaludin (Kadis PUPR Bekasi) ditahan di Polres Jakarta Pusat. Lalu, Direktur Operasional Lippo Group, Billy Sindoro ditahan di Polda Metro Jaya. Sementara Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin masih diperiksa penyidik KPK. Begitu juga dengan Kepala Dinas PUPR Pemkab Bekasi, Jamaludi dan Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi, Neneng Rahmi yang baru menyerahkan diri ke KPK, dinihari kemarin.

Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif mengungkapkan Bupati dan sejumlah Pimpinan SKPD Kabupaten Bekasi terindikasi sudah menerima uang suap dari Lippo Group sebanyak Rp7 miliar, dari total komitmen Rp13 miliar.

Fitradjaja Purnama, Taryudi serta Henry Jasmen pegawai Lippo Group, disebut berperan memberikan uang suap kepada sejumlah pejabat Pemkab Bekasi, atas perintah Billy Sindoro Direktur Operasional Lippo Group.

Menurut Laode, Fitra, Taryudi dan Henry adalah utusan Lippo Group yang sering ke Kantor Pemkab Bekasi untuk mengurus sejumlah perizinan antara lain izin membangun apartemen, pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan fasilitas pendidikan di Meikarta.

"KPK menduga Billy adalah orang yang memerintahkan Taryudi, Fitra dan Henry untuk memberikan suap. Jadi, Billy mengetahui dan memberikan perintah pada pihak swasta yang bertindak sebagai konsultan dalam perusahaan tersebut (Lippo)," terang Laode di Kantor KPK.

Rumah Fitra Sepi

Pasca penangkapan, rumah Fitra Djaja Purnama di Prumahan Kris Kencana, Jalan Kencanasari I Surabaya dan Menanggal I no 46 Surabaya, tampak sepi. Dari pantauan Surabaya Pagi, Selasa (16/10) siang, rumah Fitra di Kris Kencana, beberapa kerabat berada di dalam rumah. Terlihat, mereka berkumpul seperti mendiskusikan sesuatu. Namun tak satu pun dari mereka yang keluar rumah.

Ketika wartawan Surabaya Pagi hendak mengambil gambar di depan rumahnya, salah seorang tukang kebun Fitra bernama Sarwi menanyakan maksud kedatangan wartawan. "Ada perlu apa pak, kok foto-foto," tanya Sarwi.

Ditanya kebenaran rumah tersebut adalah milik Fitra, Sarwi tak membantah. Namun ia mengatakan jika Fitra tidak ada dirumah. "Benar pak, tapi bapak tidak ada dirumah," jelas Sarwi, sambil meninggalkan wartawan, Selasa (16/10/2018) siang.


Rumah Fitradjaja Purnama di Kris Kencana dan Dukuh Menanggal, Selasa (16/10), tampak sepi pasca penangkapan.

Jual Beli Tanah

Sementara itu, Narto, tetangga Fitra mengatakan tidak begitu mengenal Fitradjajaitu. Namun, ia hanya mengenalnya sebagai seorang partai. Ia pernah bertemu dan mengobrol pas ketika perayaan 17 Agustus 2018 lalu. "Saya tak begitu kenal mas, orangnya cuman sering menyapa. Setahu saya orang partai, tapi saya ndak tau partai apa. Coba tanya pak RT mas, mungkin tahu," kata Narto.

Surabaya Pagi pun menuju rumah Nurdiyan, Ketua RT08 RW06 yang tak jauh dengan rumah Narto. Kepada wartawan, Nurdiyan mengatakan jika Fitra sering menyapa kepada warga terutama kepadanya. Terakhir kali, Nurdiyan bertemu Fitra ketika ia mengurus izin kantor yang terletak di sebelah rumahnya tersebut. "Pada saat itu, saya tanya pembangunan kantor, Pak Fitra bilang kalau buat kantor jual beli tanah. Karena saya RT, pak Fitra meminta izin saya. Kalau sore biasanya sering banyak ornag datang dan pergi mas," kata Nurdiyan.

Banyaknya orang yang datang, Nurdian mengira jika selain bisnis jual beli tanah, Fitra juga seorang aktivis dan LSM. Ia menilai, banyak orang yang datang biasanya mengadakan diskusi. Ditanya terkait apakah Fitra orang partai, Nurdiyan mengatakan tidak tahu. "Saya tidak tahu mas, saya pikir malah orang LSM. Tadi saya sempat tanya tukang kebunnya Sarwi, katanya pak Fitra terkena masalah. Sarwi banyak tau mas, karena sudah bekerja lama di sana," tutur Nurdiyan.

Jarang Kumpul Warga

Masih kata Nurdiyan, Fitra tinggal di tempat tersebut sejak tahun 2012 lalu. Jika Idul Adha, Fitra sering berkurban sapi, sering kali menyapa warga sekitar, namun jarang bergaul ataupun mengobrol.

"Seringkali berkurban sapi mas, warga sini jarang yang tau mas, karena orangnya juga ndak pernah kumpul warga, kumpul aja kalaupas perayaan 17 Agustusan," tambah Nurdiyan.

Rumah LSM

Terpisah, Surabaya Pagi menuju tempat Fitra yang berada di Menanggal I no 46 Surabaya. Dari pantauan di lapangan, rumah terssbut digunakan untuk kantor Media dan LSM.

Toni, warga sekitar mengatakan, rumah tersebut disebut sebagai kantor Sekertariat Bersama (Sekber). Terkadang digunakan untuk perkumpulan wartawan, kadang orang-orang LSM. "Yang saya tau itu banyak orang LSM, kadang wartawan di sana juga kumpul, itu kan kantor seketariat bersama mas. Untuk LSM-nya saya tidak tau mas," kata Toni.

Dari pandangan Toni, ia menilai jika Fitra adalah orang yang baik. Itu terbukti, pada waktu Fitra mencalonkan walikota, suara yang didapatkan di Menanggal, Fitra menang telak. Namun ia tak menyangka jika Fitra terseret kasus korupsi hingga di amankan KPK.

"Saya ndak nyangka mas, padahal orangnya baik. Waktu pemilihan walikota, suara disini menang telak. Kadang kesininya malam mas, ke kontrakan itu," tutup Toni.

Jejak Fitradjaja Purnama

Nama Fitradjaja Purnama cukup familiar di telinga Warga Kota Surabaya. Sebab pada Pilwali Surabaya 2010 silam, ia menjadi calon walikota Surabaya dari jalur independen. Saat itu, Fitra berpasangan dengan Naen Soeryono. Namun pasangan ini hanya mendapatkan 5 persen suara atau hanya 45.459 suara. Saat itu, pilwali dimenangkan pasangan Tri Rismaharini-Bambang DH dengan raihan 40,9 persen suara atau sebanyak 367.472 suara.

Pasca Pilwali, Fitra terpantau tetap aktif di organisasi Pro Demokrasi (ProDem) Jatim, sembari bekerja di dua perusahaan yang dia dirikan. Fitra menjadi komisaris di Guci Media sebuah grup penerbitan dan periklanan. Selain itu, dia juga menjabat sebagai President Associate di Presisi, sebuah perusahaan konsultan manajemen yang berbasis di Surabaya.

Penelurusan website personal Fitradjadja Purnama (fitra.co.id), Fitra adalah pendiri Senat Mahasiswa ITS Surabaya pada 1993. Dia juga aktivis Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya (FKMS) Indonesia sejak 1993 hingga 1997 silam.

Pada waktu yang hampir bersamaan, dia juga aktif sebagai aktivis Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI) dalam kurun waktu 1993-1995 silam. Lalu pada 1998 dia sempat menjadi organisator pendirian Arek Suroboyo Pro Reformasi (ASPR) yang kemudian melakukan aksi reformasi di Surabaya.

Pascaaksi demonstrasi aktivis mahasiswa besar-besaran pada 1998 silam, Fitra aktif dalam berbagai organisasi dan yayasan. Salah satunya di Yayasan Cakrawala Timur. Pada kurun waktu 2000-2002 silam dia menduduki kursi Ketua Dewan Pendiri di yayasan itu. Kursi yang sama dia duduki di Yayasan Belimbing sejak 2003 sampai sekarang.

Fitra juga menjadi Ketua Sekretariat Bersama Konsolidasi Demokrasi sampai sekarang. Semua catatan aktivitas keorganisasian itulah yang menjadikan Fitradjaja Purnama sempat menjadi Calon Wali Kota Independen yang diusung Konsolidasi Arek Suroboyo (KAS) pada 2010 silam.

Alumni ITS

Selain itu, Fitradjaja diketahui alumni dari teknik mesin ITS tahun 1981 dan juga merupakan aktivis tahun 1998. Dr. Bambang Sudarmanto, dosen ITS yang juga alumni teknik mesin ITS mengaku mengenal sosok Fitra Djaja saat kuliah. Menurut Bambang, Fitra yang asli arek Surabaya ini merupakan mahasiswa yang aktif, suka mengkoordinir teman seangkatan untuk ikut kegiatan yang positif seperti mengerjakan tugas bersama.

Bambang mengaku terakhir bertemu Fitra dua tahun lalu saat berkumpul bersama teman-temannya. Saat itu Bambang menegetahui jika Fitra merupakan seorang konsultan, namun tidak mengetahui kunsultan di bidang apa. Bambang juga mengetahui jika Fitra pernah menulis buku. "Fitra itu orangnya energik dan jika itu disalahgunakan untuk kepentingan yang negatif saya sangat menyayangkannya," cetus Bambang saat ditemui Surabaya Pagi di kantornya, siang kemarin (16/10/2018).

Lantaran Fitra sudah lulus dari ITS, lanjut dia, maka kasusnya di KPK menjadi tanggung jawab individual. “Saat mendengar kabar kasus Fitra ini saya pikir ia khilaf melakukannya,” tutur Bambang. n