SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Belakangan ini Prabowo Subianto menjadi sasaran kritik, lantaran Sandiaga Uno tampil lebih agresif menghadapi Pilpres 2019. Bahkan, capres nomor urut 02 ini dicap pemalas oleh Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief. Kubu Jokowi-Ma’ruf Amin juga menyerang, Prabowo akan kalah jika mantan Danjen Kopassus itu pasif. Namun belakangan diketahui, dominannya Sandiaga sebagai Cawapres merupakan strategi senyap Prabowo setelah kalah dua di dua Pilpres, yakni Pilpres 2009 sebagai cawapres yang mendampingi Megawati dan Pilpres 2014 sebagai capres berpasangan dengan Hatta Rajasa.

----

Demikian diungkapkan Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo, Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokhim Abdus Salam, Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri Surabaya (UINSA) Abdul Chalik, serta Ketua Harian Badan Pemenangan Prabowo-Sandiaga Jawa Timur Anwar Sadad dan Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Mardani Ali Sera.

Suko Widodo mengungkapkan tidak seringnya Prabowo Subianto tampil di hadapan publik diyakini karena sudah mengantongi popularitas yang maksimal, ketimbang Sandiaga. Namun, tingginya popularitas tidak selalu lurus dengan elektabilitas figur calon.

Dengan keyakinan tersebut, lanjut Suko, tampilnya Sandiaga Uno yang lebih dominan bisa mendongkrak elektabiltas paslon nomor urut 02 ini. Dengan seringnya Sandi tampil ke publik, menurut Suko sebuah strategi untuk meningkat suara pasangan Prabowo-Sandiaga. “Ia (Sandi) memiliki kemampuan menarik perhatian publik. Maka potensi Sandi dioptimalkan untuk meningkatkan popularitas dan sekaligus meraih dukungan suara,” ungkap doktor jebolan Universitas Airlangga itu saat dihubungi Surabaya Pagi, Minggu (14/10/2018).

Suko menambahkan peluang Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 sangat bergantung dari kinerja jaringan dan dinamika sosial yang terjadi di masyarakat. Sebab Pilpres masih memiliki waktu hingga 7 bulan lagi. Itu artinya masih banyak kemungkinan yang bisa dilakukan oleh masing-masing calon. Baik Prabowo-Sandi maupun Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Jika kondisi sosio ekonomi stabil, maka petahana berpeluang (menang, red). Tetapi jika dinamika sosial ekonomi ke depan tidak bagus, maka kandidat 02 (Prabowo-Sandi) menjadi alternatif pilihan,” papar Suko Widodo.

Mirip Pilgub Jatim

Menurut hemat Suko, pertarungan Pilpres 2019 ini persis dengan yang terjadi pada Pilgub Jatim, Juni 2018 lalu. Saat itu, Khofifah dan Gus Ipul pernah bertemu pada Pilgub sebelumnya. Begitu juga Prabowo dan Jokowi, sudah pernah bertarung di Pilpres 2014. Karenanya, dua capres ini dinilai popularitas sudah maksimal. Sehingga cawapres didorong lebih sering melakukan road show di daerah-daerah dan bertemu dengan masyarakat.

“Karena (Cawapres) keduanya paket yang dianggap novelty alias punya kebaruan dibanding kandidat presidennya. Rivalitas cawapres menentukan siapa yang unggul dalam Pilpres 2019,” tandas Suko.

Strategi Baru

Hal senada dinyatakan Surokhim Abdus Salam. Ia mengamati jarang munculnya Prabow Subianto di muka publik dalam masa kampanye ini merupakan strategi yang baru untuk mengerek elektabilitasnya. Di satu sisi, Prabowo lebih fokus pada kekuatan silaturrahmi di daerah-daerah yang minim ekspose media. Sebab, lanjutnya, Prabowo ingin menggaet swing voters yang sampai saat ini belum menentukan pilihannya di Pilpres 2019. “Sebagai pribadi yang mengandalkan pertemanan, melihatnya lebih tulus, strategi silaturahim sesuai pepatah tak kenal langsung maka tak sayang,” terang peneliti politik Surabaya Survei Center (SSC) ini saat dihubungi secara terpisah, Minggu (14/10) kemarin.

Di sisi lain, strategi udara kubu Prabowo-Sandi melalui media, kalah dengan Jokowi. “Harus diakui strategi udara pak Prabowo masih menghadapi kendala dibanding petahana,” lanjut Surokhim.

Soal peluang Prabowo, menurut Surokhim, lebih berat dibanding Pilpres 2014. Dijelaskan, jika situasi normal tidak ada strategi penawaran narasi yang lebih membumi dalam kampanye dan ditambah kalah panggung di media, maka berat bagi Prabowo-Sandi memenangi Pilpres 2019. Apalagi, timses Prabowo tampak melakukan strategi yang blunder.

Mainkan Isu Ekonomi

Meski begitu, Prabowo pubya peluang masuk ke pemilih kelas menengah yang sebagian besar masih menjadi swing voters. “Sebagai penantang, pasangan Prabowo-Sandi punya keuntungan terhadap tren situasi ekonomi. Jika itu bisa dimainkan dalam narasi yang lebih membumi, sebagai penantang semestinya bisa kompetitif,” terangnya

Satu satunya kondisi lingkungan yang bisa berpihak kepada Prabowo-Sandi, menurut dia, kondisi ekonomi dan daya saing bangsa di tengah kompetisi global. Harusnya ini yang lebih banyak dimainkan jika ingin tetap kompetitif. Sepanjang bisa menemukan narasi perbaikan ekonomi dan daya saing bangsa yang lebih menukik dan menyasar nalar publik.

“Saya pikir masih cukup waktu untuk bisa mengejar petahana mengingat petahana juga punya kelemahan di pasangan Cawapresnya,” papar Surokhim.

Politik Jangka Panjang Sandiaga

Terpisah, Abdul Chalik menilai sejatinya Prabowo ingin melakukan strategi yang berbeda dengan Pilpres 2014. Prabowo merasa dengan sering muncul di publik rasanya tidak berdampak signifikan pada elektabilitasnya. Sehingga Sandiaga lebih ditonjolkan. “Saya rasa ini strategi, yakni dengan muncul di last minute. Apa yang disampaikan pihak lawan akan disampaikan dengan bahasa-bahasa lain untuk mengcounter itu,” ucapnya

Selain itu, lanjut dia, Sandiaga yang lebih sering road show dari pada Prabowo diyakini untuk kelanjutan politik setelah 2019 nanti. Sandi rupanya ingin mendapat keuntungan dari Pilpres ini untuk jangka panjang, misal dirinya jika gagal pada Pilpres 2019 ini memiliki kemungkinan akan maju pada Pilpres 2024. Selain itu, bisa jadi Prabowo ini memang tidak ada media yang meliput, mengingat raksasa media di Indonesia saat ini lebih condong kepada Jokowi.

“Siapapun melawan incumbent itu tidak mudah. Bisa jadi itu yang dirasakan Prabowo saat ini,” pungkasnya.

Fokus Pemenangan

Ketua Harian Badan Pemenangan Daerah (BPD) Prabowo-Sandi Jawa Timur, Anwar Sadad enggan membeberkan strategi apa yang dimainkan Prabowo dengan jarang munculnya di muka publik. Dia juga menepis opini yang menyebut Prabowo tidak sering muncul di publik. Sebab sepengetahuannya Prabowo juga masih tetap turun ke bawah menemui masyarakat.

“Nggak benerlah, itu silahkan orang berbicara macam-macam. Beliau (Prabowo) juga datang di Sukabumi, pekan lalu Rembang, Boyolali, Tegal. Yah, kemunculannya mesti disesuaikan,” ungkap Sadad dihubungi Minggu (14/10) kemarin.

Politisi Partai Gerindra ini menyebut kalau pihaknya saat ini tetap fokus pada pemenangan Prabowo-Sandi. Dirinya juga tidak peduli dengan hasil survei yang dirilis yang semua menganggap Prabowo tertinggal jauh dari petahana. Prabowo juga dijadwalkan akan turun ke Jawa Timur menemui masyarakat pada bulan ini. “Dari awal kita sama sekali tidak risau. Silahkan membuat (hasil) survey Pak Jokowi 100persen, Pak Prabowo 0 persen. Kita tidak masalah,” ungkapnya.

Pendukung Militan

Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Mardani Ali Sera memastikan Prabowo yang pasif dalam berkampanye merupakan sebuah strategi. "Itu bagian dari strategi," sebut politisi PKS ini. "Ada waktunya nanti. Jagoan tampil belakangan," imbuh dia.

Mardani mengatakan, strategi yang sedang dilakukan Prabowo saat ini sangat ’cantik’. Dia juga menegaskan yang paling penting adalah bagimana menjaga suara kaum ibu, generasi muda dan elemen 212 agar memilih Prabowo-Sandiaga Uno. "Yang paling penting itu emak-emak militan, generasi milenial dan elemen 212 yang Pak Prabowo luar biasa dekatnya dengan kelompok ini," papar inisator gerakan #2019GantiPresiden ini.

Mardani juga menambahkan, saat ini Prabowo tengah fokus menjaga perolehan suara yang dia raih pada Pilpres 2014 lalu di mana dia juga melawan Joko Widodo (Jokowi). Untuk diketahui, saat itu Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa meraup suara sekitar 46 persen. "Pak Prabowo ingin menjaga agar 46 persen suara pada pemilihan yang kemarin itu secure. Itu yang dilakukan Pak Prabowo. Jadi target kami ya menang," tandasnya.

Dikritik TKN

Sebelumnya, jubir TKN Jokowi-Ma’ruf, Arya Sinulingga, menyoroti calon wakil presiden Sandiaga Uno yang gencar berkunjung ke berbagai lokasi. TKN menyebut jika Sandi terus yang aktif sedangkan Prabowo Subianto pasif maka pasangan itu bisa saja kalah. "Kalau Sandi terus yang muncul maka saya yakin Pak Prabowo pasti kalah," kata Arya.

TKN berpandangan seharusnya Prabowo ikut tampil seperti Sandi. Masyarakat seharusnya lebih melihat dari sisi tampilnya Prabowo, bukan hanya tampilnya Sandiaga.

Wasekjen Andi Arief juga mengkritik Prabowo Subianto kurang serius menjadi presiden. Menurut Andi Arief, Sandiaga Uno yang justru tampak ingin menjadi presiden. Hal itu jika dilihat dari cara Sandiaga berkampanye keliling Indonesia.

“Ini otokritik: Kalau dilihat cara berkempanyenya sebetulnya yang mau jadi Presiden itu @sandiuno atau Pak Prabowo ya. Saya menangkap kesan Pak Prabowo agak kurang serius ini mau jadi Presiden,” kicau Andi Arief lewat akun Twitter, @AndiArief_, Jumat (12/10).

“Kalau Pak Prabowo agak males-malesan, kan gak mungkin partai pendukungnya super aktif," lanjut Andi. n