Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Pak Prabowo Yth,

Semalam setelah sholat tahajud, saya membaca beberapa koran, termasuk tulisan-tulisan saya sebelumnya.

Dari membaca Al Quran, koran dan renungan malam, saya baru sadar, ternyata dalam kehidupan politik di tanah air, sekarang ini, terdapat beberapa ulama ikut beroposisi pada pemerintahan Jokowi.

Pertanyaan yang menggelitik saya, oposisinya sebagai ulama ini, karena panggilan beramar mahruf nahi munkar atau kepentingan pragmatis? Atau mengapa mengkritisi pemerintahan Jokowi, sebagai suatu rezim, mesti turun di jalan-jalan dengan meneriakan Allahu Akbar? Atau ada politisi oposisi yang mengajak ulama untuk mengkritik pemerintahan Jokowi dengan pendekatan ( mencari-cari kekurangan dan kelemahan rezim Jokowi) dalih untuk pembenar statusnya mengkritik pemerintahan sekarang? Atau upaya dari sebagian ulama dalam rangka meningkatkan bargaining potitionnya di publik, khususnya dengan rezim pemerintahan yang sekarang berkuasa?.


Pak Prabowo Yth,

Literatur Islam menjelaskan bahwa fungsi ulama adalah meneruskan tugas para Nabi dan Rasul untuk memberikan penerangan kepada umat manusia tentang ajaran agama yang berketuhanan yang Maha Esa.

Ini dijelaskan Allah SWT dengan firman-Nya dalam Al-Qur’an, yaitu : “Yaa ayyuhannabiyyu innaa arsalnakaa syaahidan wamubasysyiran wanadziiran, wada’iyan illaahibi’idznihii wasiraajan muniiran.” Artinya : “Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (Q.S Al-Ahdzab : 45-46)

Guru ngaji saya menceritakan sedikirnya terdapat lima tugas pokok seorang ulama yang alim mengikuti sunah Rasulullah.

Pertama, Syaahidan (menjadi saksi). Seorang ulama wajib memberikan bimbingan kepada umat untuk dalam kehidupan di dunia dan kehidupan akhirat.

Kedua, Mubasysyiraan (pembawa berita gembira). Setiap ulama dalam berdakwah dituntut untuk menggambarkan kepada hari depan yang baik dan mengandung semangat pengharapan atau optimisme. Ulama dituntut untuk selalu menanamkan keyakinan kepada umat bahwa mereka tak ubahnya seperti seorang petani yang giat menanam dan memelihara tanamannya agar menerima hasil yang baik saat panen.

Ketiga, Nadziiran (pemberi peringatan). Artinya, setiap ulama dituntut untuk selalu memberikan peringatan kepada umat, bahwa jalan yang terbentang di hadapan manusia hanya dua perkara yaitu pertama berjalan yang lurus dan kedua berjalan bengkok yang bisa mendapatkan kesesatan, kebinasaan dan kehancuran.

Keempat,Daa’iyan (Penyeru ajaran). Maksudnya ulama bertindak sebagai da’I yaitu pembawa risalah berupa da’wah untuk mengajak dan mengingatkan umat untuk mengikut kepada jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran hanya kepada Allah SWT ( Amar mahruf nahi munkar).

Dan kelima yaitu Siraajan muniiran (Cahaya penerang). Artinya Ulama dituntut menjadi penerang atau pelita yang memancarkan cahaya yang terang kepada alam sekelilingnya.

Menurut akal sehat says, sebagai manusia, ulama wajib menjadi suri tauladan bagi para umat. Nah, bila ulama beroposisi turun dijalanan dengan mengajak umat, apakah ini bagian dari tugas siraajan muniiran? Walahualam.

Nalar saya berkata berdasarkan Al-Qur’an fungsi dan tugas para ulama adalah sangat berat sekali.

Saya termasuk umat Islam yang punya pandangan bahwa ulama itu adalah orang yang ahli dalam ilmu agama Islam, orang yang memahami syariat Islam secara kaaffah (menyeluruh) dan orang yang bisa menjadi teladan umat Islam. Khususnya dalam memahami serta mengamalkan ajaran agama Islam.

Ulama sebenarnya adalah orang biasa yang menjadi bagian dari masyarakat.

Perbedaan atau istimewanya ulama dibanding dengan orang lain adalah mengenai pengetahuannya tentang agama. Pengetahuan atau pemahaman dan pengamalan mereka tentang Islam sangatlah luas.

Ulama tidak hanya memakai ilmu yang dimiliki hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga disebarkan kepada kemaslahatan masyarakat.


Pak Prabowo Yth,

Mempelajari sejarah Indonesia sejak sebelum Proklamasi, ulama memiliki peran yang sangat besar. Dalam setiap peristiwa di Indonesia, nyaris tidak ada satu pun perubahan yang tidak melibatkan peran ulama, termasuk dalam kehidupan politik.

Dalam sejarah tumbangnya rezim Orde Baru, menurut catatan saya, orang pertama yang berani menumbuhkan kesadaran berpolitik masyarakat hingga masyarakat memiliki kesadaran untuk melakukan perubahan secara politik yaitu Gus Dur, ulama kharismatik dari NU.

Catatan saya, Gus Dur, lewat dakwah kritis tapi lembut cocok dianggap sebagai salah satu pewaris Nabi.

Meski dikenal ulama kultural yang dekat dengan santri, orang pinggiran (marginal) dan pemuda, Gus Dur, sudah terjun ke dunia politik praktis tanpa turun ke jalanan berteriak-riak.

Kesan yang saya catat dengan kesederhanaannya, Gus Dur, saat Orde Baru sudah bulat bertekad menegakkan keadilan dan perdamaian tanpa diskriminasi semata karena Allah Ta’ala, bukan pribadi Gus Dur.

Gus Dur, dalam mengkritisi rezim Orde Baru, tak pernah berdakwah mengganti UUD 45 dan Pancasila yang merupakan warisan nilai dan wujud konkret pengorbanan para pendiri bangsa Indonesia. Dan pendiri NKRI diantaranya juga terdiri atas para ulama.

Terkait ulama oposisi, saya teringat sikap KH Hasyim Muzadi, yang juga ulama NU.

Dalam sebuah paparannya pada acara 90 tahun Gontor, almarhum KH Hasyim pernah mengatakan, Indonesia ini tidak kurang orang pinter, yang kurang adalah orang bener. Ulama adalah sosok manusia yang tidak sekadar pintar tetapi juga benar.

Berpijak dari sikap perjuangan Gus Dur dan KH Hasyim Muzadi, kalkulasi politik pada perjuangan ulama beroposisi, menurut saya patut menauladani dua ulama NU.

Terlebih kini, trennya ulama pendukung Anda, saya amati tidak lagi sebatas menjadi pelengkap demokrasi tetapi telah berubah mau ikut-ikutan menjadi penentu warna dan arah demokrasi NKRI pasca reformasi. Subhanalloh.

Jujur, menggunakan akal sehat, dalam bingkai Indonesia, Gus Dur, suka atau tidak, harus diakui pernah memperjuangkan demokratisasi dan kemanusiaan sejak rezim Soeharto.

Oleh karena itu, pada Mei 2008, Gus Dur dianugerahi Medals of Valor dari The Simon Wieenthal Center di Amerika Serikat. Anugerah karena kegigihan Gus Dur dalam memperjuangkan pluralisme dan perdamaian.

Sementara di wilayah Ke-NU-an, Gus Dur meneruskan perjuangan kakeknya, KH. Hasyim Asy’ari dengan memperjuangkan Pancasila sebagai dasar ideologi negara, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan UUD 1945.

Saya berpendapat dakwah dan perjuangan Gus Dur, mencerminkan sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), i’tidal (bersikap adil), dan tawazun (berimbang).


Pak Prabowo Yth,

Sejarah Indonesia mencatat, pasca Soeharto lengser, Gus Dur, baru terlibat di politik praktis.

Gus Dur, mendirikan PKB. Baru setelah itu, tepatnya pada 20 Oktober 1999, Gus Dur. terpilih sebagai Presiden RI. Sayang, masa kepresidenannya hanya berlangsung 18 bulan. Nasibnya ini akibat pertentangan politik dengan DPR/ MPR.

Meski demikian, masa yang sebentar itu telah meletakkan pondasi yang kuat bagi demokrasi di Indonesia.

Mayoritas rakyat Indonesia mengakui, Gus Dur, berhasil menancapkan supremasi sipil terhadap militer.

Selain itu, Gus Dur diakui peletak pertama visi ekonomi kelautan dan kemaritiman.


Pak Prabowo Yth,

Sebagai menantu Soeharto, Anda mesti mengakui sejarah yang mencatatkan bahwa saat mertua Anda masih berkuasa di republik ini, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, menjadi salah satu tokoh yang kritis terhadap pemerintahan orde baru.

Lewat tulisan-tulisannya di media, Gus Dur yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU pada 1984, kerap mengkritik kebijakan Soeharto dan membela masyarakat miskin tertindas.

Soeharto konon pernah membenci Gus Dur, gara-gara tulisan Adam Schwarz dalam buku berjudul: A Nation In Waiting: Indonesia in The 1900. Dalam buku itu, Adam mengutip hasil wawancaranya dengan Gus Dur yang menyebut Soeharto "bodoh”.

Sejak itu, Soeharto semakin tak senang pada Gus Dur, karena ulama NU ini mendukung para aktivis melawan pemerintah.

Akibat pandangan dan sikapnya kritisnya, Gus Dur mendapat banyak tekanan dari pemerintahan. Berbagai upaya dilakukan oleh Soeharto untuk mendongkel Gus Dur dari posisinya di PBNU, namun gagal.

Misalnya, upaya mengganjal pencalonan Gus Dur dalam Muktamar NU pada 1994 di Cipasung.

Saat itu, diinfirmasikan orang-orang Soeharto memecah NU dan berusaha mendongkel Gus Dur dengan membuat Muktamar NU tandingan dengan calon Abu Hasan yang kalah dalam Muktamar NU di Cipasung. Tapi Gus Dur tetap terpilih kembali sebagai Ketua Umum PBNU untuk ketiga kalinya.

Menurut akal sehat saya, hal yang patut ditiru oleh ulama-ulama sekarang yang mengambil sikap beroposisi terhadap pemerintahan Jokowi adalah tirulah cara Gus Dur, melakukan perjuangan beroposisi terhadap penguasa saat itu.

Saya harus mengakui Gus Dur, dalam perjuangannya, benar- benar mencerminkan sifat-sifat ulama yang alim dan pembelajar (cendekiawan) muslim.

Catatan saya saat masih jadi wartawan muda era Orde Baru dulu, saat berjuang “melawan” tirani rezim Soeharto, Gus Dur tidak mengajak masa berdemo dan berteriak-teriak, Allahu Akbar.

Gus Dur, mengkritik rezim Soeharto melalui tulisan di media dan buku, bukan turun dijalanan kayak mahasiswa. Maklum, ulama yang sarat ilmu agama, tak sama dengan mahasiswa yang belum merampungkan skripsinya.

Pertanyaan saya, mengapa Ulama sekarang yang ikur beroposisi mengapa tidak meniru cara Gus Dur, “beroposisi” . Padahal saat itu, rezim yang berkuasa terkenal otoriter. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)