Catatan Politik oleh Dr. H. Istiawan Witjaksono

Pak Prabowo Yth,

Ada dinamika politik yang besar dalam Pilpres 2019 mendatang.

Saat Ijtimak Ulama pertama, Ulama yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa-Ulama (GNPF-U) mengusulkan nama Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri dan Ustaz Abdul Somad, menjadi bakal cawapres Anda.

Tapi saat diselenggarakan Ijtimak Ulama II, GNPF-U, malah mendukung Anda dan Sandiaga, yang bukan berlatarbelakang ulama.

Dan ternyata, ulama GNPF-U, bukan malah memihak KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI yang digandeng incumbent Jokowi, untuk menjadi bakal cawapresnya.

Benarkah dalam Pilpres 2019 ini, ulama di Indonesia sudah cerdas berpolitik?

Benarkah di Indonesia ini, mulai ada polarisasi ulama? Bahkan benarkah dengan gigihnya Ulama GNPF-U, bermain dalam politik praktis, ulama – ulama lain terutama dari NU dan Muhammadiyah, mulai tidak dianggap perannya ? Ataukah ulama GNPF-U, tak menyukai Jokowi?

Maklum, saat terjadi aksi-aksi menuntut penistaan agama oleh Gubernur DKI, Ahok, ulama GNPF-U, belum seperti sekarang. Kemunculannya justru terjadi saat KH Ma’ruf Amin, mengeluarkan fatwa tentang perbuatan Ahok, termasuk penistaan agama.

Sekarang baru terungkap bahwa Ketua MUI Ma’ruf Amin sampai mengeluarkan fatwa yang menyebutkan Ahok terbukti melakukan aksi penistaan agama. Keputusan dikeluarkan, kata Ma’ruf , karena ada desakan dari sejumlah pihak.


Pak Prabowo Yth,

Anda insha Allah tahu bahwa bakal cawapres Ma’ruf Amin, sebelum ini dekat dengan ulama GNPF-U. Tetapi mengapa saat Ijtimak Ulama II, GNPF-U, tak mendukung Ma’ruf? Akal sehat saya mengatakan inilah riil politik. Artinya dukungan Ulama GNPF-U ke Anda bukan urusan orang alim menularkan ilmu agama untuk kemaslahatan umat, semata. Akal sehat saya mengatakan ada unsur politik dan ekonomi.

Pertanyaan mengapa Ulama GNPF-U mendukung Anda secara konsisten. Tentu ini memiliki background tertentu, sehingga ulama GNPF-U yang ‘’mencuat’’ karena keluarnya fatwa MUI era KH Ma’ruf, tak terpengaruh dengan ‘’manuver’’ Jokowi, urung memilih Mahfud MD ganti merangkul KH Ma’ruf.

Lantas benarkah Ulama Indonesia kini terpecah ke kubuh Anda dan Jokowi/ Riil politik, ada perbedaan pilihan. Pertanyaannya, seberapa jauh ulama-ulama ini mampu mempengaruhi pemilih muslim memilih Anda, atau mencoblos gambar Jokowi-Ma’ruf?

Hal yang menyejukan saya sebagai jurnalis muslim, KH Ma’ruf menyatakan tak ada perpecahan di kalangan ulama akibat beda dukungan di Pilpres 2019.

KH Ma’ruf malah menegaskan ulama yang alim, hafal Alquran, dan ahli ibadah justru mendukung dirinya dan bakal capres Joko Widodo (Jokowi).

"Nggak pecah. Ada yang ke sana, ada yang ke sini. Jangan dibilang pecah. Kecenderungan. Ya kami yakin ulama yang betul-betul ulama. Ulama yang alim, hafal quran, kemudian ahli ibadah itu justru mendukung kami. Satu aja udah ngalahin semua itu. Orangnya alim, hafal Quran, ulama betulan itu. Jadi saya optimis," kata Ma’ruf di Rumah Kiai Ma’ruf Amin (KMA), Jalan Saharjo, Jakarta Selatan, Minggu (16/9/2018).

Sementara, Ketua GNPF-U Yusuf beranggapan perpecahan ulama sebenarnya telah terjadi.

"Mengenai cawapres ulama, memecah. Ya semestinya kalau tidak mau pecah, jangan angkat calon wapres yang ulama," kata Ketua GNPF-U Yusuf Martak, seperti menyindir Jokowi. Pernyataan Yusuf ini disampaikan di lokasi Ijtimak Ulama II, Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Minggu (16/9/2018).


Pak Prabowo Yth,

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, ulama adalah orang yang ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama Islam.

Kata ulama sendiri, berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak dari kata ‘aalim. ‘Aalim adalah isim fa’il dari kata dasar:’ilmu. Jadi ‘aalimadalah orang yang berilmu dan ‘ulama adalah orang-orang yang punya ilmu."Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberikan ilmu (ulama) beberapa derajat"(QS. Al-Mujadalah: 11)
Ulama dari sejarah dari Arab adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari .

Wikipedia menjelaskan makna sebenarnya dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti, kemudian arti ulama tersebut berubah ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam.

Nah, ulama Indonesia adalah warga negara Indonesia. Status seseorang disebut ulama, karena keilmuannya dalam beragama. Akal sehat saya ulama bukan profesi berdakwah. Ulama bisa menjadi seorang cendekiawan.

Sayang sampai kini belum ada sertifikasi ulama, sehingga siapa pun bisa menyebut dirinya adalah ulama.

Sungguh mengejutkan di Madura, pernah terjadi para ulama didata oleh aparat kepolisian di Jawa Timur. Pertanyaan dalam pendataan para ulama itu hingga detail pribadi, seperti tanggal lahir. “Memang ada pendataan terhadap ulama di Madura,” kata KH Fadholi Muhammad Ruham kepada wartawan di sela acara ‘Silaturahmi Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin dengan Ulama Se-Madura dan Tapal Kuda’ di gedung Tri Brata, Mapolda Jatim, Jalan A Yani, Surabaya, Jumat (3/2/2017).

Pendataan itu sempat membuat para ulama gerah. Karena pertanyaan petugas pendata hingga detail pribadi ulama. “Yang saya tahu, pertanyaannya sampai tanggal lahir,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fudhola’, Pademawu, Kabupaten Pamekasan.

Dalam acara silaturahmi ini, para ulama memakluminya setelah mendapatkan penjelasan langsung dari Kapolda tentang maksud pendataan tersebut. “Ternyata, dari penjelasan Pak Kapolda, itu kesalahpahaman dari petugas,” terangnya.

Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin mengakui meminta anggotanya di daerah-daerah untuk mendata ulama serta tempat pariwisata unggulan. Tujuan pendataan itu untuk menjalin silaturahmi kapolda dengan ulama.


Pak Prabowo Yth,

Sejarah Islam mencatat bahwa dalam urusan politik dan manajemen kenegaraan pernah diserahkan kepada ahli ilmu (ulama) sebagaimana pada awal-awal Islam.

Islam mencatat pada awal-awal Islam, para Khalufa’ur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), selain menjadi pemimpin juga adalah ulama di kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Umar bin Abdul Aziz, adalah seorang mujtahid, dan pembaharu abad pertama dalam Islam. Dia juga seorang khalifah.

Kini, zaman telah berubah. Artinya Indonesia bukan Negara Islam. Indonesia terdiri warga Negara yang memiliki agama beragam.

Pertanyaannya, apakah benar sekarang ini semangat keberagamaan melemah?

Berdasarkan peristiwa demi peristiwa politik, kebhinekaan Indonesia mulai tergerus. Antara lain mulai ada yang mempersoalkannya.

Otomatis politik yang diterapkan saat ini bukanlah siyasah syar’iyah (politik yang sesuai syariat), melainkan politik keberagaman. Bahasa lain, politik transaksional. Padanannya Politik kepentingan,

Gambaran ini tak ubahnya politik Machiavelli yang menghalalkan segala cara untuk melanggengkan kekuasaan.

Saya mengamatri, mayoritas politisi Indonesia saat ini umumnya bukan orang yang faham agama Islam. Padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.

Jujur, dari pergaulan dengan sejumlah politisi, saya menarik kesan mayoritas politisi Indonesia berpolitik sekaligus berbisnis atau berpolitik dengan cara atau ilmu bisnis.

Artinya, mayoritas politisi berpolitik untuk kehidupan rumah tangganya, partainya dan kekuasaannya.

Nah, dalam urusan politik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi waSallam pernah bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kedustaan, saat itu pendusta dipercaya, sementara orang jujur malah didustakan, saat itu para pengkhianat diberi amanah, sedangkan orang yang menjaga amanah justru dikhianati , dan saat itu para Ar Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya: “Apakah Ar Ruwaibidhah itu?” Rasulullah menjawab: “Seseorang yang bodoh tapi sok mengurus urusan orang banyak.”

Sekarang saat tahun politik, ulama yang adalah warga Negara Indonesia juga, menurut akal sehat saya, tidak pantas dilarang berpolitik.

Justru aneh, bila pemilik otoritas melarang ulama terjun dalam dunia politik. Maklum, dalam kesejarahan Islam, politik adalah salah satu sisi yang diatur oleh Islam.

Akal sehat saya mengatakan adalah suatu kemunduran sekiranya orang alim dan shalih tidak diberi ruang untuk berpolitik lebih leluasa. Maka itu, tampilnya KH Ma’ruf Amin maju menjadi calon orang dua di negeri ini bisa diharapkan perannya, bukan menjual agama, tetapi melakukan amar mahruf nahi munkar. Antara lain, membongkar kezaliman di kementerian dan pemerintahan daerah.

Maka itu, saya meski bukan kader dan simpatisan Anda, dengan menggunakan akal sehat untuk menyemangati Anda agar mau mengajak ulama berpolitik lebih banyak untuk imbangi kaum sekuler.

Akal sehat saya berkata, tentu bukan ulama GNPF-U belaka yang perlu Anda ikutsertakan dalam tim sukses Anda. Anda pun bisa mengajak ulama-ulama NU dan Muhammadiyah.

Saatnya ulama diajak berperan mewujudkan Negara yang cinta damai seperti yang dipikirkan Gus Dur.

Jujur, saya sendiri mengakui bahwa Gus Dur, ulama Islam yang sangat dihormati dan disayangi oleh semua umat beragama.

Kharisma Gus Dur, seperti ini tidak akan diperoleh ulama ulama yg mengajarkan kebencian dan ancaman pada yg berbeda agama. Apalagi sesame Islam, yang berbeda pilihan capres.

Suka atau tidak, sadar atau belum, Gus Dur, era kepemimpinannya menjalin persaudaraan dalam keIndonesiaan yang berhinneka tunggal ika. Persaudaraan ini adalah sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pejuang dan pendiri bangsa dan negara Indonesia.

Saya memberi semangat kepada ulama-ulama di Indonesia, siapa takut berpolitik. Mari menjadi ulama alim dan berilmu serta sejuk membangun persaudaraan seperti Gus Dur. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)