Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Pak Jokowi Yth,

Anda adalah petahana. Tetapi sepertinya pada pilpres periode kedua ini, Anda grogi. Anda terkesan ragu dalam memilih cawapres.

Prof Mahfud MD, mantan ketua Mahkamah Konstitisi yang pernah dihubungi Istana, untuk menyiapkan dokumen pencapresan, ternyata tidak jadi Anda umumnya sebagai cawapres Anda. Sebaliknya Anda malah mengumumkan Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin. Ada apa yang sebenarnya?

Mahfud sendiri mengaku, perubahan ini sebagai peristiwa politik biasa. Tetapi sebagian rakyat, termasuk saya, tidak melihat ini peristiwa politik biasa. Perubahan dadakan ini feeling saya ada manuver politik yang berasal dari salah satu anggota koalisi.

Apalagi yang membocorkan lebih dulu adalah Sekretaris Jenderal PKB Abdul Kadir Karding.

Kadir Karding memberitahu wartawan, sebelum Jokowi mengumumkan secara resmi Ma’ruf Amin, Ketua MUI yang juga Rais Aam Nahdlatul Ulama.

Karding mengatakan, keputusan Jokowi memilih Ma’ruf Amin keluar saat rapat bersama sembilan ketua umum dan sekjen partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja.

Informasi yang saya peroleh dari internal PKB sendiri, perubahan mendadak nama Mahfud MD ke KH Ma’ruf Amin, karena protes dari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Kabarnya, Muhaimin tak setuju Mahfud yang dipilih. Bila dipaksakan, PKB akan keluar dari koalisi.

Pak Jokowi Yth,

Anda apa tahu bahwa satu hari sebelum pendaftaran capres di KPU, Mahfud MD sudah hadir di sekitar tempat pertemuan parpol pendukung capres petahana Anda yaitu di depan Plataran Resto, Menteng, Jakarta Pusat.

Sang itu, Mahfud sudah mengenakan kemeja putih panjang dipadu dengan celana panjang hitam.

Ada perasaan kecewa, karena taka da pengumuman. Maka, setelah beberapa lama menunggu, Mahfud memutuskan untuk pulang.

Padahal kabar dirinya akan segera ditunjuk menjadi bakal cawapres kali pertama diberitahukan oleh Mensesneg Pratikno.

Mahfud juga mengaku sudah mengurus surat keterangan belum pernah divonis atas kasus pidana ke pengadilan untuk keperluan cawapres.

Sayang, takdir berkata lain. Parpol pengusung Jokowi lebih memilih Maruf Amin. Pilihan Jokowi, justru diumumkan pada detik-detik akhir. Jokowi, mengumumkan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Ma’ruf Amin, bukan Mahfud MD.

Pak Jokowi Yth,

Data Litbang harian Surabaya Pagi, Prof Mahfud adalah satu-satunya negarawan yang berasal dari Madura. Pria yang suka bicara ceplas-ceplos dan tegas ini sekarang telah menjadi kebanggaan orang Madura.

Oleh karenanya, menjelang Pilpres 2019, nama Mahfud kerap disebut sebagai calon wakil Presiden Joko Widodo. Namanya selalu muncul dalam survei. Malahan elektabilitas Mahfud berada di bawah Wapres Jusuf Kalla. Nama KH Ma’ruf Amin tidak muncul.

sejak awal tahun 2018, menurut survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) ada lima nama tokoh nasional yang laik mendampingi Jokowi. Ini berdasarkan penilaian elit, opinion leader dan massa pemilih nasional.

Mereka adalah Mantan Ketua MK Mahfud MD , Menkeu Sri Mulyani, Ketua PBNU Said Aqil Siroj, Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Zainul Majdi.

Nama Mahfud MD dianggap potensial dari survei tersebut. Maklum, mantan menteri pertahanan era Gus Dur ini memiliki kualifikasi personal tinggi. Terutama dari segi integritas, kompetensi dan empati.

Apalagi, berdasarkan pengalaman politikinya, Mahfud pernah berdiri di legislatif, eksekutif hingga yudikatif. Bahkan dari argumentasi hukumnya, secara empati, Mahfud MD dianggap oleh kalangan akademisi memiliki kemampuan memahami masyarakat yang mumpuni.

Setelah Gus Dur meninggal, namanya, makin populer saat menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi. Pria asal Sampang, Madura, ini dikenal sebagai adil, tegas dan bersih.

Sikap ini merupakan potret sebagaimana mestinya wakil Tuhan di dunia.
Dan setelah pensiun dari MK, H Moh Mahfud MD, kembali menjadi pengajar dan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Prof Mahfud MD juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI (2000-2001). Kemudian Menteri Kehakiman dan HAM (2001), Wakil Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) (2002-2005).

Juga pernah menjadi Rektor Universitas Islam Kadiri (2003-2006), Anggota DPR-RI, duduk Komisi III (2004-2006), Anggota DPR-RI, duduk Komisi I (2006-2007), Anggota DPR-RI, duduk di Komisi III (2007-2008), Wakil Ketua Badan Legislatif DPR-RI (2007-2008), Anggota Tim Konsultan Ahli Pada Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Depkum-HAM Republik Indonesia.

Selain mengajar di Universitas Islam Indonesia (UII), Mahfud juga mengajar di UGM, UNS, UI, Unsoed, dan lebih dari 10 Universitas lainnya pada program Pasca Sarjana S2 & S3. Mata kuliah yang diajarkannya adalah Politik Hukum, Hukum Tata Negara, Negara Hukum dan Demokrasi serta pembimbing penulisan tesis dan desertasi.

Pak Jokowi Yth,

Apakah Anda tahu perasaan masyarakat Madura setelah tokoh kebanggaan warga Madura, tak Anda umumkan sebagai cawapres Anda.

Minggu kemarin (12/8), dideklarasikan masyarakat Madura bersatu di Surabaya. Mereka menyatakan, siap memenangkan Prabowo-Sandi bersama-sama dengan Jaringan Pribumi Indonesia.

Mereka mengambil sikap ini, karena merasa tokoh yang dikagumi warga Madura telah Anda lecehkan.

Koordinator Masyarakat Madura Bersatu, Mohammad Hasan SH, di Surabaya, mengaku kecewa dengan sikap politik Anda yang sudah menciderai harga diri warga Madura.

“Warga Madura, jelas sangat kecewa dengan Jokowi, karena keputusannya membatalkan pencalonan Mahfud MD. Perlu diingat Mahfud MD ini adalah tokoh dan representasi Warga Madura, jika tokoh kami di lecehkan maka Warga Madura Marah, ” Hasan mengingatkan.

Untuk itu, Masyarakat Madura Bersatu tak akan mendukung Anda di Pilpres 2019. Mereka mengambil sikap mendukung Prabowo-Sandi.

Sadar atau tidak, reaksi ini bisa merupakan babak awal kegaduhan politik di Indonesia yang dimulai dari Surabaya.

Akal sehat saya mengatakan, urusan tekanan politik itu biasa. Tetapi komitmen awal Anda yang sudah menugaskan Mensesneg Pratikno, untuk meminta Mahfud MD menyiapkan perangkat resmi menjadi calon cawapres, mestinya menjadi pertimbangan etika dan moral.

Bila benar, pada detik-detik terakhir Cak Imin, memprotes pencapresan Mahfud MD, menggambarkan sebagai politisi, Cak Imim belum mendahulukan kepentingan bangsa yang lebih besar.

Kini, benih kegaduhan politik sudah muncul. Saya berharap protes warga Madura yang ada di Surabaya, tidak memicu permusuhan yang bisa memecah persatuan dan kesatuan bangsa. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)