Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Pilpres 2019 akan digelar pada tanggal 17 April 2019. Berati dihitung sejak hari Senin (13/08/2018) ini saat Anda menjalani tes kesehatan, kurang 240 hari. Sementara Capres Jokowi-KH Ma’ruf Amin, sudah mendahului mengikuti tes kesehatan (12/08/218). Ternyata Anda maju dalam Pilpres untuk yang ketiga kalinya. Apakah Anda akan mengikuti jejak Khofifah, yang tiga kali maju sebagai Cagub Jatim, dan berhasil memenangkan Pilkada. Walahu’alam. Pilpres 2019 ini bakal menarik, karena Jokowi, sebagai petahana, maju untuk periode kedua. Tetapi sejak tahun 2017, sudah ada perlawanan bertagline gantipresiden 2019. Mengapa sampai ada tagline seperti ini. Apakah Jokowi gagal melaksanakan tugas-tugas sebagai Presiden ke-7?. Pertanyaannya, benarkah semua janji kampanye Jokowi pada pilpres tahun 2014 telah dilaksanakan semua? Benarkah angka kemiskinan telah diturunkan oleh pemerintahan Jokowi?. Bagaimana dengan kesejahteraan rakyat yang telah dirumuskan pada Aline ke-4 Pembukaan UUD Tahun 1945 telah datasi oleh Jokowi. Wartawan Surabaya Pagi, Dr. H. Tatang Istiawan, tiap hari, akan menulis dua catatan politik sekaligus untuk Jokowi dan Prabowo Subianto. Berikut catatan politiknya yang pertama.


Pak Prabowo Yth,

Saya pikir Anda berdua bukan politisi tak punya uang. Prabowo, misalnya, saat maju menjadi capres pada Pilpres 2014, melaporkan punya harta kekayaannya senilai Rp 1,67 triliun dan 7,503 juta dolar.

Sandiaga, saat maju menjadi Cawagub DKI tahun 2017, mencatatkan harga kekayaan senilai Rp 3,856 triliun dan 10,347 juta dolar.

Ini harta yang besar untuk ukurang kebanyakan rakyat Indonesia.

Saat jelang pendaftaran Pilpres 10 Agustus 2018 lalu, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief, menggegerkan panggung politik.

Andi Arief menuding PKS dan PAN menerima uang mahar masing-masing mahar Rp 500 miliar, dari Sandiaga Uno, Wagub DKI Jakarta.

Uanu mahar ini menjadi polemik saat nama Sandiaga Uno, belum menjadi calon cawapres Anda.

Sampai Sabtu 4 Agustus 2017, suara yang santer menjadi cawapres Anda adalah Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri dan Ustaz Abdul Somad (UAS). Ini hasil Ijtimak (peristiwa dimana Bumi danBulan berada di posisi bujur langit yang sama, jika diamati dari Bumi) ulama yang dikoordinasi oleh Habib Rizieq Syihab. Saat itu nama Sandiaga Uno, belum muncul.

Selain nama Salim dan UAS, muncul nama kader Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan. Gubernur DKI Anies Baswedan, Ada apa tiba-tiba nama Sandiaga Uno, yang Anda pilih mendaftar di KPU sebagai cawapres Partai Ferindra dan koalisinya, PAN, dan PKS?

"Soal mahar, entah dalam bentuk penaklukan atau kampanye, sudah diakui Sandi Uno," ujar Andi Arief di Twitter-nya, Minggu kemarin (12/8/2018). Sandiana Uno mengakui uang Rp 1 triliun ke PAN dan PKS untuk kampanye.

Jadi, Andi menegaskan, cuitan tentang duit satu triliun itu bukan bohong, seperti yang dituduhkan beberapa elite PAN dan PKS. Malahan kader Partai Demokrat ini meminta PAN dan PKS sadar diri.

Tak tanggung-tanggung, informasi mahar Rp 1 triliun diungkap oleh Andi Arief, dari elite Gerindra Fadli Zon, Prasetyo, Sufmi Dasco dan Fuad Bawazier.

Sandiaga Uno, pada hari Sabtu 11 Agustus 2018 saat di rumah tokoh PAN Soetrisno Bachir menyatakan isu mahar sudah lewat. "Mari kita bangun satu komunikasi yang lebih baik ke depan dan apa yang jadi concern Pak Arief itu jadi concern nasional dan saya akan bicarakan dengan KPK bahwa ke depan harus ada kejelasan sumbernya, bagaimana membiayai kampanye nasional," kata Sandiaga.

Sandiaga menyatakan kicauan kader Partai Demokrat tak memperkeruh suasana Pilpres. Maklum, soal biaya kampanye sampai kini masih multi tafsir. Uno berharap masalah biaya kampanye perlu dibicarakan dengan tokoh-tokoh yang mengerti tentang funding campaign.

Pak Prabowo Yth,

Kalangan pemuka agama faham bahwa kata “mahar” berarti “pemberian seorang calon suami kepada calon isteri, diberikan sebelum akad nikah sebagai tanda ikatan pernikahan (mitsaqan gholiza).

Mahar ini diberikan atas rasa cinta dan kasih sayang. Tujuannya untuk membentuk keluarga yang sakinah guna mewujudkan kebahagiaan dan berketurunan, berdasarkan agama Islam. Oleh kerena itu, dalam pernikahan Islam, pengantin wajib menyebut kalimat Allah, karena mahar ini diberikan berkaitan dengan peristiwa yang suci (sakral).

Nah, dalam konteks politik, belasan tahun kata ‘’mahar’’ bertebaran di hampir semua partai politik.

Sejauh ini, masih terdapat ketidakpahaman atau kesalahpahaman atau pahamnya salah, terkait kata "mahar" . Ini karena maknanya digunakan sebagai “pemberian sejumlah tertentu” sebagai biaya politik, dari para calon kepala daerah untuk mendapatkan rekomendasi dari dewan pimpinan pusat partai politik.

Pemaknaan semacam ini secara hukum bisa didefinisikan sebagai money politics, sogok dan suap, yang dalam bahasa agama disebut risywah.

Kasus uang mahar Rp 1 triliun dari Sandiaga Uno. sadar atau tidak, telah menimbulkan kegaduhan politik. Tak salah mahar semacam itu bisaditafsirkan sebagai "korupsi politik".

Pertanyaannya, apakah sebagai partai politik, Partai Gerindra dan koalisinya, PKS dan PAN dalam pilpres 2019 kali ini membutuhkan biaya yang sangat mahal. Apakah dalam "menggolkan" Anda untuk meraih kekuasaan Presiden, cukup Rp 1 triliuan. Atau apakah uang dari Sandiaga Uno ini Anda catatkan sebagai “pendapatan” pemasukan dana parpol?.

Soal mahar ini juga pernah diungkap oleh La Nyalla Mataliti, yang ingin maju menjadi cagub Jatim 2017.

Ketua Kadinda Jatim ini membeberkan pernah menemui Anda dalam kapasitas Ketua Umum Partai Gerindra. La Nyalla mengaku telah Anda mintai sejumlah uang yang nilainya fantastis Rp 40 miliar.

Uang ini akan digunakan untuk saksi dari 68 ribu TPS dikali Rp 200 ribu per orang dan dikali 2 berarti Rp 400 ribu, sekitar Rp 28 miliar. Uang harus diserahkan sebelum tanggal 20 Desember 2017 sebelum pendaftaran ke KPUD. La Nyalla menyatakan tak sanggup. "Saya ingat Prabowo menyampaikan, kalau enggak punya uang jangan maju, ya uwis," ungkap La Nyalla.

Praktis, dalam satu tahun terakhir ini, sudah dua kali Anda digegerkan uang mahar. Sebelum urusan Cawapres Sandiaga, Anda diguncang soal uang mahar mantan Ketua umum PSSI La Nyalla Mataliiti.

Nah, saya bertanya apakah makar ini memiliki tujuan akhir Anda untuk meraih kekuasaan?. Atau salah satu sarana Anda meraih kemenangan yang tidak siap kalah? Hanya Anda yang tahu. Walahu’alam. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)