Kemacetan yang terjadi di Mayjend Sungkono ini setiap hari terjadi. (Foto:SP/julian dona)

SURABAYA PAGI, Surabaya – Pelebaran jalan yang dilakukan Pemkot Surabaya sudah menghabiskan dana APBD ratusan miliar. Termasuk membangun frontage road di Jl Ahmad Yani, Surabaya. Namun kemacetan lalulintas di kota pahlawan ini tak kunjung terseleseikan. Ironisnya, pembangunan underpass di bundaran Satelit yang digagas Walikota Surabaya Tri Rismaharini malah macet. Sedang mega proyek monorail atau trem yang digadang-gadang sebagai angkutan massal cepat (AMC), tak kunjung terwujud hingga saat ini. Kalah dengan Palembang dan Jakarta yang segera mengoperasikan Light Rail Transit (LRT).

Laporan: Alqomar, Ainul Yaqin, Revil Riangga



Pantauan Surabaya Pagi, Senin (16/7/2018), terjadi penumpukan kendaraan di Bunderan Satelit Mayjend Sungkono, pada siang hari saat jam efektif kerja. Meski overpass sudah selesei dikerjakan, tapi belum dibuka untuk mengurai kemacetan. Sedang underpass malah mangkrak, lantaran pengembang yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) sambat soal pendanaan.


Mandeknya proyek underpass ternyata berdampak pada kemacetan di sepanjang Jl Mayjen Sungkono. Apalagi, dibuka pertigaan baru Mayjen Sungkono-Bintang Diponggo, di depan Ciputra World, dengan memasang traffic light (TL) di sana. Ini justru membuat kemacetan di kawasan Mayjen Sungkono.


Rohim, salah satu pengemudi taksi online, mengaku perjalanan dari Surabaya barat ke pusat kota menjadi lebih lama, karena macet di Mayjen Sungkono dan HR Muhammad. Di jalan Boulevard pun kerap terjadi kemacetan. Dampaknya, waktu tempuh menjadi lebih lama. Ia mencontohkan, saat ini perjalanan dari Citraland ke pusat kota Surabaya memakan waktu hingga 2 jam pada saat jam-jam sibuk pulang kerja dan berangkat kerja. Hal tersebut menurutnya menjadikan kota Surabaya menjadi tidak nyaman.


“Dua jam mas dari Citraland ke pusat. Maksudnya kalau waktu orang berangkat kerja dan pulangnya. Tapi kalau tidak ya paling satu jam sampai. Tapi kadang siang gitu juga macet,” ucapnya usai mengantarkan pelanggan.


Bottlenect

Selain di Surabaya barat, bunderan Waru dan bundaran Dolog juga terjadi bottle neck hingga terjadi penumpukan kendaraan. Bunderan Waru, titik bertemunya kendaraan yang keluar dan masuk Surabaya menjadi seakan tak bergerak ketika memasuki sore hari pukul 15.00 hingga 19.00 WIB. Sedang di bunderan dolog atau Taman Pelangi, juga terjadi hal serupa. Sebab, terjadi pertemuan antara pengguna jalan dari Jalan Jemur Andayani dan Jalan Ahmad Yani dari arah utara.


Hakim, salah satu pengendara sepeda motor menyebut kemacetan itu terjadi karena semakin banyaknya jumlah kendaraan. Menurutnya harus ada regulasi kepemilikan kendaraan atau mungkin pengalihan dari kendaraan pribadi ke angkutan massal. “Satu orang punya satu mobil, satu motor. Semua pengen dinaiki, (satu) mobil dinaiki satu orang kan akhirnya numpuk semua di jalan. Angkot sekarang gak menarik karena lama suka ngetem,” ungkapnya saat ditemui di sela-sela perjalanannya.


Ditanya, soal kebijakan ganjil genap seperti di Jakarta, Hakim merasa setuju. Setidaknya, kebijakan tersebut bisa menekan membludaknya kendaraan yang turun ke jalan. “Boleh-boleh saja, perlu dicoba sepertinya,” jawabnya singkat.


Tidak cukup di situ, kemacetan juga terjadi di tengah-tengah kota Surabaya, yakni di Jalan Basuki Rahmat dan juga Jalan Panglima Sudirman. Hampir sama kemacetan rata-rata terjadi di jam sibuk pagi dan sore. Basuki Rahmat tepatnya di sepanjang depan Tunjungan Plaza hingga Traffic Light Blauran.


Macet di MERR

Menjadi menarik perhatian juga ada di wilayah timur Surabaya, Jalan Dr. Ir. Soekarno atau yang disebut jalan MERR juga menjadi langganan macet setiap harinya. Padahal, ini jalan baru yang dirintis Pemkot Surabaya. Kemacetan di kawasan ini biasa terjadi pada jam sibuk. “Saya baru keluar gang saja sudah gak dapat tempat mas, macet masyaallah jalan ini,” gerutu Afina salah seorang warga Penjaringan Rungkut Surabaya.


Ia mengaku membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai ke pusat kota. “Biasanya kalau mau ke TP (Tunjungan Plaza) hampir 1,5 jam lebih saking macetnya ini,” kata perempuan yang hobi nonton bioskop tersebut.


Ditanya soal solusi apa yang tepat untuk mengatasi kemacetan yang terjadi, Afina mengaku tidak tahu menahu. “Gak tahu deh mas, biar jadi urusannya polisi aja,” jawabnya singkat.


Jumlah Kendaraan

Kasatlantas Polrestabes Surabaya, AKBP Eva Guna Pan Pandia menyebut, penyebab utama kemacetan di Surabaya adalah meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang ada di jalanan. "Sejauh ini memang penyebab utama adalah tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang ada di Surabaya. Kita tahu jika Surabaya adalah kota terpadat kedua setelah Jakarta," kata Pandia, Senin (16/7) siang.


Akibat pertumbuhan jumlah kendaraan itu, dari data Satlantas Polrestabes Surabaya saat ini ada dua titik rawan kemacetan yakni di bundaran Bulog dan depan RSI Wonokromo. "Dua titik sejauh ini, ada di RSI Wonokromo dan Bundaran Bulog, pertama volume ya, sama traffic light juga," tandasnya.


Habiskan APBD

Data yang dihimpun Surabaya Pagi, Pemkot Surabaya sudah menghabiskan dana ratusan miliar untuk melakukan pelebaran jalan. Frontage Road sisi barat Jl A Yani, misalnya. Pembangunannya dilaksanakan mulai 2012-2016, memiliki panjang total 4,3 kilometer. Pengerjaan FR sisi barat ini menghabiskan anggaran total sebesar Rp 125 miliar. Jalan Frontage memiliki lebar rata-rata 17,5 meter dengan empat lajur (satu arah) dan lebar pedestrian 4,5 meter


Tahun 2017, Pemkot sudah menyelesaikan FR ini hingga RSI Wonokromo. Untuk menyelesaikan hingga Joyoboyo, Pemkot menganggarkan melalui APBD Surabaya 2018. Termasuk menyiapkan anggaran dana Rp 40 miliar untuk membangun double jembatan di Joyoboyo.


Total anggaran yang dialokasikan untuk infrastruktur pada tahun 2018 ini sebanyak 22,86 persen dari APBD 2018 sebesar Rp 9,113 triliun, yakni senilai Rp 2,083 triliun. Anggaran ini di dalamnya sudah termasuk proses pembangunan Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT), Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB) dan menuntaskan Middle East Ring Road (MERR) di segmen paling selatan agar terhubung ke Tol Waru Juanda.


Soal Underpass

Mangraknya proyek underpass Mayjen Sungkono berimbas pada arus kemacetan lalu lintas, disikapi DPRD Surabaya. Komisi C DPRD Surabaya memberikan deadline ke Real Estate Indonesia (REI) Jatim selama 10 hari untuk memastikan kelanjutan proyek underpass bunderan Mayjen Sungkono. Ini dilakukan karena proyek yang dibangun sejak 2015 tersebut mangkrak.


Hal tersebut disampaikan dalam hearing Komisi C dengan perwakilan REI Jatim, Senin (16/7). Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya Syaifuddin Zuhri meminta ketegasan REI Jatim terhadap proyek underpass senilai Rp 74,3 miliar tersebut. Hingga saat ini proyek tersebut baru rampung 51 persen. “Kedatangan REI dalam hearing ini untuk kita mintai penjelasan nasib underpass," katanya.


Anggota Fraksi PDIP ini menegaskan, dari keterangan REI baru terkumpul anggaran Rp 39 miliar. Padahal, dengan inflasi serta naiknya harga bahan bangunan, jumlah anggaran yang dibutuhkan untuk proyek underpass bisa mencapai Rp 90 miliar. “ Makanya kami juga minta REI hitung lagi butuhnya anggaran berapa,” ucapnya.


Dia menambahkan, Komisi C minta kejujuran dari REI terkait komitmen menyelesaikan underpass. Sehingga, proyek pemecah kemacetan itu tidak menggantung nasibnya. Dalam deadline waktu 10 hari Komisi C minta REI berkoordinasi dengan para pengembang. “ Termasuk mendata pengembang mana yang masih sanggup dan tidak untuk urunan,” jelasnya.


Jika REI tidak sanggup, maka jalan terakhir akan diback up melalui APBD. "Jangan janji tapi tidak dilaksanakan. Masyarakat juga butuh kepastian," terangnya.


Janji REI

Sementara itu, Wakil Ketua REI Jatim Christian Djaja mengatakan, sebenarnya REI berkomitmen untuk menuntaskan proyek underpass. Namun, karena lesunya ekonomi ada hambatan terkait pembiayaan. “Proyek underpass sangat membantu kami karena itu kami optimis bisa menyelesaikan,” katanya.


Dia mengaku, dalam kurun waktu 10 hari akan merapatkan dengan anggota REI terkait hasil hearing. Kondisi ekonomi saat ini membuat para pengembang kesulitan mencari dana. Hal itulah yang membuat proyek underpass molor. "Sebenarnya kami ingin selesaian tapi uangnya masih belum siap," jelasnya.


Menurutnya, keterlambatan penyelesaian proyek underpass karena ada sedikit kendala dalam keuangan. Namun pihaknya berkomitmen untuk secepatnya akan menyelesaikan proyek underpas ini. Christian mengatakan, tidak terselesainya proyek ini akibat naiknya US dollar terhadap nilai tukar rupiah, sehingga proyek tersebut belum terselesaikan sesuai dengan perjanjian dengan Pemerintah kota Surabaya per Juni 2018.


“Progres yang telah selesai kami kerjakan sekitar 50 persen. Namun proyek overpass sudah terlebih dahulu kami kerjakan dan sudah selesai,” pungkas Christian