Catatan Hukum Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Kapolri dan Kapolda Yth,

Saat saya masih kecil, pernah mengikuti permainan ular tangga.

Permainan ini dimainkan oleh 2 orang atau lebih. Papan permainan dibagi dalam kotak-kotak kecil dan di beberapa kotak digambar sejumlah "tangga" atau "ular" yang menghubungkannya dengan kotak lain. Konon permainan ini diciptakan pada abad ke 19.

Dalam permainan ini, tidak ada papan permainan yang baku. Maka itu, dalam permainan ular tangga - setiap orang dapat menciptakan papan mereka sendiri dengan jumlah kotak, ular dan tangga yang berlainan.

Dan setiap pemain, bisa memulai dengan bidaknya di kotak pertama. Kemudian secara bergiliran melemparkan dadu. Lalu, bidak dijalankan sesuai dengan jumlah mata dadu yang muncul. Bila pemain mendarat di ujung bawah sebuah tangga, mereka dapat langsung pergi ke ujung tangga yang lain. Bila mendarat di kotak dengan ular, mereka harus turun ke kotak di ujung bawah ular. Pemenang adalah pemain pertama yang mencapai kotak terakhir.

Biasanya bila seorang pemain mendapatkan angka 6 dari dadu, mereka mendapat giliran sekali lagi. Bila tidak, maka giliran jatuh ke pemain selanjutnya.

Kira-kira gambaran usaha yang dijalankan Budi Santoso, Klemens Sukarno dan Aris Birawa di Sipoa, bisa seperti itu.

Tapi sekarang, diantara tiga pemain di Sipoa, ini, tak satupun yang mengklaim sebagai pemenang. Ketiganya sama-sama sudah dijebloskan ke tahanan oleh Direskrimum Polda Jatim.

Artinya, permainan bos-bos Sipoa, selama ini sudah masuk dalam tahap game over.

Jadi, apa yang dialami oleh bos-bos Sipoa ini adalah sebuah resiko dalam menjalani permainan bisnis property bak bermain game.

Dan sekarang Sipoa Grup yang dirintis Budi sejak tahun 2006, tampaknya sudah memasuki game over pada tahun 2018.

Praktis Budi dkk, selama ini telah memainkan bisnis bak ular tangga selama 12 tahun. Luar biasa kecanggihannya.

Kapolri dan Kapolda Yth,

Diantara 22 perseroan yang didirikan Budi Santoso, dkk dalam Sipoa, ada satu PT yang dimainkan model ular tangga.

Perseroan ini bernama PT Sipoa International Jaya (SIJ).

Pertama kali didirikan di Notaris Irianto Tanuwijaya,SH. Berdasarkan Akte Notaris No 84 tanggal 13 Mei 2014, Budi Santoso, menyebut dirinya sebagai Direktur utama. Dalam Akte ini, Budi menyebut telah menyetorkan modal dasar sebesar Rp 1 Miliar. Kemudian, Rusdi Tumbelaka, mertua Aris Birawa, menyetor modal dasar sebesar Rp 250 Juta. Rusdi, bos Sipoa yang usianya tertua diantara petinggi Sipoa, dicatatkan sebagai Komisarisnya.

Tapi pada tahun 2016, di notaris yang sama, Budi Santoso, minta dibuatkan Berita Acara (BA) No 30. Akte BA ini 20 April 2016, mengenai penjualan saham.

Sehingga saham dua dedengkot Sipoa ini didistribusikan merata. Budi Santoso dan Rusdi Tumbelaka, tetap dapat porsi yang besar. Menyusul Klemens, Aris Birawa, RonnySuwono dan Suryono. Komisaris utamanya, ditunjuk Ir.Rudianto Indargo, seorang kontraktor pemancang tiang beton berbendera PT. Teno Tract Indonesia

Pada saat launching tahun 2016 lalu, Budi Santoso, kepada publik mengatakan akan mengucurkan investasi sebesar Rp 2 triliun. Dana sebesar ini untuk membangun kawasan Hongkong in Surabaya (HIS).

Kawasan ini berupa hunian ala Hongkong yang dipadu dengan pusat perbelanjaan dan restoran serta tempat transit dan istirahat. Maklum lokasi tanahnya di Tambakoso, memang dekat bandara. Lokasi ini masih dalam bentuk sebagian rawah dan sebagian sudah tanah urug.

Di lokasi ini juga direncanakan akan dibangun rumah sakit, sekolah, dan sejumlah bangunan yang prestisius .

Permainan ular tangganya, saya temukan dari antara pernyataan saat lounching, realita kepemilikan tanah, gegeran diantara pengurus, somasi dari pemilik tanah hingga jeritan kastemer HIS.

Saya pernah diajak oleh Ronny Suwono, melihat lahan-lahan yang diklaim milik Sipoa. Saat memasuki lahan dihamparan tanah berumput, ada dua tulisan bernada mengiklankan. Pertama lahan ini untuk proyek HIS. Tapi tak jauh ada plakat bertuliskan “Surabaya citywalk dan Sidoarjo citywalk”. Saya menanyai Pendeta Ronny, sebenarnya lahan 10 ha ini untuk apa?. Ronny, yang siang itu berpenampilan bak mandor proyek, tak bisa menjawab. Apalagi saat saya tanya, kapan proyek HIS ini akan dibangun.

Suatu ketika saya duduk satu meja dengan Rusdi Tumbelaka. Pria yang suka berbatik tulis ini, ingin lahan untuk proyek HIS, segera di sterilkan bak kota Hong Kong, yang tak ada lalat.”Saya ingin di HIS tidak boleh ada satu lalatpun bertebaran,” harap Rusdi.

Beberapa bulan kemudian, Klemens terkejut, Budi Santoso, yang membuat PPJB (Perjanjian Perikatan jual Beli), disomasi oleh kuasa hukum pemilik tanah yaitu LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia).

Ternyata, Budi Santoso, belum melunasi harga lahan ke LDII. Dalam perjanjian, tanah dihargai Rp 196 miliar. Tetapi Budi hanya membayar Rp 21 miliar. Padahal proyek sudah ditawarkan dan menurut Budi, laku bak kacang goreng.

Tetapi mengapa kekurangah lahan belum dilunasi dan ada apa proyek tidak segera dibangun.

LDII berulang kali somasi, untuk membatalkan perjanjian dan uang Budi akan dikembalikan.

Merasa dicurangi, pengurus LDII mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Sidoarjo. Tak tahu dengan rayuan apa, pengurus LDII, mencabut gugatannya. Alasan ada perdamaian.

Ternyata, ketika kemerahan kastemer apartemen Royal Afatar World (RAW), mulai terungkap. Temuannya, janji damai yang dimintakan Budi, tak diwujudkan. Akhirnya lahan seluas 10 ha yang sudah dikuasai lagi oleh LDII, tetap dipagar seng. Untuk pemagaran seng ini, pengurus LDII mengeluarkan biaya sebesar Rp 350 juta.

Padahal, promosinya lahan seluas 10 ha ini bagian dari 230 hektar milik Sipoa yang dipopulerkan Grup.

Pada tahap promosi, Budi Santoso, menyatakan tahun 2017 akab dibangun lima tower apartemen. Lima tower ini menghasilkan 3.900 unit apartemen. Luar biasa gambar yang dipamerkan. Lima Tower ini akan dikelilingi office building, sekolah internasional, dan rumah sakit.

Tiap tower tingginya maksimal hanya 40 meter. Maklum, lokasinya dekat dengan bandara dan agar tidak mengganggu penerbangan.

Budi Santoso, mempromosikan desainnya digarap ahli dari Singapura dan Jepang.

Dipromosikan, tower satu yakan dibangun 900 unit apartemen. Ditargetkan tahun 2019 sudah rampung dan kuncinya akan diserahkan ke pembeli.

Pernyataan silih berganti mulai akan membangun apartemen murah, kuasai tanah 100 ha, suasana proyek HIS yang tak boleh ada lalat hingga menyebut pendanaan Rp 2 triliun ini tak ubahnya permainan ular tangga.

Mempelajari skandal Sipoa sekarang ini, saya bertanya inikah yang dinamai pengembang licik dengan sejumlah trik seperti dalam permainan ular tangga.

Sekiranya kelicikan dan kecurangan dalam proyek RAW tak terungkap, berbagai proyek kecil (apartemen) sampai perkantoran dengan lima lantai, bisa lolos dari jangkauan Polri. Inilah bisnis properti yang mencari untung cepat dan besar.

Atas permainan proyek di Sipoa ini saya teringat pepatah Inggris yang mengatakan “Kejujuran itu mahal harganya, sebuah kecurangan dapat menghancurkan seribu kejujuran anda, sebaliknya seribu kejujuran anda belum tentu dapat menghapus sebuah kecurangan anda.”

Kapolri dan Kapolda Jatim Yth,

Anda insha Alloh tahu bahwa perbuatan curang dan khianat adalah fenomena negatif.

Bagi sebagian orang yang lemah jiwanya dan ‘murah’ harga dirinya, perbuatan curang ada yang menjadi kebiasaan, seolah perbuatannya bukan lagi dianggap perbuatan dosa. Dengan fakta-fakta yang saya temukan selama penyamaran, saya temukan praktik bisnis property yang bila dibumbui dugaan kecurangan, dan kebohongan, persoalah. Padahal, dalam agama dinyatakan perbuatan licik dan curang adalah perbuatan buruk dan tidak terpuji.

Saya dikasih tahu oleh guru ngaji saya, bahwa walau pun hanya sedikit, harta yang didapatkan dengan jalan berbohong adalah harta yang haram.

Dalam persepsi sebagian besar orang China, suati perdagangan adalah positif. Dunia dagang adalah dunia yang menjanjikan kesenangan, kemewahan, dan kebahagiaan.

Dunia dagang adalah dunia yang menjanjikan kerja tidak keras = hasil kecil dan kerja keras = hasil makin besar.

Ajaran orang China lainnya, mengajarkan berbisnis sehat itu harus terbuka dan berlapang dada. Termasuk dalam menghadapi situasi sulit.

Nah, tipe pelaku bisnis seperti Budi, Klemens dan Aris, sama-sama pekerja keras yang rajin. Terlepas dari cara melakukan dugaan curang, Budi dan Klemens, yang sudah saya kenal sejak tahun 2006 adalah sosok anak manusia yang suka mencari jalan keluar dalam menghadapi situasi sulit, seperti saat ini. Jalan keluar yang dipilihnya adalah menyerahkan diri agar permainan kotak ular ini segera ditutup dan tak memakan warga yang memang tak ngerti permainan seperti ini. (tatangistiawan@gmail.com bersambung)