Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)

Pemilih Cerdas di Jatim,
Rabu pagi ini (27/06/2018) Anda bisa menggunakan hak pilih di TPS (Tempat Pemungutan Suara) terdekat dari rumah Anda.
Untuk urusan pencoblosan, Anda sudah bisa mendatangi tempat pemungutan suara pada pukul 07.00 wib. Kemudian pada pukul 13.00, pemungutan suara ditutup.
Syarat sebagai pemilih tetap (DPT) Anda cukup membawa e-KTP asli atau surat c6 memilih. Bahkan membawa surat c6 tapi tidak membawa e-KTP asli tetap diterima.
Mulai pukul 13.00 wib, Anda sudah bisa mengikuti hasil Quick Count di beberapa Televisi swasta. Selain riil Count dari KPU. Bahkan ada beberapa TV swasta sejak pukul 09.00, sudah menayangkan Live Streaming Pilkada Serentak 2018 selama 9 jam Nonstop.
Menariknya, pilkada di Jatim kali ini menjadi perhatian dunia, karena tercatat ada 150 orang pengamat yang berasal dari 25 negara. ikut memantau proses demokrasi.
Bahkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun menampilkan hasil perhitungan cepat dari berbagai sumber survey. Harapan Pemprov Jatim ikut melakukan hitungan cepat untuk menciptakan Pilkada Jawa Timur yang bersuka-cita sekaligus mendapatkan pemimpin yang amanah.

Pemilih Cerdas di Jatim,
Kali ini, saya tidak membuat surat terbuka, tetapi surat Cinta. Saya ingin menulis menggunakan perasaan cinta yang jernih dan tulus kepada pemilih cerdas.
Anda sebagai pemilih cerdas, saya harapkan bisa memberi semangat untuk memilih, bukan acuh tak acuh alias Golput.
Saya ingin ikut memberi semangat pada Anda, untuk menggunakan hak pilih. Padahal, saya bukan penyelenggara Pilkada, seperti KPU (Komisi Pemilihan Umum).
Alasan saya menulis surat cinta kepada Anda, karena bagi saya, Pilkada era generasi now dan digital mempunyai beberapa fungsi yang masing-masing tak terpisahkan. Salah satunya adalah, sebagai sarana legitimasi politik.
Mengingat, melalui pilkada, keabsahan kepala pemerintahan daerah provinsi Jatim pasca Gubernur Dr. Soekarwo, yang dikenal mendulang prestasi banyak, dapat diteruskan oleh Gubernur yang cerdas, minimal secerdas Pak De Karwo.
Keikut sertaan saya menulis surat cinta kepada Anda, pemilih cerdas juga didasarkan semangat saya dalam mewujudkan nilai-nilai demokrasi yang dicita-citakan sejak founder father kita mengklomasikan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dengan Anda semakin berpartisipasi dalam Pilkada serentak 2018 ini, saya yang sudah usia kepala enam, ingin tahu bagaimana perwujudan asas kedaulatan di tangan rakyat. Artinya mencerminkan suatu hubungan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, yang tidak semu seperti era Orde Baru. Maklum, bagi saya, jurnalis yang telah berprofesi sejak tahun 1977, ingin menikmati Pilkada yang bersukacita sebagai instisari dari pada demokrasi.


Pemilih Cerdas di Jatim,
Saya berharap Anda saat memasuki bilik suara, jangan terpancing iming-iming uang (money politic) atau intimidasi. Anda sebagai pemilih produktif yang jumlahnya 40% dari total pemilih 30 juta di Jatim.
Menurut perhitungan pemerintah bahwa hampir semua rumah (di desa sekalipun) memiliki satu televisi, saya optimistis, Anda yang usia produktif antara 17 tahun sampai usia 40 tahun, tidak melewatkan debat publik paslon (pasangan calon) Gubernur Jatim, periode sekarang.
Akal sehat saya mengatakan bahwa pasca kepemimpinan Pak De Karwo, ‘’tradisinya’’ Provinsi Jawa Timur harus tetap dipimpin oleh tokoh cerdas yang benar-benar memiliki kualitas dan kemampuan mengelola daerah Jawa Timur.
Apalagi sekarang, Anda hampir separuh dari jumlah pemilih yang masuk dalam katagori generasi now.
Generasi milenial ini dikenal kritis, individualistis, tidak gaptek dan cerdas. Lebih-lebih Provinsi Jatim yang selama 10 tahun ini telah ditorehi prestasi nasional dan internasional atas kepemimpinan partisipatoir Pak De Karwo,
Jadi menurut akal sehat saya, Jawa Timur kini dan ke depan tidak bisa lagi dipimpin oleh orang yang sembunyi di balik kepalsuannya.
Saya yang mengikuti trend politisi nasional sejak tahun 2015, memperhatikan pemimpin politik modern era digital dan generasi now, perlu memiliki pemikiran yang kompleks dan kemampuan analisa yang tinggi.
Pemimpin yang demikian, S tidak hanya mempertontonkan pencitraan belaka melalui media-media televise dan penampilan road show, menutupi kekurangannya dengan kelakar atau mengeluarkan joke-joke.
Maka itu, sarana debat publik yang disiarkan secara nasional sejumlah TV swasta, agar publik mengetahui pemikiran para kandidat cagub Jatim 2018-2023.
Pemahaman saya dengan berdebat terbuka face to face, Gubernur Jatim ke depan hanya pimpim pengekor, penyontek dan apalagi tidak inovatif. Gambaran pemimpin yang demikian mendekati pemimpin ber-IQ rendah.
Apalagi, cagub yang sekarang maju, sama-sama muslim dan dari kaum Nahdliyin. Dalam Islam, kriteria pemimpin yang layak dilantik adalah Shiddiq, Jujur, bukan pendusta atau PHP (Pemberi harapan palsu).
Selain harus bisa mencerminkan pribadi yang tabligh, yaitu pemimpin yang tidak menyembunyikan Kebenaran. Disamping harus amanah yaitu terpercaya dan tidak khianat sumpahnya. Termasuk harus fathonah yaitu cerdas yaitu tidak ber-IQ Rendah dan harus berani adil yaitu Taat Aturan dan mempunyai ilmu dan berbadan kuat (Al Baqarah:247)

Pemilih Cerdas di Jatim,
Dalam tiga kali debat publik, saya menyerap ada paslon yang sekdar membaca visi dan misi. Ada paslon yang tidak hanya membacakan visinya, tetapi menjawab pertanyaan panelis dengan pendekatan yang visioner.
Saya memperhatikan pasangan calon Khofifah dan Emil Dardak, mencerminkan pemimpin yang visioner yaitu mempunyai suatu pandangan visi misi yang jelas serta runtut. Keduanya menurut saya termasuk cagub dan cawagub cerdas dalam megamati suatu kejadian di masa depan. Beberapa pertanyaan panelis dijawab dengan memberi penjelasan dan gambaran yang rijid dan disertai data.
Bahkan saya termasuk jurnalis yang terpukau dengan jawaban paslon nomor satu. Keterpukauan saya, karena pasangan ini sering membangkitkan semangat pemirsa terutama generasi cerdas. Saya mencermati generasi cerdas bukan monopoli usia generasi now, generasi seusia saya, selama suka membaca dan bertukar pikiran, tak mau dianggap tidak cerdas.
Saya optimistis, sekiranya Khofifah dan Emil terpilih sebagai Gebernur Jatim menerus Pak De Karwo, keduanya bisa mengikuti suami mbak Nina, dalam menggerakan semua komponen di Provinsi Jatim. Insha Alloh, Provinsi Jatim dapat berkembang. Mengapa?, karena cagub dan cawagub yang visioner umumnya mempunyai suatu pandangan terhadap suatu visi yang ingin di capai.
Sebaliknya, paslon nomor 2, Gus Ipul, dalam tiga kali debat, saya catat tidak sungkan memamerkan “prestasi” selama mendampingi Gubernur Jawa Timur Dr. Soekarwo.
Pameran ‘’prestasi’’ semacam ini menurut ilmu manajemen kurang layak. Apalagi dalam teori kepemimpinan dan organisasi. Mengapa? seorang wakil, di organisasi manapun, termasuk di pemerintahan, tidak termasuk pemimpin yang bisa menjalankan peran strategi. Maka itu, saya tertawa, saat Gus Ipul, dalam menjawab pertanyaan panelis, tidak sungkan menonjolkan keberhasilan Provinsi Jatim era Pak De Karwo, sebagai bagian dari prestasinya. Maklum, seorang Wagub bukan pengambil kebijakan strategis, baik bidang politik, budaya, sosial dan apalagi ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat seluas provinsi Jawa Timur.

Pemilih Cerdas di Jatim,
Saya tak habis mengerti cara berpikir Gus Ipul, yang mengklaim selama dua periode, telah memperleh sebanyak 90 penghargaan dari pemerintah pusat, 7 kali opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), dan 10 kali penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri sebagai pemerintah provinsi dengan kinerja terbaik.
Jawaban Gus Ipul semacam ini, apakah sebelumnya tidak dikonsultasikan dengan staf ahlinya yang mengerti konsep kepemimpinan, ilmu organisasi dan manajemen.
Saya yang mencermati jawaban-jawaban Gus Ipul terutama dikaitkan dengan job descraptionnya sebagai cawagub,menuntaskan persoalan kemiskinan di Jawa Timur, memegang kepala dan bertanya, apakah Gus Ipul tidak menyadari selama dalam pengelolaannya angka kemiskinan di Jawa Timur masih terbilang tinggi.
Berbeda dengan Khofifah, saat debat publik terkait layanan publik, menjelaskan Sistem Layanan Rujukan Terpadu (SLRT) di Kementerian Sosial dengan runtun. Programnya ini yang bisa membantu rakyat kecil yang ingin mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).
Begitu juga cawagub Emil Elestianto Dardak. Pada saat menjawab pertanyaan tentang penggunaan anggaran belanja langsung dan tidak langsung dari APBD.
Emil menilai, belanja langsung, tidak selalu identik dengan produktivitas dan sebaliknya. Sebab, anggaran belanja tidak langsung di Kabupaten Trenggalek selama ia menjabat bupati dialokasikan bagi ribuan guru honorer. Berbeda dengan cawagub paslon nomor 2, yang urusan teknis keuangan dijawab secara umum.
Maka itu, Anda sebagai pemilih cerdas insya Alloh tahu bagaimana memilih pemimpin setingkat Gubernur di provinsi Jatim.
Akal sehat saya mengatakan, pemimpin yang cerdas adalah mereka yang dapat memaksimalkan jam kerja dengan belajar untuk mendelegasikan, memprioritaskan dan juga berusaha untuk menyederhanakan sebuah masalah yang dianggap kompleks di masyarakat. Mengingat, pola pikirnya adalah mencari solusi, bukan sekedar memasalahkan persoalan.
Salah satu pimpinan cerdas Islam adalah Al-Hajib al-Manshur. Dalam sejarah Islam, Al Hajib adalah satu dari sekian banyak pemimpin cerdas. Makanya, Al-Hajib berkuasa selama 26 tahun, terhitung sejak 366 H-392 H atau dari 976 M-1002 M.
Selama memimpin, Al-Hajib tidak saja berhasil membangun Cordova yang aman, tenteram, dan makmur. Dirinya juga sangat cerdas dalam memperlakukan orangorang terdekatnya. Pada suatu waktu, al-Hajib dihadang seorang pria biasa dari kalangan rakyat kebanyakan untuk menuntut keadilan darinya.
Pria itu mengatakan, "Aku punya kasus kezaliman namun qadhi tidak memutuskan dengan adil untukku." Mendengar aduan itu, ia segera memanggil qadhi untuk meminta penjelasan.
Dan qadhi menjawab, "Kasusnya bukan pada saya, tetapi pada al-Wasith (kedudukan serupa wakil perdana menteri)." Lalu, al- Hajib langsung memanggil sang al-Wasith. "Lepaskan pakaian kebesaran dan pedangmu! Lalu duduklah seperti orang biasa itu di hadapan qadhi!"
Kemudian al-Hajib berkata, "Sekarang periksalah kasus mereka!" Sang qadhi pun memeriksa kasus mereka lalu berkata, "Sesungguhnya kebenaran bersama pria biasa ini, dan hukuman yang tepat untuk al-Wasith adalah ini dan ini."
Mendengar itu, al-Hajib langsung menjalankan keputusan qadhi bahkan al-Hajib menambah hukumannya. Sampai sang qadhi ber kata, "Tuan, saya tidak pernah memutuskan semua hukuman ini."
Al-Hajib pun menjawab, "Sesungguhnya ia melakukan ini semua tidak lain karena merasa dekat denganku. Karena itu, saya menambah hukumannya agar ia sadar bahwa kedekatannya itu tidak memberinya jalan untuk melakukan kezaliman terhadap rakyat."
Inilah sikap pemimpin cerdas, tegas, dan adil dalam membuat keputusan. Baginya tidak ada gunanya pujian para bawahan yang suka memuji jika dalam kesehariannya justru lebih sibuk mencari muka daripada ikhlas bekerja. Semoga Gubernur Jatim periode 2018-2023, meski perempuan, bisa menginspirasi kepemimpinan al Hajib. Insha Alloh. (tatangistiawan@gamil.com)