Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior Harian Surabaya Pagi)

Jumlah pemilih muda diperkirakan 14.030.429 dari 30.747.387 jiwa yang memiliki hak pilih dalam pencoblosan tanggal 27 Juni mendatang. Pemilih muda, menurut saya terdiri pemilih pemula dan anak muda. Artinya ada anak muda yang baru menggunakan hak pilihnya tahun 2018 dan ada anak muda yang tahun-tahun sebelumnya punya hak pilih tetapi tidak mencoblos (golput).Bahasa lain, mereka adalah generasi milenial atau now. Dan mereka umumnya, berpendidikan, minimal SMU-SMK. Pertama, saya kali ini ingin menulis untuk pemilih muda, karena mereka termasuk generasi suka membaca koran dan media sosial. Kedua, saya menulis untuk pemilih perempuan yang jumlahnya 15.540.694 (lebih banyak) dibanding pemilih laki-laki yang hanya 15.206.693 jiwa. Menjelang minggu tenang yang tinggal 4 (empat) hari, saya menulis surat terbuka agar pemilih muda, perempuan dan pria, tidak terkecoh oleh pencitraan paslon (pasangan calon) yang takut kalah. Mengingat, dalam pencitraan ada paslon yang menjelang pencobolosan membabi buta manfaatkan segala moment untuk mendulang suara. Politik uang. Termasuk memanfaatkan perayaan haul Bung Karno, yang diselenggarakan pemerintah kota-kabupaten. Selain, menggunakan sejumlah media online dan cetak untuk menulis tanpa melakukan cek and recek. Kadang pers menulis mengutip sumber dari pengamat yang tidak memiliki data akurat. Salah satunya, mengadu dombaantara mantan presiden SBY dengan presiden Jokowi. Benarkah, dalam pilgub di Jatim kali ini ada persaingan antara SBY vs Jokowi. Saya mencoba menelusuri ini dari sumber lingkaran satu sampai ke Jakarta. Berikut surat terbuka saya yang pertama.


Pemilih Muda, Perempuan dan Pria,

Insya Alloh, Pilgub Jatim akan dilaksanakan serentak pada 27 Juni 2018 mendatang. Ada 30.747.387 jiwa yang terdaftar di KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Ternyata jumlah pemilih pemula jumlahnya cukup besar yaitu 4.927.761 jiwa (berusia 17-25 tahun). Pemilih pemula ini bagian dari pemilih pemuda yang berjumlah14.030.429 jiwa.

Dari beberapa kali wawancara dengan pemilih pemula, mereka mengaku tidak mengenal secara langsung paslon Khofifah maupun Gus Ipul beserta wakilnya. Tujuh pemilih pemula yang saya temui secara acak di beberapa kampus di Surabaya mengatakan, tak tertarik mendatangi TPS (Tempat Pemungutan Suara), karena kampanye masing-masing paslon menoton.

Justru dari mengikuti debat publik yang disiarkan beberapa TV swasta, enam dari tujuh pemilih pemula yang mahasiswa ini menilai paslon Khofifah-Emil, memberi argumentasi yang rasional dibanding kompetitornya. Keenam mahasiswa suka dengan paslon yang memberi harapan dan menggunakan analisis empirik.

Pertanyaannya, apakah mahasiswa sekritis enam pria ini, memiliki pemikiran yang sama? walahualam.

Demikian pula, saya menemui 11 perempuan di warung nasi di Banyu Urip, Gubeng, Kedungdoro dan Rungkut. Sembilan orang mengaku aktif di pengajian. Mereka ingin pemilih yang terbukti amanah. ‘’Bu Khofifah sudah terbukti. Dua kali dikalahkan mengenaskan. Sekarang tak boleh dikalahkan,’’ kata Mariaty, salah satu dari Sembilan perempuan.

Seorang perempuan yang berjualan bakso, mengaku terpesona dengan Puti, yang dianggap lincah dan cucu Presiden Soekarno. ‘’Saya tertarik Mbak Puti, tetapi tidak tahu nanti tanggal 27 Juni, saya harus minta pandangan suami,’’ jelas Jaenab, yang suaminya kader PPP.

Pemilih Muda, Perempuan dan Pria,

Minggu ini, ada beberapa media online lokal yang menurunkan berita berjudul persaingan antara Presiden Jokowi versus mantan Presiden SBY.

Ditulis, seolah Jokowi sudah menunjukkan sinyal kuat dukungan ke calon yang diusung PDI Perjuangan, yaitu Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno. Sinyal ini disampaikan saat Jokowi bertemu Puti dalam peringatan Hari Lahir Pancasila awal Juni lalu.

Kemudian diberitakan telah muncul video penjelasan dari Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi tentang alasan presiden RI ke-7 mendukung Gus Ipul-Puti. Seknas Jokowi adalah organ relawan penyokong Jokowi sejak 2014.

Maka itu, kemudian ada media menulis bahwa sinyal-sinyal dari Presiden Jokowi ini ’dibalas’ oleh SBY dengan melakukan roadshow di Jatim jelang hari H coblosan tanggal 27 Juni mendatang.

Sebagai jurnalis, saya tidak menemukan media yang menulis berita semacam ini, memuat keterangan dari Presiden Jokowi maupun SBY. Ini menunjukan, ada media yang kurang memperhatikan aspek akurasi dalam menjalankan kemerdekaan pers. Apalagi menyangkut seorang presiden dan mantan presiden.

Bahkan media yang menyiarkan berita seolah ada perseteruan antara SBY dan Jokowi, juga tidak menyediakan konten-konten informasi yang mendidik dan mencerahkan calon pemilih pemula, perempuan dan lak-laki.

Seharusnya, dalam lingkup Pilkada serentak yang merupakan pesta demokrasi, konten tersebut harus diberi ruang. Terutama untuk membangun rasa nasionalisme masyarakat Indonesia.Apakah alasannya, deadline, sehingga tidak ada waktu melakukan konfirmasi (check and balance).

Kritik ini perlu saya sampaikan, sebab telah disepakati sejak terbitnya UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, maka Pers diposisikan sebagai pilar demokrasi ke empat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Dalam tugas ini, pers dituntut untuk menjadi kontrol atas ketiga pilar itu. Kontrol dengan melandasi kinerja jurnalis yaitu check and balance.

Menggunakan ukuran kemerdekaan pers dalam konteks Pers merupakan pilar keempat demokrasi, penulisan berita yang mengadu domba Presiden Jokowi dan mantran presiden SBY, sebelum diturunkan semestinya perlu dipikirkan aspekkeseimbangan dan check and balance kepada Jokowi maupun mantan presiden SBY.

Ini penting terutama untuk menegakkan pilar ke empat demokrasi. Salah satunya, pers yang meliput pilkada 2018 kali ini juga harus bebas dari kapitalisme dan politik praktis kelompok tertentu. Artinya, pers tidak sekadar mendukung kepentingan pemilik modal. Apalagi melanggengkan kekuasaan politik yang ingin berkuasa dalam pilgub 2018.

Sebagai pilar keempat demokrasi, pers dalam pilgub serentak 2018 perlu mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang lebih besar, bukan pro kontra paslon 1 dan dua.

Mengingat, pengertian kemerdekaan pers menurut Jacob Utama, Pimpinan Kompas, terdiri dua hal. Pertama adalah struktur (freedom from) dimana kemerdekaan pers dipahami sebagai kondisi yang diterima oleh media sebagai hasil dari struktur tertentu.

Artinya, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kini dipimpin oleh Presiden Jokowi, disebut bebas apabila tidak melakukan sensor. Termasuk wartawan bebas dari tekanan, sehingga liputannya bisa independen di tengah pengaruh pemodal dalam perusahaan persnya.

kedua adalah performance (freedom to). Artinya, kebebasan pers dalam meliput pilgub serentak di Jatim tahun 2018 juga diukur bagaimana cara perusahaan pers menggunakan kemerdekaan pers. Misalnya apakah liputan media telah jujur dan adil (fair), mengungkapkan fakta yang sebenarnya, membela kepentingan publik, dan sebagainya.

Pemilih Muda, Perempuan dan Pria,

Jokowi, adalah presiden RI. Ia tidak memimpin satu partai politik manapun. Ia menduduki jabatan tertinggi di Indonesia, karena aliansi sejumlah partai politik, dimana PDIP didalamnya. Jadi, Jokowi, tidak identik dengan PDIP, meski menjelang Pilpres 2014, Ketua Umum PDIP menyebut Jokowi adalah petugas partai.

Menggunakan ukuran konstitusional, adalah kurang etis bila dikaitkan Jokowi itu mendukung Puti, cawagub Gus Ipul. Mengingat, kapasitas Jokowi, sebagai presidennya seluruh rakyat Indonesia.

Sebaliknya, Khofifah dan Emil, tidak pernah mempublikasikandirinya didukung Presiden Jokowi. Sikap yang dimiliki paslon nomor satu itu, menghargai posisi Jokowi, sebagai presiden sekaligus kepala Negara sampai Pilpres 2019 tahun depan.

Padahal, saya mendengar sendiri dari inner circle Presiden Jokowi, bahwa Khofifah maju dalam Pilgub Jatim 2018 yang ketiga, direstui oleh Presiden. Maka itu, Khofifah, berani memilih mengundurkan diri sebagai Menteri Sosial.

Sampai sekarang, Khofifah maupun Emil, tidak pernah mempublikasikan bahwa dirinya direstui dan didorong oleh Presiden Jokowi, maju dalam Pilgub. Padahal, publik tahu bahwa saat Pilgub 2014 lalu, Khofifah aktif menjadi jurkam Jokowi di Jatim menghadapi capres Prabowo.

Kini, rival Jokowi ini malah mendukung Gus Ipul dan Puti. Bagi masyarakat terdiri, sinyal-sinyal seperti ini dapat dibaca, ada apa Puti, cucu Presiden Soekarno, menyebut Presiden Jokowi. Benarkah ia kurang percaya diri.

Terkait perebutan politik, saya pernah membaca sejarah bahwa Allah mengutuk Iblis sebagai kaum pembangkang, pendengki, dan sombong karena tidak mau tunduk pada perintahnya. Kemudian, Iblis berjanji, akan membuat onar di muka bumi dan menjadikan manusia tidak mampu mengemban kekuasan. dan Allah pun memberi tangguh kepada Iblis.

Nah, sejak saat itu, dunia politik dipenuhi dengan sifat konflik. Digambarkan, Iblis dan manusia saling berebut kekuasaan. subhanalloh. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)