Komisi III DPR RI saat sidak di RAW, April 2018 lalu.

Kasus Sipoa belakangan ini mulai dimanipulasi sejumlah advokat Jakarta dan perorangan. Bahkan diviralkan melalui sejumlah media online. Wartawan Surabaya Pagi, H. Tatang Istiawan, melakukan investigasi reporting dengan metode penyusupan dan penyamaran (under cover) di Sipoa Grup. Selama 18 bulan, wartawan SP menyamar menjabat Direktur Operasional, Direktur Komunikasi, Direktur Bidang Hukum sampai menduduki Komisaris. Selama kurang lebih 18 bulan, wartawan SP, sampai melakukan audit forensik tentang apa sesungguhnya yang dikerjakan Budi Santoso, Klemens Sukarno Candra, Aris Birawa, Ronny Suwono, Sugiarto, Rusdi Hasan Tumbelaka, Niken, Prem, Hariono dll.

Tugas penyusupan ini bak seorang intelijen yang harus menggunakan cover, karena melakukan menyamar. Tujuan penggunaan cover ini agar tidak dicurigai dan bisa diterima oleh target operasi. Makanya saya bisa memeriksa semua legalitas badan hukum semua PT-PT yang tercatat di Sipoa grup. Selain melakukan pemeriksaan aset dan laporan keuangan (audit forensik) masing-masing PT. Bahkan mewawancarai misi Sipoa yang menurut Aris membantu orang kecil. Untuk diketahui, kepanjangan SIPOA yakni Sistem Investasi Properti untuk Orang Awam. Tapi dalam praktik, uang-uang orang kecil yang ingin memiliki apartemen sejak tahun 2014, dilarikan tanpa kejelasan. Sampai akhir tahun 2017, apartemen itu belum dibangun. Saya berpendapat ucapan Aris, ambigu.


DPRD Jatim, saat memanggil manajemen Sipoa yang diwakili Klemens Sukarno Candra (paling kiri), konsumen dari Paguyuban P2S dan Pemkab Sidoarjo.

Penggalian informasi menggunakan pola under cover selama 18 bulan sejak September 2016 sampai Februari 2018, untuk membongkar praktik kejahatan kerah putih yang diduga dilakukan oleh Budi Santoso cs. Temuan saya, selain pidana, diduga ada kejahatan ekonomi (OJK, UU Kepailitan, UU TPPU, UU Tipikor dan hukum investasi).

Penyamaran yang saya lakukan di Sipoa ini, pernah dilakukan oleh seorang jurnalis asal Perancis. Jurnalis ini masuk ke markas ISIS menggunakan nama samaran Ramzi.

Dia, berhasil menyusup dan berbaur bersama dengan para simpatisan ISIS dalam jaringan teror bawah tanah di Paris. Pengalaman penyamaran oleh jurnalis Muslim selama 6 (enam) bulan ini mengejutkan. Menurut Ramzi, para simpatisan ISIS itu sama sekali tidak paham soal Islam. "Selama enam bulan di ia tidak melihat Islam" selama enam bulan markas ISIS menggunakan penyamaran dalam jaringan ISIS, saya tak menemukan ajaran Islam, tetapi hanya menemukan para pemuda yang tersesat, frustrasi, memiliki kecenderungan bunuh diri dan sangat mudah dimanipulasi, “ jelas Ramzi.

Penyusupannya dilakukan sejak 2015 hingga Januari 2016. Dia mengaku sangat mudah menghubungi kelompok yang menyebut diri sebagai "Tentara Allah" di Facebook itu.


Proses verifikasi konsumen Sipoa yang dilakukan hingga tengah malam, Februari 2018 lalu.

Demikian saya, sangat mudah mengorek permainan tanah oleh Budi dibantu seorang warga Tambak Oso, Aris Sugiarto, atau yang sering dipanggil H. Antok. Saya juga pernah masuk ke kantornya yang masya Alloh, lantai kantornya berserakan puluhan sertifikat. tt