Kemacetan seperti ini terjadi di sepanjang jalan Deadles wilayah Pantura Lamongan, pasca pengalihan kendaraan karena ambruknya jembatan Widang. FOTO: SP /MUHAJIRIN KASRUN

SURABAYA PAGI, Lamongan - Pasca dialihkannya kendaraan besar ke jalan Deandles yang ada di Pantura Lamongan, kemacetan panjang pun terjadi di sejumlah titik, bahkan volume kendaraan besar seakan menjadi monster bagi warga Pantura Lamongan, karena beberapa kali pasca pengalihan ini terjadi kecelakaan dan memakan korban.


Agar kondisi kemacetannya tidak semakin parah, dan tidak terjadi kecelakaan di wilayah Pantura, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Husnul Aqib meminta, pihak -pihak terkait untuk mempertimbangkan kendaraan yang lewat di jalan Deandles untuk yang dari Surabaya dengan tujuan Jawa Tengah hingga Jakarta untuk dilewatkan ke Bojonegoro.


Sedangkan lanjutnya, kendaraan yang dari arah Tuban diarahkan lewat Pantura Deandles. Dengan begitu volume lalu lintas bisa dibatasi."Agar tidak terjadi kemacetan parah seperti ini, harus ada rekayasa lalu lintas dengana cara seperti yang saya sampaikan itu, "ujar politisi asal Lamongan ini menambahkan.


Ia juga mendesak Pemprov Jatim dan Pemkab Gresik, Lamongan dan Tuban untuk melakukan pengaturan arus lalu lintas. Jangan semua kendaraan, terutama yang besar-besar diarahkan ke Jl Deandles. Sebab warga Pantura mulai terganggu kehidupannya oleh padatnya lalu lintas. "Banyak terjadi kecelakaan pasca pengalihan kendaraan melewati Jl Deandles ini, "jelasnya.


Selain itu lanjut Aqib, pihaknya juga mengusulkan jembatan-jembatan di sepanjang Jl Deandles diperiksa kelayakannya."Jangan sampai kejadian seperti jembatan Widang terulang. Apalagi intensitas dan tonase kendaraan yang melewati jalan ini, cukup padat dan dilewati kendaraan besar dengan beban yang cukup berat, "terangnya.


Terutama Jembatan Sedayulawas harus diperiksa lebih cermat. Terutama jembatan yg baru sebelah Selatan. Sebab, menurut laporan masyarakat, permukaan jembatan telah mengalami penurunan.


Sementara itu, kemacetan di wilayah Pantura terjadi dimana-mana. Baik yang dari arah Gresik maupun yang dari arah Tuban."Saya dari jam 3 pagi tadi mau dari Tuban, sekarang masih di sini," kata Hariadi, seorang sopir truk asal Jakarta yang akan mengirim barang ke Surabaya, Jumat (20/4) siang.


Hariadi mengaku, kemacetan parah yang terjadi ini karena imbas adanya pengalihan arus sejak jembatan Widang ambruk. Dari Paciran hingga Tuban, kata Hariadi, biasanya ditempuh dengan tempuh setengah jam, kini bisa ditempuh berjam-jam. "Macetnya parah mas, kadang tidak bisa jalan sama sekali, dan jalanpun harus pelan," katany eua.


Hal yang sama juga diakui oleh Wirya, seorang sopir truk yang melaju dari Denpasar Bali hendak ke Jawa Tengah. Wirya mengaku, dia masuk dari Lamongan dari Gresik jam 10 guru dan jam 13.00 masih terjebak kemacetan di Paciran. "Ada papan peringatan di pintu tol tadi kalau jalan dialihkan karena Jembatan Widang ambruk," kata Wirya yang tak menyangka kemacetan sedemikian parahnya.


Warga Paciran, Roni juga membenarkan kemacetan yang terjadi di jalur jalan Deandles ini. Roni mengaku, kalau biasanya hanya kendaraan kecil yang melintas di wilayah ini, kini tidak hanya truk dan bus, semua kendaraan termasuk mobil pribadi, tak kecuali sepeda motor juga ikut merasakan kemacetan jalan Pantura Lamongan. "Kemacetan ini sudah terjadi sejak jembatan Widang Babat ambrol, dan arus lalu lintas dialihkan ke sini," kata Roni yang warga Desa Banjaranyar, Kecamatan Paciran ini.


Roni dan warga pantura Lamongan lainnya berharap agar Jembatan Widang bisa segera diperbaiki sehingga kemacetan yang terjadi karena tingginya volume kendaraan yang melintas bisa diatasi. "Jalannya kecil, tapi kendaraan yang melintas begitu banyak," aku Roni.jir