Cabai

SURABAYAPAGI.com, Mojokerto - Turunnya pasokan membuat harga cabai rawit dan bumbu dapur lainnya di Kota Mojokerto meroket. Kondisi ini dikeluhkan para pedagang lantaran penjualan mereka anjlok hingga 50%.

Pedagang di Pasar Tanjung Anyar, Kota Mojokerto Suliyati (40) mengatakan, harga cabai rawit naik Rp 20 ribu/Kg sejak sepekan yang lalu. Jika sebelumnya dia menjual Rp 40 ribu/Kg, kini harga cabai rawit Rp 60 ribu/Kg.

Harga cabai merah, lanjut Suliyati juga naik dari Rp 30 ribu/Kg menjadi Rp 40 ribu/Kg. Bawang merah naik dari Rp 18 ribu/Kg menjadi Rp 20 ribu/kg. Sementara bawang putih impor dari China stabil di harga Rp 25 ribu/Kg.

"Kenaikan harga ini akibat pasokan dari agen turun, sementara permintaan banyak," katanya, Kamis (8/3/2018).

Melonjaknya harga bumbu dapur tersebut, kata Suliyati, mengakibatkan jumlah penjualannya anjlok hingga 50%. Sebelum ada kenaikan harga, rata-rata dalam sehari dirinya menjual masing-masing bumbu dapur 50 Kg, kini hanya 25 Kg.

"Otomatis pendapatan saya juga turun. Harapannya pemerintah bisa mengatur harga supaya kembali stabil," ujarnya.

Hal yang sama juga dikeluhkan Ikhwan (45), pedagang bumbu dapur di Pasar Tanjung Anyar. Menurut dia, kenaikan harga cabai rawit terjadi secara bertahap sejak awal Januari 2018.

Jika awal tahun cabai rawit Rp 25 ribu/Kg, sepekan yang lalu sudah menyentuh Rp 40 ribu/Kg. Saat ini, harga sayur berasa pedas ini tembus Rp 55 ribu/Kg.

Tak hanya itu, harga cabai merah juga naik dari Rp 25 ribu/Kg menjadi Rp 30 ribu/Kg. Bawang merah naik dari Rp 15 ribu/Kg menjadi Rp 20 ribu/Kg. Sementara bawang putih impor turun dari Rp 28 ribu/Kg menjadi Rp 25 ribu/Kg.

"Naiknya karena cuaca buruk mengakibatkan gagal panen di daerah penghasil cabai dan bawang merah. Sehingga pasokan ke pedagang berkurang," terangnya.

Ikhwan menjelaskan, selama ini pasokan cabai rawit dan cabai merah dari Probolinggo. Bawang merah dari Nganjuk, sedangkan bawang putih impor dari China.

Naiknya harga ini, tambah Ikhwan, membuat penjualan bumbu dapur di lapaknya anjlok hingga 50%/hari. Menurut dia, para pelanggan memilih mengurangi pembelian. Konsumen banyak beralih ke bumbu instan.

"Penjualan turun, semisal cabai rawit biasa habis 20 Kg sehari, setelah ada kenaikan hanya 10 Kg sehari," tandasnya. (dtk/02)