Bupati Lamongan H Fadeli saat diwawancarai wartawan usai ikut donor darah PWI dalam rangka HPN 2018. (SP/ MUHAJIRIN KASRUN)

 

 

SURABAYAPAGI.com, Lamongan -Pasca aksi pengejaran yang dilakukan oleh Mr X kepada Pengasuh Pondok Pesantren Karangasem Kecamatan Paciran Lamongan, KH Hakam Mubarok pada Minggu (18/2/2018) mendapat perhatian dari bupati Lamongan, H Fadeli. 
 
Disela-sela mengikuti bhakti sosial donor darah oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Lamongan,  dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) ke 72 di Alun-alun setempat Senin (19/2), Fadeli meminta Polres Lamongan melakukan penyidikan untuk mengungkap identitas  pelaku sebenarnya, agar tidak timbul persepsi yang macam-macam dari masyarakat. 
 
"Kejadian yang ada di Pondok Pesantren Karangasem Paciran kemarin, mengundang banyak presepsi macam-macam dari masyarakat, apalagi kejadian serupa sebelumnya terjadi di berbagai daerah, tentu kami di Pemerintah ingin masalah ini klier dan Polisi bisa mengungkap identitas pelaku," kata Fadeli dihadapan wartawan. 
 
Dikatakan olehnya, kalau memang dalam penyidikan pelaku adalah benar orang gila, fakta ini yang nantinya membuat situasi daerah akan kembali normal. Tapi kalau pelaku orang normal lalu mengaku-ngaku orang gila, ini yang harus diwaspadai. 
 
"Kalau orang gila beneran saya kira masih bisa dimaklumi, tapi kalau pelaku orang normal lalu mengaku gila, ini yang harus diwaspadai dan Polisi harus mengusut tuntas apa motifnya," pinta Fadeli. 
 
Di kesempatan itu juga, orang nomor satu di Lamongan ini juga mengajak masyarakat untuk kembali beraktifitas normal, sambil tetap meningkatkan kewaspadaan, jangan muda terprovokasi dengan situasi yang ada. "Jaga kondisi lingkungan masing-masing, masyarakat harus bijak menerima informasi apapun untuk tidak direspon dengan over," harapnya. 
 
Sementara itu, Polres Lamongan bekerja ekstra untuk mengungkap peristiwa penyerangan terhadap KH Hakam Mubarok. Usai melakukan pemeriksaan pelaku di rumah sakit Bhayangkara Surabaya. Penyidik Polres Lamongan melacak dengan menggunakan peralatan canggih milik Polisi, yakni Inafis For Table System (IFTS), ternyata tidak terdeteksi. Bahkan nama pelaku dan juga semua turunannya tidak muncul dalam layar moneter alat tersebut.
 
Saat pelaku diminta menempelkan sidik jari jempol kanan tidak menolak. "Baru saja dilacak menggunakan alat Inafis For Table System, tapi tidak muncul datanya," kata Kasat Reskrim Polres Lamongan, AKP Yadwivana Jumbo Qantasson Minggu (18/2/2018) petang di Mapolres.
 
Ternyata orang gila yang mengaku  'Paijo' tidak terdata dan tidak memiliki identitas kependudukan. Kalau pernah rekaman data kependudukan, dipastikan akan muncul semuanya."Tapi ini zero," kata Jumbo. Meski begitu, Jumbo tidak mau berandai-andi dalam menangani insiden yang diduga pelakunya mengalami kelainan jiwa ini.
 
Ini ditangani secara profesional dengan melakukan tahapan-tahapan seperti memeriksakan kejiwaannya ke Rumah Sakit Bayangkara Senin hari ini.Pemeriksaan kejiwaan kali ini dimaksudkan memastikan apakah pelaku gila atau tidak. Dan jika nanti dipastikan gila sementara tidak ada petunjuk dimana dan siapa keluarganya, maka pelaku akan diserahkan ke dinas sosial untuk dibawa ke Rumah Sakit Menur.jir