Wartawan Berpolitik, tak Perlu Tiru Dahlan Ikut Konvensi Raih Presiden

 

Rekan-rekan Seprofesi dimana pun berada, Malam itu, saya sempat bertanya pada Dahlan Iskan, setelah tak kelola Jawa Pos, apakah masih akan terjun ke dunia politik praktis lagi?

Jawaban spontan Dahlan, tidak!

Dahlan, saya provokasi lagi, kenapa tidak menjadi bapak bangsa tingkat provinsi Jatim, karena abang kan sudah kaya, populer dan telah menyerap asam-garam bermasyarakat? Dahlan Iskan menjawab ‘’Saya pikir, pengalaman ikut konvensi di Partai Demokrat tahun 2014 sudah cukup bagi saya menjalani kehidupan politik praktis sekaligus tekad ingin mengabdi untuk bangsa dan Negara. ‘’Saya sudah tak mau berpolitik praktis lagi. Saya ingin mengurus badan saya, selain pondok pesantren warisan leluhur di Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Ngringing Kediri,’’ jawab Dahlan.

Setelah menjawab ini, kursi duduknya direbahkan. Demikian juga kedua kakinya diselonjorkan. Dahlan Iskan, kelihatan capai. Tetapi ia tidak bisa tenang. Badannya yang kurus, seperti gelisah. Sedikit bangun dari rebahannya dan sebentar duduk. Dahlan kemudian mengeluarkan dua sisir pisang kepok godong dari dalam tasnya. ‘’Ini tadi saya pesan di lounge, untuk digodokan pisang kepok. Mau?’’ tawarnya.

Saya yang kebetulan suka makan pisang kepok godok, tidak menolak. Beberapa saat setelah pisang itu habis, Dahlan menawarkan satu pisang kepok dengan parohan (dipotong berdua), saya tidak mau, karena memang sudah kenyang. Sebaliknya, saya yang menyediakan minuman air mineral yang dibeli dari pramugari. Praktik ini namanya politik juga. Maklum, politik itu tidak harus ikut

berpolitik praktis. Politik itu mesti dimiliki setiap orang. Apalagi bagi wartawan seperti saya dan Dahlan Iskan. Rekan-rekan Seprofesi dimana pun berada, Dengan penegasan Dahlan Iskan, yang kini tidak memiliki saham di Jawa Pos Group sekaligus tidak mengelola manajemen pers grup ini, artinya Dahlan Iskan, sudah tidak memiliki kekuasaan menulis atau kekuasaan mempengaruhi opini publik, seperti yang selama ini ia praktikan.

Ia tahu bahwa kemampuan membentuk opini melalui koran, apalagi koran sendiri, bagi wartawan yang memang dilahirkan, merupakan kepuasan tersendiri. Kepuasan membentuk opini bagi wartawan seperti dia dan saya sama dengan mengalahkan harta, rumah gedong atau mobil mewah.

Saya tahu bagi wartawan sekelas Dahlaqn, opini sebuah tulisan yang dibuat sendiri dapat diartikan sebagai hasil pemikiran tentang suatu hal yang memberi pandangan hidup untuk masyarakat.

Dalam opini publik, kadang ada muatan pendapat yang kontroversial. Makanya, Dahlan pun suka menulis artikel dan opini di halaman depan koran Jawa Pos. Tapi kini, ia sudah tidak mendapat tempat seperti itu, kecuali manajemen Jawa Pos yang sekarang, mau memberi ruang dan Dahlan mau menggunakan kesempatan itu. Menurut UU No. 40/1999 tentang Pers dinyatakan, wartawan adalah “orang yang melakukan aktivitas jurnalistik secara rutin”. Nah, pemahaman ini yang mendorong wartawan senior seperti saya dan Dahlan, tidak mau dianggap tak

produktif yaitu tiada hari tanpa menulis rutin tentang masalah-
masalah sosial, politik, hukum dan ekonomi.

Maklum, wartawan yang menyadari hakikat profesinya, ia sebenarnya tidak butuh panggung politik praktis dari partai politik.
Koran tempatnya melakukan aktivitas menulis adalah cara ia berpolitik melalui cara belajar menulis. Politik menulis rutin di media massa bagi saya mengingatkan ungkapan filsuf dan penulis Iris Murdoch, “Hanya dengan mencintai kita dapat belajar mencintai.” Seperti mencintai, menulis adalah tindakan konkret dan praktis bagi jurnalis yang memahami profesinya yang mulia.

Nah untuk dapat memiliki kemampuan menulis enak dibaca, orang harus melakukannya secara rutin. Dan menurut saya, hanya dengan menulis, semua orang dapat belajar menulis. Tanpa melakukan menulis rutin, siapapun termasuk seorang profesor yang sering meneliti, tak akan pernah mampu menulis dengan baik. Maklum, menulis adalah keterampilan. Seperti keterampilan bersepeda, menyetir mobil, atau berenang. Jadi tanpa bersentuhan langsung dengan tindakan menulis, kita tidak akan bisa menulis dengan produktif.

 

Akal sehatnya, sebagai sebuah keterampilan, menulis bisa dipelajari. Artinya, setiap orang mampu menjadi penulis. Sebab, kemampuan menulis tidak tergantung bakat –
walaupun bakat diperlukan untuk ”keindahan” tulisan, yaitu membuat sebuah tulisan menjadi ”berseni”. Bahkan orang yang tak berbakat menulis pun bisa jadi penulis jika
ia sering berlatih menulis. Bakat adalah urusan orang-orang terpilih. Dan hanya segelintir orang yang mendapat berkah menulis. Dan hakikat menulis diperuntukkan bagi siapa saja, tak kenal kasta, status sosial-ekonomi, tak kenal suku dan agama, tak peduli
pemimpin atau bawahan.

 

Nah, kini Dahlan Iskan, sudah tak memiliki saham di Jawa Pos Grup dan tidak juga mengelola, mesti
berpikir panjang kemana ia akan menulis rutin isu-isu di masyarakat yang ditangkapnya sebagai bahan untuk dianalisis dan dikaji guna kepentingan publik?
Pengalaman saya, menulis produktif yang bermanfaat tak ubahnya orang yang mampu menulis dengan baik, kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Artinya, penulis yang baik tidak hanya mengandalkan inspirasi atau ilham. Juga tidak hanya
mengandalkan mood atau suasana hati. Ia menggunakan seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan konkretnya saat menulis. Tentu dengan referensi dan data pendukung.

Mengingat, penulis, apalagi opini publik yang baik dituntut untuk merangsang dirinya bisa menciptakan suasana hati yang mendukungnya dan merampungkan tulisan opini publik. Pengalaman saya, menulis rutin, membutuhkan suasana batin yang mampu menyemangati diri agar dapat menulis di mana saja dan kapan saja. Maklum, penulis opini publik (saya memfokuskan diri menulis politik dan hukum) mengutamakan teknik mengolah pikiran, perasaan, dan tindakan yang dicurahkan dalam bentuk tulisan.

Saya umumnya tiap pagi, setelah sholat subuh. Mengapa?

agar saat fresh saya bisa share dan disebarkan kepada orang lain. Mengingat, saya, setiap hari, saat menulis di PC rumah, kantor atau iphone, ingin berbagi cerita dengan banyak orang lewat tulisan saya. Nama kerennya, saya ingin menjadi seorang dermawan yang ingin berbagi pengetahuan dengan siapa saja. Nah, Dahlan Iskan,
sekarang tidak lagi bisa seperti saya, yang meski belum memiliki koran beroplah besar seperti Jawa Pos, tiap hari, masih rutin bisa memilih isu-isu di masyarakat untuk ditulis. Sedangkan Dahlan , dengan sudah tidak memiliki saham di Jawa Pos sekaligus tak ada kewenangan mengelola halaman, ia bisa mencari pelarian kemana bakal mencurahkan ide, inspirasi dan gagasan untuk disharekan ke publik. ZKita tunggu terobosan Dahlan Iskan, setelah mengobati penyakit akutnya di Singapura.

Rekan-rekan Seprofesi dimana pun berada, Pernyataan Dahlan Iskan diatas yang pernah mengikuti konvensi di
Partai Demokrat tahun 2014 untuk meraih jabatan Presiden, menurut saya bisa dijadikan cermin wartawan sekarang. Why?
orang sekelas Dahlan yang berpengalaman meliput dari tingkat koresponden, pengelola koran, Direktur Utama BUMN, pengelola
pembangkit tenaga listrik, Direktur Utama BUMN PLN, Menteri BUMN dan kemudian berlabuh ikut konvensi presiden Partai Politik,
menggambarkan ambisi anak manusia yang tak mensyukuri nikmatNya sebagai jurnalis.

Menurut saya, sosok Dahlan Iskan yang gagal menjadi Presiden bisa dijadikan cermin hidup wartawan tulen. Bahkan jabatan itu ada batasnya. Ambisi pun tidak bisa dijadikan dorongan meraih kekuasaan secara berlebihan.

Dahlan yang sudah sukses kelola koran sampai menjadi anak-pinak 125 surat kabar, tabloid dan TB sepertinya menutup diri tentang kemuliaan pekerjaan wartawan. Mungkin karena dikelilingi harta berlimpah dan lingkungan yang menjerumuskan, Dahlan terlupakan bahwa wartawan adalah sebuah profesi dalam rangka memenuhi hak atas informasi masyarakat. Hak yang dijamin oleh negara berupa kebebasan pers. UU Pers No 40 Tahun 1999 menyatakan, semua pihak dilarang menghalang-halangi pekerjaan wartawan yang mencari, mengolah, dan menyebar-luaskan informasi.

Di Amerika jaminan atas hal ini dinyatakan melalui Amandeman Pertama Konstitusi Amerika Serikat. Sementara di Indonesia selain dinyatakan dalam konstitusi
dan sejumlah UU lain, jaminan ini juga dinyatakan secara eksplisit dalam UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Bagi saya yang pernah dididik di kawah candradimuka harian Surabaya Post periode 1977-1999, saya diingatkan oleh pimpinan Surabaya Post saat itu, Bapak A.Azis dan Ibu Toety Azis, wartawan Surabaya Post yang berpolitik praktik, silakan keluar dari Gedung Surabaya Post. Saat itu menimpa sdr. Alim Salim, wartawan DPRD
Surabaya yang mendaftar sebagai caleg anggota DPRD Jatim.

Ia tetap diminta mundur dari wartawan Surabaya Post, meski Ali Salim mengajak ketua Golkar Jatim, almarhum M. Said, yang saat itu tokoh berpengaruh di kalangan tokoh politik lokal dan nasional. Berkat gemblengan pemilik harian Surabaya Post, saya sadar bahwa wartawan berpolitik itu tidak membutuhkan panggung politik meneriakan yel-yel atau mengadu domba eksekutif-legislatif.

Wartawan bisa berpolitik dari meja redaksi atau sekarang dari dalam mobilnya yang disiapkan iphone. Melalui PC dan Iphone, saya tiap hari bisa berpolitik tanpa perpol yaitu menulis opini publik tentang isu-isu politik, sosial dan hukum dengan cara pandang saya yang sudah berpengalaman 25 tahun sebagai jurnalis serta
ilmu hukum tingkat doctoral yang meneliti sendiri. Jujur, saya bukan mahasiswa S3 yang membuat disertasi pesanan di toko-toko penggandaan thesis dan disertasi.


Sampai sekarang saya tetap bisa berpolitik melalui tulisan saya di halaman depan harian SP. Opini publik yang saya buat adalah karya saya setiap usai sholat subuh dan kadang usai sholat magrib. Opini publik dengan format “Surat Terbuka” adalah pikiran segar seorang jurnalis yang ingin berbagi pengalaman dengan publik.


Terutama menghadapi bandot-bandot politik yang palsu-palsu mengeruk uang Negara, asset Sumber daya alam dan kekayaan rakyat yang terkandung di bumi tercinta Indonesia. Akhirnya, saya dari hasil bercermin dari pengalaman Dahlan selama ini, berpendapat, seorang wartawan yang ingin berpolitik tak perlu meniru gaya Dahlan Iskan, yang sebenarnya sudah mapan secara ekonomi sebagai raja koran, ikut merayap ingin lebih tinggi lagi yaitu merebut kekuasaan eksekutif antara lain sampai mengeluarkan dana besar mengikuti Konvensi meraih presiden yang pernah diselenggarakan Partai Demokrat tahun 2014 lalu.

Menutup surat terbuka ini, saya terinspirasi oleh perjalanan hidup Dahlan yang pekerja keras dan kini sakit akut kedua, setelah kanker hati. Kisah hidup Dahlan Iskan, memang mengandung pengorbanan untuk dirinya, istrinya, anak-menantu dan cucunya. Dalam akal sehat saya, pengorbanan itu baik, asalkan pengorbanan itu tidak sia-sia bagi keluarganya. Jujur, harus saya akui, Dahlan Iskan, memang telah mengorbankan banyak waktu untuk karier bidang pers, bisnis dan ambisi meraih jabatan politik. Tetapi sayang, ambisinya meraih kekuasaan politik praktis justru tak direstui Alloh. Saya mencatat ambisinya ingin mencapai cita-citanya menjadi penguasa seperti ingin menjadi Presiden, adalah pengorbanan yang sia-sia, sehingga kini ia harus berobat ke Singapura dengan penyakit yang konon mematikan yaitu aorta dissection.

Semoga lekas sembuh kawan wartawan yang lebih senior. (tatangistiawan@gmail.com)



Komentar Anda



Berita Terkait