Prostitusi Apartemen, Dibongkar!

Sewa 3 Unit Apartemen di Surabaya Timur, Jual Gadis-gadis Bandung dengan Tarif Rp 1 Juta – 3 Juta. Digrebek Unit PPA Polrestabes Surabaya selama Dua Hari (sub)

 

SP/ROBERT Kombes Pol Rudi Setiawan Kapolrestabes Surabaya saat gelar perkara kasus prostitusi apartemen di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (14/2) petang. Dalam penggerebekan tersebut, polisi mengamankan 12 orang, 4 diantaranya berperan sebagai mucikari dan 8


SURABAYA PAGI, Surabaya – Bisnis prostitusi di kota Surabaya semakin hari semakin tidak terkendali. Tak hanya di hotel-hotel yang tersebar di penjuru kota, praktik prostitusi juga terjadi di kos-kosan mewah. Terbaru, perdagangan gadis untuk dipekerjakan menjadi pekerja seks komersial (PSK) terungkap di sebuah apartemen di kawasan timur Surabaya. Sindikat ini menyewa tiga unit apartemen untuk menjalankan transaksi prostitusi, termasuk menyediakan tempatnya. Menariknya, perempuan yang diperdagangkan gadis-gadis mojang priangan asal Bandung, Jawa Barat. Empat mucikari ditahan dan belasan gadis lainnya masih dimintai keterangan oleh Polrestabes Surabaya.

---------------

 

Polrestabes Surabaya membongkar para mucikari dan gadis-gadis yang dipekerjakan menjadi PSK di apartemen itu, selama dua hari berturut-turut.

Pengerebekan itu dilakukan Tim Unit PPA (Pelindungan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polrestabes Surabaya. Tim ini membongkar sindikat tersebut secara maraton. Mulai Senin (12/2/2018) hingga Selasa (13/2/2018) malam. Dalam penggerebekan dua hari berturut-turut itu, Tim Unit PPA yang dinahkodai Kanit PPA, AKP Ruth Yeni ini berhasil mengamankan 12 remaja yang semuanya berasal dari Kota Bandung.

 

"Dari 12 yang kita amankan, empat diantaranya adalah pria sebagai mucikari. Sedangkan delapan lainnya adalah perempuan yang diperdagangkan oleh para mucikari," sebut Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan, Rabu (14/2/2018).

 

Empat mucikari yang dimaksud adalah Furqon (24) asal Jalan Sangkuriang, Bandung ; Irfan (19) asal Jalan Pamekar Bandung ; Gugun (26) asal Kampung Jaya Mekar Kelurahan Cipatik, Kecamatan Campelas Kabupaten Bandung serta Arsyal (23) asal Babakan Ciseureh, Kelurahan Karasak Kecamatan Astana Anyar, Kabupaten Bandung. "Keempat mucikari ini, sudah sejak September 2017 beroperasi di Surabaya," tambah Kombes Pol Rudi.

 

Alumnus AKPOL (Akademi Kepolisian) tahun 1993 ini menyebut, dari 8 gadis yang dipekerjakan menjadi PSK, 3 diantaranya masih dibawah umur (16-17). Sedangkan korban lainnya, berusia antara 18 hingga 21 tahun. Delapan gadis asal kota kembang itu, didatangkan para mucikari sejak 1 Februari 2018 lalu secara bertahap. Para gadis cantik ini kemudian ditempatkan dalam dua kamar apartemen yang sudah disewa para mucikari. Sedangkan satu kamar lagi, difungsikan untuk melayani pelanggan.

 

"Keempat mucikari ini sudah kami tetapkan menjadi tersangka dan kami tahan. Tapi kami tetap mengembangkan kasusnya. Karena korban ada yang di bawah umur, kami pastikan hukuman tersangka akan lebih berat," tegas Kombes Pol Rudi.

 

Terungkap dari Twitter

Sindikat perdagangan gadis ini dibongkar Tim Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya selama dua hari berturut-turut. Tim ini awalnya menelusuri sejumlah akun Titter yang diduga kuat menjalankan perdagangan gadis tersebut. Setidaknya, penelusuran itu dilakukan dalama kurun waktu satu bulan terakhir. Hingga akhirnya pada Senin (12/2/2018) malam, tim ini mendapat informasi bahwa gadis-gadis asal Bandung tersebut sedang dijual untuk melayani pelanggan di sebuah hotel di Jalan Diponegoro Surabaya.

 

Setelah sudah berhasil memastika kamar hotel yang disewa untuk BO (booking out), Tim Unit PPA langsung melalukan penggerebekan. Dalam penggerebekan pertama ini, tim ini mendapati dua gadis asal Bandung itu sedang melayani seorang pria hidung belang dengan layanan threesome (berhubungan seks tiga orang).

 

"Mereka kemudian kami keler untuk menemukan keberadaan sang mucikari yang memperdagangkan gadis-gadis itu," tambah Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran melalui Kanit PPA, AKP Ruth Yeni.

 

Pengembangan itu menunjukkan hasil. Para gadis yang menjadi korban perdagangan itu menunjuk sebuah kamar di apartemen di Surabaya Timur. Kamar itu akhirnya digerebek. Tim ini berhasil mengamankan 3 gadis dan 4 pria dalam satu kamar. Tiga gadis itu sedang beristirahat. Sedangkan 4 remaja pria, sedang mengoperasikan handphone (HP) mereka. Mereka langsung digelandang ke Mapolrestabes Surabaya.

 

Interogasi terhadap 4 pria mucikari dan 5 gadis itupun dilakukan secara intensif. Setelah diperiksa, terungkap bahwa yang menawarkan kelima gadis yang diamankan tersebut, hanya mucikari Furqon dan Irfan. Dari fakta itu, Selasa (13/2/2018) malam, Tim Unit PPA mengeler mucikari Gugun dan Arsyal. Dari pengembangan itu, ternyata Gugun dan Arsyal juga memperdagangkan tiga gadis yang juga asal Bandung. Tiga gadis itu akhirnya diamankan dari kamar di apartemen yang sama.

 

"Atas ungkap kasus ini, kami terbitkan dua LP. Karena praktek prostitusi yang dijalankan para mucikari berbeda. Meskipun para mucikari ini sebenarnya merupakan satu jaringan," beber AKP Ruth.

 



SP/ROBERT Kombes Pol Rudi Setiawan Kapolrestabes Surabaya saat gelar perkara kasus prostitusi apartemen di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (14/2) petang. Dalam penggerebekan tersebut, polisi mengamankan 12 orang, 4 diantaranya berperan sebagai mucikari dan 8 orang gadis sebagai korban.


Mucikari Masih Remaja

Keempat mucikari yang juga masih remaja itu, datang dari Bandung ke Surabaya sejak September 2017 lalu. Sampai di Surabaya, mereka awalnya bergerilya mencari gadis-gadis Jawa Timuran untuk diperdagangkan. Setelah memiliki banyak stok perempuan, gadis-gadis itu diminta untuk membuat akun Twitter.

Setelah sudah memiliki akun Twitter, para mucikari akhirnya membuat dua akun twitter, yaitu 'BOSurabaya' dan 'AvailSurabaya'.

 

Dua akun milik mucikari itulah yang digunakan untuk mempromosikan akun-akun milik para gadis yang dikoleksinya tadi. Dalam promosinya, akun Twitter milik para mucikari menggunakan kata-kata 'Expo Surabaya, yang minat hubungi nomor WA'. Nomor nomor WA (whatsapp) itu sudah tertera di timeline twitter tersebut.

 

Dan nomor WA itu, merupakan nomor WA milik para mucikari. Sehingga ketika ada yang berminat, otomatis para mucikari itu yang membuat harga dan dealing.

"Jadi, akun twitter yang dibuat para tersangka itu, hanya untuk mengelabuhi kami (polisi), agar seolah-olah, para tersangka hanya memuat ulang twit (me-retwit) akun milik korban. Padahal yang membuat dealing harga dengan pelanggan ya para tersangka ini," ulas AKP Ruth.

 

Jika sudah ada pelanggan yang berminat dan menghubungi WA para tersangka, mereka kemudian menawarkan harga untuk pelayanan esek-esek para gadis tadi. Harga tergantung umur dan kecantikan para gadis yang fotonya sudah diupload di twitter korban masing-masing. Harga yang dibandrol antara Rp 1 juta hingga 3 juta untuk sekali kencan. Harga itu belum termasuk biaya sewa kamar hotel atau apartemen.

 



SP/ROBERT Kombes Pol Rudi Setiawan Kapolrestabes Surabaya saat gelar perkara kasus prostitusi apartemen di Mapolrestabes Surabaya, Rabu (14/2) petang. Dalam penggerebekan tersebut, polisi mengamankan 12 orang, 4 diantaranya berperan sebagai mucikari dan 8 orang gadis sebagai korban.


Minta DP

Jika harga sudah disepakati, para mucikari meminta DP (down payment) terlebih dahulu. Kemudian mereka menyepakati tempat kencan. Jika sudah, para mucikari meminta para gadis untuk menemui pelanggan di tempat kencan yang sudah ditentukan. Setelah sudah selesai, pembayaran sisa ditransfer ke rekening para mucikari. Untuk pembagian, para mucikari 50 persen, dan para gadis 50 persen.

 

Dari hasil pemeriksaan, para mucikari pada panawarannya, bisa menyediakan segala bentuk layanan seks. Mulai dari seks biasa (satu gadis), threesome (dua gadis) bahkan pesta seks dengan banyak gadis. Selama beroperasi, para mucikari sudah berhasil menjual para gadis tersebut ke pria hidung belang hingga ratusan kali. Namun untuk para gadis Bandung yang didatangkan para mucikari, mereka baru mendapatkan 20 pelanggan.

 

Lantas mengapa para mucikari sampai mendatangkan 8 gadis itu dari Bandung? Dari hasil pemeriksaan, para gadis Bandung itu didatangkan, karena minat pelanggan di Surabaya terhadap gadis-gadis Bandung, meningkat tajam. Sehingga pada 1 Februari 2018 lalu, para mucikari langsung memfasilitasi kedatangan para gadis itu menggunakan pesawat dari Bandung ke Surabaya. Para gadis itu kemudian ditampung di dua kamar di apartemen.

 

Sementara itu, Furqon salah satu mucikari mengaku, jika dirinya hanya membantu untuk mempromosikan para gadis itu, yang sebelumnya telah menawarkan dirinya melalui Twitter masing-masing. Kendati begitu, penyidik sudah mengantongi sejumlah barang bukti yang digunakan untuk men-tersangka-kan para mucikari tersebut. Sebab, pada prakteknya, para mucikari mendapat fee 50 persen dari setiap layanan esek-esek.

 

Dari tangan para mucikari, penyidik mengamankan sejumlah barang bukti. Antara lain 10 HP sebagai sarana promosi ; 2 tube vigel ; sebuah kondom bekas pakai ; 21 sachet kondom baru ; uang tunai Rp 1.900.000,- dan tiket pesawat Bandung - Surabaya. Keempat mucikari itu dijerat dengan UU TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang) dan UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara. n



Komentar Anda



Berita Terkait