Dahlan, Wartawan, Pebisnis dan Politikus yang Pernah Tersangka Korupsi

Surat Terbuka untuk Wartawan Senior, Muda, Yunior dan Calon wartawan, bisa Bercermin dari Perjalanan Hidup Mantan Raja koran Indonesia, Dahlan Iskan (3)

 

Catatan Politik oleh H. Tatang Istiawan, Wartawan Surabaya Pagi


Rekan-rekan Seprofesi dimana pun berada,

Tak banyak wartawan Indonesia seusia Dahlan Iskan, yang bisa menyandang berbagai profesi sekaligus dan pada saat bersamaan.

Dalam catatan saya, selain sebagai wartawan, Dahlan juga pebisnis dan politikus. Profesi tiga hal ini dialami oleh Surya Paloh, pimpinan Metro TV dan Media Indonesia. Tapi tidak dijalani oleh pemimpin Umum harian Kompas, Jacob Utama. Pak Jacob, hanya menjadi wartawan dan pengusaha hotel serta toko buku.

Rasa pahit yang dialami Dahlan Iskan, dibanding Surya Paloh dan Jacob Utama adalah pengalaman menghirup udara pengap di rumah tahanan. Dahlan Iskan, sempat menghuni sel tahanan Medaeng, beberapa hari, karena kasus dugaan korupsi.

Meski sempat dihukum di tingkat Pengadilan Tipikor Surabaya dan dilepas oleh Pengadilan Tinggi Jatim, status hukum Dahlan Iskan, dalam kasus korupsi, belum aman-aman benar. Jaksa Penuntut umum sedang mengajukan PK (Peninjauan Kembali), setelah kasasinya ditolak oleh Mahkamah Agung.

Kini, dengan status hukum terdakwa korupsi yang belum berkekuatan hukum tetap, Dahlan Iskan, mulai diserang penyakit akut, aortic dissection. Ibarat musibah, ada saja ujian yang satu belum selesai, datang lagi musibah berikutnya.

Fakta empiriknya, Dahlan Iskan, kini terkena musibah hukum pidana korupsi, hukum sosial dan penyakit akut yang datang secara tiba-tiba. Justru penyakit ini dideritanya di tanah suci, Madinah, saat ia menjalankan ibadah umroh bersama keluarganya.

Pesan orang-orang taat hendaknya Dahlan Iskan, memperbanyak istighfar, minta ampunan pada Alloh dan bersodakoh tanpa memikirkan ganjaran.

Dengan realita ini dan Jumat malam itu, ia tampak sakit, apakah Dahlan Iskan, bisa dianggap sukses dalam hidupnya?. Relatif. Artinya hartanya berlimpah, tetapi musibah sakit dan bidikan hukum, silih berganti.

Peristiwa hari Jumat malam itu, Dahlan Iskan yang kabarnya memiliki pesawat pribadi, naik pesawat komersial Lion Air dan duduk di kursi ekonomi bagian depan yaitu seat 1F.

Malam itu, Dahlan Iskan, berpakaian tak biasanya. Memakai topi laken coboi, menjadi tontonan. Dilengkapi dengan kacamata minus, jas abu-abu, sleyer dan kaus lengan panjang warna unggu tua, wajah Dahlan Iskan, masih dikenali sebagai tokoh. Tangan kanannya ‘’’diikat tasbih coklat bersar’’. Malam itu, ada seorang pramugari yang minta foto bersamanya.

Sebagai mantan raja koran yang menapak dari koresponden Tempo di Surabaya, Dahlan Iskan diakui telah mereguk keberhasilan materi. Berapa? tak ada yang menghitung secara pasti.

Berdasarkan laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) di Komisi Pemberantasan Korupsi, pada bulan Maret  2010, harta kekayaan Dahlan Iskan, yang kala itu masih menjabat Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN), Dahlan Iskan melaporkan lebih dari Rp 48,8 miliar. Lebihnya berapa?, tak ada penjelasan resmi.

Kawan-kawan wartawan senior di Jawa Pos Grup yang saya kenal, mengatakan dengan memiliki saham di 125 perusahaan pers, tiap bulan Dahlan Iskan, bisa bergaji minimal Rp 2 miliar. Jumlah ini belum termasuk deviden tahunan.

Dalam laporan LHKPN, Dahlan mencatatkan hartanya berupa harta tidak bergerak senilai Rp 8,6 miliar. Harta ini berupa tanah dan bangunan. Dicatat harta bergerak senilai Rp 2,5 miliar, surat berharga Rp 120 miliar, serta giro dan setara kas lainnya senilai Rp 19,9 miliar. Jumlah tersebut dikurangi utang Dahlan sekitar Rp 102,3 miliar.

Dahlan Iskan, masih membeli mobil listrik Tesla  buatan Amerika Serikat seharga Rp 4 miliar.  Kemudian Majalah Globe Asia, edisi Juni 2013 merilis daftar 150 orang terkaya di Indonesia. Dalam daftar tersebut, nama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan menempati urutan ke 93. Dari hasil survei Majalah Globe Asia, kekayaan Dahlan pada Juni 2013 itu sudah ditaksir mencapai US$ 370 juta. Dihitung dengan kurs Rp 13.650, - harta Dahlan dalam rupiah mencapai Rp 5.050.500.000.000,- Luar biasa wartawan yang berkarir dari koresponden bisa menghimpun harta lebih Rp 5 triliun.

 

Rekan-rekan Seprofesi dimana pun berada,

Terus terang, meski penampilan dalam foto yang saya sajikan dalam surat terbuka edisi pertama, Dahlan Iskan, seperti orang kedinginan, tetapi dari penampilan, ia Malam itu, tampil modis, bak selibriti. Terutama penggunaan topi coboi disertai sal dan jas serta sepatu olahraga warna abu-abu disertai slip merah. dan balutan tasbih di tangan kanannya.

Ternyata, sepanjang perjalanan, yang dibicarakan Dahlan Iskan, soal hujan. Ada kesan, kali ini Dahlan takut dengan air hujan. Terbukti saat pesawat hendak leanding, ia berharap bisa tirun dengan Garbarata. Alasannya, hujan masih menyentuh jendela kaca. Makanya, saat pesawat tidak menggunakan Garbarata, ia mulai gelisahSaat itu, dia mengajak saya tebak-tebakan pesawat menepi mencari Garbarata atau tangga. Ternyata semua penumpang turun dengan tangga yang diterpa rintikan hujan.

Dahlan kaget, saat pesawat berhenti di tengah-tengah kubangan air bekas hujan. Maklum, sore itu, kota Surabaya diguyur hujan deras. Makanya, saat penumpang turun menggunakan tangga pesawat di tengah hujan rintik, Dahlan Iskan berjalan cepat segera bisa naik ke bus penumpang. ‘’Saya ini dikontrol Isna, anak saya, gak boleh angkut berat-berat dan kehujanan,’’ jelasnya saat diatas bus penumpang menuju gedung utama Bandara Juanda, Sidoarjo. Kebiasaan setelah sakit, jam tidur pukul 21.00 dan bangun menjelang sholat subuh.

Apakah dengan kekayaan yang dimiliki Dahlan Iskan sekarang ini,  menjadi ukuran kesuksesannya?. Relatif. Ada yang memandang kesuksesan orang bukan dari hartanya, tetapi justru dari kehidupannya seberapa banyak memberi makna bagi orang lain.

Sehari setelah saya pulang bersama Dahlan Iskan, saya menghubungi teman seangkatan dengan Dahlan Iskan, antara lain Hadiaman Santoso, wartawan Sinar Harapan dan harian Surya yang kini usianya sudah 66 tahunan.

Setelah saya perlihatkan foto Dahlan di pesawat yang tampak seperti orang kelelahan, Hadiaman menulis sebagai berikut : Semoga pernyataan Dahlan "siap menghadapi kematian kapanpun" adlh pernyataan ikhlas, ridho, legowo atas kehendak Allah yg maha kuasa, bukan sikap keputusasaannya.

Saya menduga, dia dlm suasana kesepian, tdk lagi punya kuasa apapun dan tdk punya sahabat yg setia. Orang yg selama ini mengagumi dan memujanya sebenarnya hanya fatamergana krn ia memiliki harta kekuasaan. Dlm suasana bathin seperti itu adlh kewajiban kita unt mendampinginya. saya ingin dahlan dlm kesepiannya tdk dibebani prasangka kpd siapapun yg selama ini mungkin dianggapnya sbg orang yg tdk menyukainya.

 

Rekan-rekan Seprofesi dimana pun berada,

Kita semua tahu bahwa wartawan adalah sosok pencari berita, penulis dan pemberi informasi. Itu tugas wartawan. Dalam diri wartawan yang dilahirkan, ia termasuk orang yang suka tantangan, petualang, berani menghadapi resiko, punya kemampuan menggali sumber informasi, punya minat menulis berita dan kritis dalam menggali sumber informasi serta memiliki objektivitas yang tinggi untuk semua tulisannya. Kriteria ini ada pada Dahlan Iskan, yang saat masih menjadi koresponden, salah satu wartawan yang menolak amplop.

Dengan gambaran ini, sebenarnya menjadi seorang Wartawan bukanlah hal yang mudah, pekerjaan menjadi seorang wartawan merupakan pekerjaan yang sangat mulia, karena mengungkapkan kebenaran. Oleh karena itu, dalam merintis karir, seorang wartawan professional, perlu perguruan atau pelatihan khusus. Terutama sebelum diterjunkan kelapangan. Mengingat menjadi wartawan butuh keberanian, kecerdasan dan mental yang kuat serta kenekatan

Apalagi pada era digital. Era ini telah memengaruhi praktik jurnalisme dalam berbagai hal. Jurnalisme di Indonesia juga turut berubah seiring dengan berkembangnya teknologi digital. Berdasarkan data dari Dewan Pers, Indonesia memiliki 1.755 situs berita di tahun 2017.

Sedikitnya tujuh tren yang mewarnai media daring di Indonesia. Pertama, penekanan pada aspek kecepatan. Kedua, truth in the making. Ketiga, kecenderungan sensationalism is a menu of the day. Keempat, masih bersifat Jakarta sentris. Kelima, media daring di Indonesia seringkali mempraktikan cara kerja public relations dan memelintir suatu isu. Keenam, wartawan harus cerdas. Ketujuh, wartawan harus punya integritas sebagai pengejar kebenaran dan keadilan. Ketujuh poin-poin utama dalam mengonsumsi berita daring.

Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Thomas Hanitzsch dari Ludwig-Maximilians-Universität München, Jerman, dalam presentasinya tentang Worlds of Journalism Study (WJS), bahwa salah satu peran normatif jurnalisme adalah sebagai watchdog. Ini karena, jurnalisme merupakan sebuah arena yang sarat dengan kepentingan berbagai pihak.

Merujuk pada hasil proyek penelitian WJS, Hanitzsch berkata bahwa jurnalisme memiliki peran dalam menggerakkan perubahan sosial dan mengatur agenda publik. Di samping itu, peran jurnalisme juga sedikit banyak dipengaruhi oleh rezim politik di negara yang bersangkutan.

Dahlan yang saya kenal tahu konsep ini. Makanya ia juga memanfaatkan berbisnis di luar pers sekaligus berpolitik. Maklum, dengan menjadi raja koran (sebelum RUPS akhir 2017), ia memiliki akses ke berbagai pejabat provinsi dan pusat, baik di eksekutif, legislative, militer, penegak hukum dan partai politik. Dengan networknya ini Dahlan Iskan, sejak tahun 1986, tampak bak ‘’pengusaha fungsional’’. Tak bisa dipungkiri, ini karena jaringan koranya, bukan pribadi Dahlan.

Selain dengan penyelanggara Negara dan elit politik, Dahlan saya kenal satu wartawan lokal Jatim yang berteman banyak dengan pengusaha dan pedagang keturunan Tionghoa. Saya mengamati dari tahun ke tahun, Dahlan telah membangun karakter pedagang china. Antara lain yang saya amati Dahlan pintar dan jeli dalam melihat sebuah peluang usaha. Bahkan di tempat merantau (luar Jawa) pun, Dahlan bisa mengubah sesuatu yang awalnya dianggap tidak menghasilkan uang menjadi lahan bisnis yang menjanjikan.

Kata beberapa wartawan Jawa Pos grup yang ada di beberapa provinsi, hampir di setiap kota penerbitan Jawa Pos grup, Dahlan suka berteman dengan wanita keturunan. Termasuk di Surabaya, ia berteman dengan Nanik Widjaya, Heiding dan Dewi. Konon ada mitos, orang pribumi yang berteman dengan wanita orang China bisa memuwujudkan kesuksesan hidupnya. Yang tak saya duga, malam itu ia menyebut saya beristri seorang rektor.Ternyata, meski lama saya tak bersua dengannya, Dahlan pun masih sempat mengurusi privasi saya. Padahal ini teman dekat seperti halnya, Dahlan berteman dengan Heiding dan Nanik.

Rekan-rekan Seprofesi dimana pun berada,

Sejak masih sama-sama bujang dan meliput di Surabaya, saya tahu Dahlan bukan wartawan partisan apalati kader suatu partai politik. Dalam penelusuran saya, dia masuk Golkar era Orde baru, cenderung untuk mengamankan bisnis korannya yang saat itu Dahlan berobsesi ingin jadi Murdochnya Indonesia.

Inilah kecerdikan dan kejelian Dahlan dalam mewujudkan raja koran di Indonesia. Strategi yang dipilihnya bergabung dengan Golkar sebagai partai penguasa. Tak salah, pada era Soeharto, Dahlan sudah bisa menyabet atribut pertama sebagai raja koran Indonesia.

Pertanyaannya, benarkah ia masuk di dunia politik karena pengaruh pragmatism dan oportinis atau memiliki ideology nasionalis, kebangsaan atau keagamaan? walahualam.

Dengan fakta terbaru yaitu menjelang pilpres 2014 yang lalu, Dahlan ternyata ikut konvensi Partai Demokrat, setelah dulu bergabung di Golkar. Kesan kuat yang saya petik, Dahlan Iskan bukan kader partai yang memiliki ideology kuat atas beragamnya fenomena politik.

Saya mengatakan ini, karena Ideologi adalah pembeda bagi partai maupun konstituen terhadap partai-partai lainnya. Selain itu, ideologi juga menjadi sarana identifikasi bagi aktivis maupun konstituen partai.

Ideologi menjadi karakter partai dalam menjalankan perannya dalam ranah politik internal maupun publik. Dengan melihat ideologinya, kita bisa memilah partai berwatak kapitalistik, sosialistik, sekuler, agamis, progresif, konservatif, dan seterusnya. Dahlan iskan, sampai malam itu ketemu saya di pesawat Lion Air, tetap sosok yang misterius gabungan wartawan, pebisnis dan politikus yang pernah ditahan karena korupsi. Dahlan bukan kader nasionalis di Demokrat maupun Golkar.

Malahan atribut sebagai pencuri uang Negara (korupsi) hanya dinikmati beberapa bulan dengan ditandai menghuni di rumah tahanan (Rutan) dan kemudian beralih menjadi tahanan kota. Praktis, kini ia sudah tidak termasuk terdakwa korupsi lagi, karena hukuman badan yang diketokan Pengadilan Tipikor Surabaya, telah dianulir oleh Pengadilan Tinggi Jatim dan Mahkamah Agung. (tatangistiawan@gmail.com,bersambung)



Komentar Anda