Bayaran Rp 1 Juta Sekali Show, tapi Punya Unit Apartemen dan Mobil

 

FOTO ILUSTRASI : SP/JULIAN Gaya hidup glamour seakan menjadi tuntutan setiap gadis model. Termasuk saat unjuk kebolehan di catwalk.


Menjadi terkenal dan banyak uang, tentu menjadi impian banyak orang. Tak terkecuali dua gadis yang terjun di dunia modeling di Kota Surabaya. Sebut saja namanya Febby dan Melati. Berwajah cantik dan tinggi semampai menjadi modal keduanya, hingga akhirnya diterima oleh sebuah agency di Kota Pahlawan ini. Namun tak dinyana, menjadi model banyak godaan. Apalagi jika digoda pria iseng berkantung tebal. Lantas, benarkah semua gadis model bisa diajak ‘tidur’ bareng?

--------

Laporan : Firman Rachman

--------

 

Usia 21 tahun memang merupakan kategori usia muda bagi seorang perempuan yang memiliki hobi, sekaligus profesi tambahan. Bermodal wajah tirus langsat dan bertinggi ideal, Febby menekuni dunia modelling di Surabaya.

 

Mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya itu mengatakan tak mudah menjadi seorang model. Tak hanya dituntut cantik secara fisik, seorang model juga harus 'smart' katanya.

 

"Ya dong, kita harus punya ketrampilan lain selain berjalan di atas catewalk. Atau berpose untuk dibidik kamera fotografer, kita harus smart," ucap Febby saat ditemui Surabaya Pagi di sebuah kafe, kemarin.

 

Febby mengaku sudah empat tahun menjalani profesi tambahan sebagai model di luar kesibukkan utamanya menjadi mahasiswa. Menurut Febby, apa yang saat ini ia geluti, merupakan hobi semata. "Kalau untuk model memang sejak kecil hobi ya kak. Ya seneng aja, bisa banyak temen, bisa pakai busana dari designer yang kreatif," lanjutnya.

 

Febby adalah salah satu model yang segala bentuk aktifitas modellingnya diakomodir oleh agency. Menurutnya, ia tak perlu repot mencari job karena semuanya yang mengatur jadwal termasuk fee adalah pihak agency tempat ia bernaung. "Iya pakai Agency, jadi setiap jadwal, lokasi, termasuk fee, semua mereka yang atur," imbuh Febby.

 

Penghasilan

Bayaran atau fee yang diterima setiap model bervariasi. Hal itu dikatakan Febby karena tergantung event yang sedang membutuhkan jasanya. Belum lagi tiap aturan agency juga berbeda dalam proses distribusi fee dari user ke model.

"Kalo event bridal, kayak ujian dari sekolah make up gitu Rp 1 juta sampek 1,3 juta. Kalo event kayak Surabaya Fashion Parade atau event baju desainer yang ready to wear, itu Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu sekali show,” cerita dia.

 

“Kalo berapa kalinya nggak selalu ada sih kak.  Soalnya kan selalu ada sistem audisi.  Terkadang client langsung calling lewat agency.  Jadi sebulan gak selalu ada.  Kadang sebulan bisa 3-5 kali, kadang juga ngga ada sama sekali.  Kadang juga 2-3 bulan sekali.  Gitu," lanjut dia.

 

Model Nyambi

Stigma negatif yang kerap disematkan oleh masyarakat awam terhadap dunia modeling, dirasa Febby sebagai presepsi personal yang tidak bisa ditolak. Ia pun tak menampik ada pula "praktik kerja" di luar pekerjaan utamanya sebagai model.

 

"Aku gak tau sih kak, mungkin saja ada,  soalnya aku belum pernah melihat langsung model - model yang seperti itu. Aku cuma tau dari orang tua aku.  Waktu aku memutuskan untuk masuk agency,  dan serius menggeluti itu. Mereka takut aku di jual atau takut dapet event yang di club kayak gitu-gitu," tukas perempuan asal Surabaya ini.

 

Gaya Hidup Mewah

Untuk mengetahui lebih dalam, "praktik kerja" model di luar pekerjaan utamanya, Surabaya Pagi menemui model lainnya. Sebut saja Melati (bukan nama sebenarnya). Melati yang kini berusia 25 tahun itu sudah sejak SMA menekuni dunia modelling. Hari-harinya pun bisa dikatakan mewah. Dari dunia modeling, Melatu mampu membeli sebuah mobil dan memiliki apartemen di wilayah Surabaya Timur.

 

Namun, benarkah, jika uang yang berhasil dikumpulkan Melati itu murni dari dunia modelling?. "Kalau cuma jadi model kan feenya per event tuh mas, kadang Rp 700 ribu samapi Rp 2 juta. Itupun sebulan belum tentu lima event, atau gak ada sama sekali pernah," tutur Melati.

 

Lalu, darimana perempuan berwajah manis itu mendapatkan unit apartemen sekaligus mobil dan gaya hidup mewahnya?. "Ya selain model, aku biasanya ada kenalan om-om atau fotografer. Cuman aku gak main di foto nude, tapi aku emang jual diri aku mas. Itupun cuma orang-orang tertentu," lanjut Melati blak-blakan.

 

Melati merupakan kategori perempuan selektif. Meski belum memiliki pasangan, ia mengaku pernah menjadi wanita simpanan pria hidung belang selama dua tahun. "Pengusaha sih dia. Ya dapat duit banyaknya dari itu mas," kata perempuan asal Jombang ini.

 

Modelling merupkan sebuah profesi yang sama saja dengan profesi-profesi lainnya. Namun stigma negatif yang melekat pada profesi ini bukan tanpa alasan. Selain memamerkan dan mengekploitasi bentuk tubuh dan busana, nyatanya masih cukup banyak perempuan yang menggunakan profesi menjadi model sebagai jembatan meraup pundi rupiah dengan cara lain.

 

"Ya karena jadi model ini bisa kenal sama banyak orang, kemudian kita berjejaring. Kalau keluar kota suka ada yang mau kenalan. Dari situlah aku mulai mikir, eh bisa deh kalau cuma muasin mas-mas dan om-om," tutupnya sambil tertawa. n



Komentar Anda