Pencitraan Sakit, ala DahlanIskan, yang Siap Mati Kapan pun

Surat Terbuka untuk Wartawan Senior, Muda, Yunior dan Calon wartawan, bisa Bercermin dari Perjalanan Hidup Mantan Raja koran Indonesia, Dahlan Iskan (2)

 

Catatan Politik: H. Tatang Istiawan, Wartawan Surabaya pagi


Rekan Seprofesi dimana pun berada,

Teman-teman seprofesi jurnalis yang saya hormati. Saya terkejut, dalam pembicaraan malam itu, Dahlan Iskan, yang saya kenal suka berpenampilan elegan dan easy going, bisa bicara melankolis, tentang sebuah kematian.

“Jujur, saya mati sekarang, besok atau lusa, sudah siap. Pendeknya saya siap mati kapan pun,” kata Dahlan Iskan, yang merasakan penderitaan diuji dengan sakit yang bernama aorta dissection. 

Padahal, saat ia menderita sakit kanker hati, ia begitu tegar. Bahkan ada keanehan pada dirinya, sakit kanker hatinya dipromosikan ke publik, hingga membuka ruang pertemuan terbuka. Dalam satu sisi, produk seperti itu bisa dianggap sebagai sebuah pencitraan diri tentang sakit. Artinya, bisa dibaca, Dahlan Iskan, menangkap peluang bisnis meraup untung dari jual buku dan seminar. Dan tidak bisa ditampik, Dahlan bisa berdalih untuk penyadaran publik yang menderita sakit seperti dirinya.

Kali ini saat Dahlan Iskan (DIS) diuji Allah SWT, dengan penyakit yang menempatkan kondisi tubuhnya ada robekan dinding bagian dalam saluran aorta. Ini yang membuat darah dapat memasuki kanal lapisan dinding. “Cukup panjang, ada 50 cm-an.” prakiraan Dahlan, sambil membetulkan sleyer hitam dan dahak-dahak batuk tua yang intonasinya naik turun tak beraturan.

Dahlan mengatakan penyakitnya kali ini tak pernah dirasakan sebelumnya. Ia baru tahu saat Umroh bersama keluarga termasuk anak, istri, cucu dan menantu. Setelah menikmati makanan internasional, dirinya merasa sakit seperti serangan jantung. Padahal setelah diperiksa di RS Madinah, itu bukan penyakit jantung. “Pendeknya sakit sekali, baru kali ini saya sakit di rawat di tiga negara yaitu rumah sakit Madinah, Surabaya dan Singapura,’’ ungkap mantan menteri BUMN, Dirut PT PWU Jatim dan Direktur PLN.

 

Rekan Seprofesi dimana pun berada,

Saya mencoba menanyakan ke teman dokter di RS Mitra Keluarga, tentang penyakit aorta dissection? kata dasar penyakit ini dari Aorta yang artinya pembuluh darah besar yang keluar dari jantung dan membawa darah keseluruh tubuh.

Dalam tubuh manusia, Aorta berpangkal pada aortic valve yaitu pada jalan keluar dari bilik jantung kiri. Prosesnya, aorta naik didalam dada ke busur (arch). Disana, ada  pembuluh-pembuluh darah bercabang untuk menyediakan aliran darah ke tangan-tangan dan kepala.

Selanjutnya, mulai turun melalui dada kedalam perut, dimana ia membelah kedalam dua arteri-arteri iliac yang menyediakan aliran darah ke kaki-kaki. Dan bersama dengan penurunannya, lebih banyak arteri-arteri kecil bercabang untuk menyediakan darah ke perut, usus, usus besar (kolon), ginjal-ginjal, dan sumsum tulang belakang (spinal cord).

Menurut dokter teman saya, aorta mempunyai dinding yang tebal, dengan tiga lapisan dari otot yang mengizinkan pembuluh darah. Ini untuk menahan tekanan tinggi yang dihasilkan ketika jantung memompa darah ke tubuh. Disana, ada tiga lapisan yaitu tunica intima, tunica media, dan tunica adventitia. Intima adalah lapisan dalam yang bersentuhan dengan darah, media adalah bagian tengah, dan adventitia adalah lapisan paling luar.

Dan pada penderita sakit aortic dissection, biasanya ada robekan kecil terjadi pada tunica intima (lapisan dalam dari dinding aorta yang bersentuhan dengan darah). Darah dapat memasuki robekan ini dan menyebabkan lapisan intima mengupas dari lapisan media, dalam efeknya membelah lapisan-lapisan otot dari dinding aorta dan membentuk kanal palsu, atau lumen. Kanal ini mungkin pendek atau mungkin meluas keseluruh panjang dari aorta. Robekan distal (lebih jauh sepanjang jalan dari aorta daripada robekan awal) pada lapisan intima dapat membiarkan darah memasuki kembali lumen yang benar dari aorta.

Saya tidak tahu, tingkat sakit dimana yang diderita Dahlan, sebab malam itu Dahlan tidak membuka semua hasil diagnosenya. Padahal, saya sudah melakukan wawancara assesmen, seolah menjadi konseling sebagai sesama wartawan usia diatas kepala 6.

Dahlan Iskan, hanya bicara upaya penyembuhan sekarang ini yang difokuskan ke RS Singapura. “Disana saya yakin, ada perawatan yang baik. Saya berencana tinggal disana, tidak mau pulang pergi Singapura-Surabaya kayak selama ini setelah pulang Umroh,’’ bebernya mengenai strategi penyembuhan penyakitnya.

 

Rekan Seprofesi dimana pun berada,

Melalui wawancara asesmen, saya seperti menyerap “kegundahan” Dahlan Iskan. Menurut saya, untuk kali ini, dengan penyakit aortic dissection, ia seperti putus asa, berbeda dengan kanker hati yang pernah diderita sebelumnya. Dulu, badannya meski lebih pendek dan langsing dibanding saya, wajahnya masih menggambarkan aura orang ingin hidup sehat. Kali ini, ia malah memuji saya, “Tang, badanmu ideal, langsing, pada usia 62 tahun bisa seperti ini bagus. Apa olahragamu?” ia balik bertanya pada saya.

‘’Saya jamu jaga mulut, tidak semua makanan saya makan. Malam sudah jarang makan, diganti buah kates (papaya, red), pisang kepok godhok dan apel. Pagi Treadmill rutin selama 30 menit stationer,” jawab saya.

Apakah sakitnya kali ini juga akan dilakukan untuk pencitraan dirinya? Walahualam. Tetapi dari teman-teman wartawan seusia saya, dikatakan Dahlan Iskan, kini membuka Website, khusus membahas penyakitnya. Konon tujuan membuka website yang diberi nama “Disway”, ini Aortic dissection sering dialami penderita hipertensi. Melalui website Disway, Dahlan ingin berbagi pengetahuan tentang risiko-risiko aorta dissection yang mematikan. Dan ia akan memberi kisah cara mencegah agar penderita hipertensi tidak sampai mengalami masalah kesehatan akut seperti dirinya. mudah-mudahan ceritanya ini sebagai sebuah realita dan pencitraan positif.

Saya menyebut pencitraan positif, karena saya kenal persis karakter Dahlan Iskan, sejak dipercaya majalah Tempo mengelola harian pagi Jawa Pos. Kesan yang saya tangkap, ia suka ingkar janji, tidak konsisten dan lebih sering bicara melompat-lompat. Bahkan bicara A di depan publik, arahnya bukan A, tapi B dan bisa C. Kesannya kesan saya seperti mengelabuhi.

Pengalaman ingkar janji, saya alami tahun 2002 saat di gedung SPS Jakarta. Saat itu saya menawarkan kerjasama penerbitan di Surabaya yang terseok-seok. Ia bertanya dari pasar hingga laporan keuangan terakhir. Janjinya, minggu depannya, ia akan datang bersama timnya ke kantor koran yang saya terbitkan dari Jalan Kayun Surabaya.

Tetapi yang terjadi, dia tidak datang dan menghubungi saya untuk pembatalan. Tetapi ia malah menghubungi kongsi saya dan langsung melakukan deal. Saya didepak, sehingga keluar dari kantor Jl. Kayun Surabaya. Dahlan menurunkan timnya menyuntik dana koran pagi. Ternyata koran ini mandek di tengah jalan. Mantan kongsi saya yang tak pengalaman bisnis koran, menjerit ditagih utang Dahlan. Ia menghubungi saya. Dari kisah yang disampaikan yaitu menagih oplah besar (karena ongkos cetak dan besaran oplah ditentukan oleh tim Dahlan Iskan). Saya tersenyum. “Jangan-jangan mematikan koran persis dengan modus Memorandum,” bisik saya pada mantan kongsi.


Rekan Seprofesi dimana pun berada,

Sebagai orang beragama, saya percaya Dahlan tahu bahwa kematian adalah peringatan dari Allah SWT kepada  makhluk-Nya, agar selalu dapat mengambil pelajaran tentang perjalanan hidupnya selama ini. Pemahamannya, hanya kepada Allah lah kita menyembah dan hanya kepada Allah pula lah kita memohon pertolonganNya. Bila kesiapan Dahlan Iskan, mati sekarang, besok atau lusa, semoga Allah berkenan memudahkan kematiannya dan mengaruniakan kepadanya khusnul khotimah. Amin.

Dari kursi seat 1F, Dahlan bercerita kini ia mengasuh sedikitnya 2.500 santri di daerah Mataraman sampai Ngringing Kediri. Santri-santri ini dia didik sekolah madrasah, tidak boleh terpengaruh partai politik. Apalagi untuk ditunggangi pilkada serentak 2018 dan pilpres serta pileg 2019. Diantara ribuan santri itu ada yang tingkat Madrasah Ibtidiaiyah.

Malam itu, saya membuka file tentang agama di iphone saya. Dijelaskan bahwa kematian merupakan suatu proses yang pasti akan dirasakan setiap makhluk hidup. Tapi kapan kematian itu akan datang? Hanya Allah SWT saja yang maha mengetahuinya.

Secara religi, kematian yang dirasakan seseorang tidak sama dengan orang lain. Waktu dan penyebabnya sangat beragam. Apalagi keadaan manusia setelah kematian juga bermacam-macam. Begitulah Allah Swr berkehendak.

Artinya, semua yang menimpa manusia di saat-saat kematian, sangat tergantung dari bagaimana manusia tatkala menjalani kehidupannya di dunia. Malam itu saya sempat membaca surat Ankabut : ‘’Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka, dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan. (QS.Al-Ankabut:13)

Serapannya bahwa disaat seseorang melakukan keburukan, terkadang seseorang hanya berpikir keburukan ini hanya berpengaruh negatif kepada dirinya sendiri. Seolah menganggap dosanya berhenti hanya di perbuatan itu saja. Padahal bukan.

 

Rekan Seprofesi dimana pun berada,

Dahlan Iskan, ini bukan sekedar wartawan senior. ia juga politikus sejak Orde Baru yaitu ikut menjadi pengurus Partai Golkar bersama Almarhum M. Said, Ketua Golkar Jatim dan Harmoko, Ketua Umum Golkar serta almarhum Eric Samola, bendahara Golkar. Bahkan hingga reformasi, saat ia bisa mengembangkan sayap Jawa Pos ke seluruh nusantara, Dahlan masih aktif sebagai pebisnis menggunakan fasilitas Negara sekaligus politikus. Praktis, karir jurnalistiknya tidak ada yang menandingi termasuk Surya Paloh, apalagi Jacob Oetama (koreksi dalam surat terbuka saya kemarin tertulis Jacob Hendrawan- mohon maaf atas salah ketik).

Dalam wawancara dadakan kemarin, Dahlan Iskan, begitu rapi menata kata-kata yang diluncurkan. Mungkin ia sudah menebak, orang yang duduk disampingnya, bertanya pelan-pelan seperti konseling bukan wartawan yang nerocos dengan berbagai pertanyaan, tidak bisa direspon dengan jawaban blak-blakan. Demikian pula, saya yang berpengalaman wawancara berbagai pengusaha, pejabat, penegak hukum, praktisi hukum sampai pelaku kejahatan, tak mau kehilangan momen mengorek pribadi Dahlan yang menggembol berbagai masalah pers, politik, bisnis dan penyakit akut yang diderita orang pekerja keras seperti dirinya.

Dengan trackrecordnya, upaya menulis penyakut akut di website Disway, mencari pengikut, lewat media sosial, karena Jawa Pos, sudah ditinggalkannya dan manajemen Jawa Pos pun tidak mau korannya dipakai kampanye atau pencitraan Dahlan Iskan, sesuka, seperti saat manajemen masih dikendalikan bersama Nany Wijaya, wartawati yang dikalangan wartawan Jawa Pos, dikenal memiliki kedekatan istimewa dengan Dahlan Iskan maupun Azrul Ananda, anaknya.

Berdasarkan catatan jurnalistik saya, Dahlan Iskan, meski bukan lulusan komunikasi massa, ia dengan segudang pengalaman di pers, bisnis dan politik, tahu persis tentang manfaat dan kegunaan pencitraan. Sampai menderita sakit, dikemas dalam pencitraan orang sakit untuk publik. Luar biasa terobosan yang dilakukan Dahlan Iskan.

Dalam ilmu komunikasi, “citra” juga disebut kesan, pendapat, penilaian yang diberikan  terhadap orang, sekelompok orang, organisasi atau bahkan negara. Saya pikir, hampir banyak orang yang bermasyarakat,  menyukai dicitrakan sebagai orang baik, atau berpribadi unggul. Maklum, orang yang memiliki citra baik akan teruntungkan dalam banyak hal.

Oleh karena itu membangun citra diri menjadi penting.  Dan berapa pun besarnya dana yang harus dikeluarkan, asalkan masih terjangkau,  akan dibayar. Strategi pencitraan mulai banyak diterapkan dengan  menggunakan kalkulasi pedagang. Artinya,   uang yang dibayarkan, pada suatu saat,  akan kembali. Sebab  dengan citra baik, maka akan banyak hal yang bisa dijual hingga mendatangkan  uang.  

Maklum, citra baik, selain  mahal harganya juga tidak mudah diraih.  Secara sederhana,  agar dicitrakan sebagai pribadi baik, maka harus selalu tampil mantap. Dahlan Iskan, saya pikir tahu tahapan-tahapan membangun citra dengan berbagai atribut, termasuk yang kini dilakukan melalui website, Disway, yang menulis tentang penyakit akutnya, aorta dissection .

Saya berpesan pada Dahlan iskan, bahwa membangun citra diri itu berat. Apalagi terkait sebuah citra mengobati sakit yang aneh, berat dan jarang terjadi. Apalagi, Dahlan baru digoyang soal dugaan korupsi. Meski bebas, kasusnya masih dalam proses PK di Mahkamah Agung dan ada yang masih disidik di Mabes Polri dan Kejaksaan Agung.

Secara akal sehat, citra diri Dahlan Iskan, sampai sekarang belum baik-baik amat. Kira-kira masih dalam di grey area, ada citra positif dan negatif. Bisa jadi pencitraan sekarang ini bisa menimbulkan rasa iba dari orang lain, terutama pengikutnya.

Dan bukan tidak mungkin bisa meruntuhkan ketokohannya dalam dunia pers yang berpolitik praktis. Dan ini bisa direguk Dahlan, hanya karena kesalahan kecil. Apa dan bagaimana, hanya Dahlan Iskan yang akan merasakan.

Saya menganggap, ditengah tudingan korupsi yang belum selesai (cetak sawah dan anggaran listrik dan dana mobil listrik di Kementerian BUMN yang dipimpinnya dulu) Dahlan bisa  keluar dari pencitraan negatif, hanya kecerdasan dan karakter Dahlan Iskan yang bisa mengatasi keruntuhan dirinya agar tidak lebih fatal.

Maklum, dalam praktik berpolitik, kelebihan seseorang tidak selalu membawa berkah. Mengingat dalam politik praktik, ada lawan tak kelihatan da nada kekuatan besar tak tampak (invisible hand). Artinya, secara moral, saya mengingatkan kepada Dahlan Iskan bahwa kelebihan yang dipaksakan merupakan ujian atau batu sandungan yang bisa dialami seseorang  secara terus menerus terutama orang yang suka melukai dan menyakiti sesama teman seprofesinya dulu.

Hal yang tidak saya duga dengan akal sehat, dari kantor Jawa Pos di Graha Pena, tahun 2003 dulu, muncul bertumpuk buku “Terpuruknya harian Surabaya Post”. Ada apa Jawa Pos, menyimpan buku kompetitornya yang sudah dilikuidasi, kemudian buku ini dibagi-bagikan gratis ke publik. Salah satu yang membagikan adalah Dhimam Abror, yang saat itu dipercaya Dahlan Iskan, sebagai Pemimpin Redaksi Jawa Pos. Subhanallah. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung).



Komentar Anda



Berita Terkait