Segmen UMKM BRI Tambah Susah Disalip

 

SURABAYAPAGI.COM, JAKARTA - BRI memiliki fokus yang tegas untuk menggarap pasar UMKM. Ini pula yang menjadi bahan bakar untuk mencapai tujuan sebagai The Most Valueable Bank in Southeast Asia. Bagaimana inisiatif-inisiatif BRI untuk memperkokoh perannya di pasar tersebut?

Bank Rakyat Indonesia (BRI) memiliki peran yang sangat signifikan dalam membumikan layanan keuangan sektor perbankan di Indonesia. Usianya yang sudah 122 tahun, selaras dengan perannya yang sudah menjangkau secara luas, baik di perkotaan, pedesaan, hingga remote area.

Taliabu yang berada di Maluku Utara menjadi salah satu cerminan dari kekuatan dan keunggulan BRI dalam menjamah nasabah hingga pelosok daerah. BRI menjadi satu-satunya bank BUMN yang hidup di sana. Ada satu bank lain kelas bank pembangunan daerah (BPD) yang menjajal di sana, yakni BPD Malut yang hadir belum lama ini. 

Menaklukkan tantangan seperti ini bukan perkara yang mudah bagi perbankan. Tanpa ada pengalaman dan keberanian yang besar, bank tidak bakal bertahan lama melayani daerah-daerah seperti Taliabu. Bayangkan saja, untuk menempuh daerah tersebut harus lewati jalur perairan menggunakan speedboat. Para nasabah di daerah tersebut paling tidak harus meluangkan waktunya 3 jam untuk sampai ke BRI unit terdekat di daerah tersebut. Wajar saja, setiap kali ada nasabah yang akan ke kantor unit, maka nasabah yang lainnya menitip setoran kepada nasabah tersebut.

Salah satu penawar tantangan tersebut ialah dengan melakukan banyak inovasi, BRILink salah satunya. Jumlah BRILink sudah mencapai 84.550 agen pada tahun 2016. Adanya BRILink sangat mempermudah para nasabah dan pegawai BRI melakukan transaksi keuangan. Inovasi tersebut akan semakin mempermudah BRI untuk menggarap pasar lebih dalam.

Bank yang memiliki fokus segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ini tetap meneguhkan diri menggarap secara serius pasar ini. Fokus ini pula sebagai salah satu jalan perseroan untuk mencapai most valuable bank di Asia Tenggara pada tahun 2022. Menurut Direktur Utama BRI, Suprajarto, portofolio kredit UMKM akan ditingkatkan hingga sebesar 80% dari total penyaluran kredit BRI di tahun 2022.

Direktur BRI, Handayani, mengatakan BRI fokus untuk excellencing operation digital di segmen UMKM pada tahun 2018. Ke depannya, kredit UMKM arahnya mencapai 80% dan sisanya 20% pada korporat di tahun 2022. “Kita kan bank MSME’s atau UMKM,” kata Handayani.

BRI telah menyalurkan kredit senilai Rp664,6 triliun sampai dengan kuartal III tahun 2017. Kredit yang paling besar mengalir ke kredit usaha mikro sebesar Rp229,3 triliun atau sekitar 35% dari total kredit yang disalurkan. Kredit usaha mikro tersebut tumbuh sebesar 12% pada kuartal III. Adapun kredit UKM mencapai Rp23,2 triliun pada periode tersebut atau sekitar 3% dari total kredit yang disalurkan pada periode tersebut. 

Bank yang memiliki kantor unit sebanyak 5.381 ini tidak dapat dikalahkan oleh bank mana pun dalam urusan UMKM. Tidak ada bank lain yang bisa mengejar penyaluran kredit yang sangat besar untuk sektor UMKM. Di kelompok bank BUKU IV, penyaluran kredit UMKM yang dilakukan bank yang dipimpin Suprajarto ini jauh di atas bank-bank lainnya.

Dari hasil perbandingan dengan sejumlah bank pada tahun 2016, baik dengan yang berada di jajaran BUKU IV dan III, BRI menyalurkan kredit UMKM hingga ratusan triliun rupiah. Sedangkan, bank yang lainnya masih sektitar puluhan triliun saluran kredit untuk UMKM. Perseroan telah menyalurkan kredit untuk UMKM sebesar Rp358,2 triliun pada tahun 2016. Sebanyak 94%-nya terdistribusi untuk kredit mikro kecil. Sisanya, tersalurkan ke sektor kecil menengah. Adapun bank BCA menyalurkan kredit UMKM sebesar Rp52,24 triliun. Bank lainnya, seperti BTPN dan Bukopin, masing-masing menyalurkan kredit serupa sebesar Rp16,44 triliun dan Rp32,88 triliun.

Perseroan memiliki ketergantungan yang besar dengan segmen usaha mikro. Pada tahun 2016 saja, sokongan segmen mikro kepada kredit yang digelontorkan bank sekitar 33,29%. Adapun kontribusinya pada simpanan sekitar 29,45%. Untuk semakin memperkuat bisnis pada segmen ini, perseroan harus semakin meningkatkan peran BRI Unit, Teras BRI, Teras Mobile, Teras BRI Kapal, hingga BRILink. 

Pasalnya, itulah ujung tombak yang memiliki interaksi langsung antara BRI dengan para nasabah mikro. Layanan -layanan inilah yang menjadi faktor yang mendasarkan kekuatan BRI mengakar hingga berbagai daerah dan kelompok bisnis terkecil sekalipun.

Inisiatif lainnya untuk terus memperkuat segmen pasar UMKM adalah inovasi yang terus dieksplorasi bank yang identik dengan UMKM ini. Manajer Umum Kebijakan dan Strategi Bisnis Mikro BRI, Suprayogi AS, mengatakan segmen mikro belum mempunyai fintech khusus, tetapi nanti akan ke arah sana. 

“Kita juga sudah punya BRIspot yang merupakan reenginering process dari manual ke digital khusus untuk mikro. Ini sudah kami uji coba di Kanwil 3, sekarang di seluruh Jawa awal tahun ini,” kata Suprayogi.

Untuk UMKM, bank BUMN ini melakukan sejumlah inisiatif yang dilakukan pada tahun 2016, seperti pengembangan Teras BRI Digital, e-Pasar, satu juta domain gratis untuk UMKM, dan lain sebagainya. Inisiatif ini sebagai salah satu langkah yang dilakukan perseroan untuk menaikkan kelas UMKM yang sudah ada. Harapannya, para UMKM tersebut dapat menjadi juara-juara yang lahir dari masing-masing wilayahnya dengan berbagai keunggulannya.

(cr/wrtknm)



Komentar Anda



Berita Terkait