Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan. Di belakangnya berdiri Wakil Presiden AS Mike Pence (kiri) dan Ketua DPR AS Paul Ryan (kanan) bertepuk tangan di majelis Dewan Perwakilan AS di Washington DC, pada Selasa (30/1/2018). (Win McNamee/P

SURABAYAPAGI.com, Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku lebih memilih untuk menutup layanan pemerintahan federal atau shutdown, apabila Kongres tidak menyetujui kebijakan imigrasinya.

"Jika kita tidak mengubahnya, mari kita shutdown. Kita akan melakukan shutdown, dan itu layak untuk negara kita," katanya.

Dilansir dari BBC, Rabu (7/2/2018), Trump mungkin tidak akan memperpanjang tenggat waktu bagi perlindungan hukum terhadapimigran.

Seperti diketahui, bulan lalu, pemerintahan AS sempat tutup di tengah kemacetan politik yang terjadi.

Berbicara di depan panel penegakan hukum Gedung Putih, pada Selasa (6/2/2018), Trump mengatakan jika tidak ada perubahan terhadap aturan imigrasi, maka akan menjadi celah masuknya pembunuh.

"Jika kita tidak mengubah aturan, jika kita tidak menyingkirkan celah di mana pembunuh masuk ke negara kita dan terus membunuh... jika kita tidak mengubahnya, mari kita shutdown," katanya.

"Saya ingin melihat shutdown jika kita tidak menyelesaikan masalah ini," ucapnya.

Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan ucapan Trump tidak mengindikasikan kemungkinan shutdown lagi.

"Dia menginginkan kesepakatan jangka panjang dan kesepakatan mengenai imigrasi," katanya.

Menurut Trump, kematian atlet sepak bola Amerika yang disebabkan oleh pengendara mabuk yang telah masuk ke AS secara ilegal menjadi titik kebutuhan reformasi imigrasi.

Dua hari lagi merupakan tenggat waktu bagi pengesahan anggaran pemerintah sementara.

Sementara, pada bulan lalu, pemerintahan administrasi Trump akan memberikan kewarganegaraan bagi dua juta imigran. Sebagai gantinya, Kongres menyetujui anggaran 25 miliar dollar AS untuk pembangunan tembok perbatasan AS-Meksiko.