Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendatangi Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri, Selasa (6/2/2018).

Tahun politik 2018 tak hanya diramaikan dengan panasnya calon yang akan bertarung di Pilkada 171 daerah. Tapi perseteruan elit politik nasional, juga ikut memanaskan. Terbaru, Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melaporkan pengacara mantan Ketua DPR Setya Novanto, Firman Wijaya, ke Bareskrim Polri, Selasa (6/2/2018). Advokat ini dilaporkan karena dinilai telah menyudutkan SBY dalam sidang kasus korupsi e-KTP pada 25 Januari lalu, yang menghadirkan mantan politisi Demokrat, Mirwan Amir. Ketua Umum Partai Demokrat ini juga mempersoalkan tuduhan mantan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto, yang menyeret putra bungsunya Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) di pusaran korupsi e-KTP.

---------------

Laporan : Tedjo Sumantri – Joko Sutrisno

---------------

SBY tak terima dengan tudingan terlibat dalam kasus mega korupsi proyek e-KTP. Nama SBY pertama kali muncul saat Mirwan Amir memberikan kesaksian di sidang e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto. Mirwan mengaku menyampaikan kepada SBY yang saat itu masih menjabat Presiden RI bahwa proyek e-KTP bermasalah. Namun SBY disebut-sebut tetap merestui.

SBY tidak terima namanya diseret dalam kasus itu. Ia merasa difitnah atas kesaksian Mirwan dan pernyataan Firman Wijaya. "Seolah-olah yang melakukan intervensi terhadap e-KTP. Seolah-olah lagi-lagi menurut mereka saya mengatur dan terlibat dalam proyek e-KTP," kata SBY di DPP Partai Demokrat, Jakarta, Selasa (6/2) kemarin.

Ia menilai persidangan Setya Novanto dengan saksi yang dihadirkan Mirwan Amir aneh. "Kita saksikan dalam sebuah persidangan yang sebenarnya sedang menyidangkan tersangka Setya Novanto tiba-tiba ada percakapan pengacara Firman Wijaya dan saksi Mirwan Amir, yang aneh, tidak nyambung, tiba-tiba menurut saya penuh nuansa rekayasa," tandasnya.

SBY merasa perlu memperjuangkan keadilan atas fitnah yang diterimanya. Sebab, menurutnya banyak rakyat tidak berdaya ketika diperlakukan tidak adil. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. "Saya akan lakukan jihad untuk sebuah keadilan," tegas SBY.

Dia mengaku banyak pihak ingin membantunya menyelesaikan persoalan ini. Mulai dari mengantar untuk menemui Kabareskrim Polri Komjen Aridono, hingga membantu sebagai penasehat dan kuasa hukum atau lawyer. Namun SBY memilih didampingi oleh istrinya, Ani Yudhoyono. "Biar saya sendiri datang ke Bareskrim. Saya ingin hidup tentram, biar ini saya selesaikan. Ini perang saya, this is my war," tegas SBY disambut tepuk tangan kader yang memenuhi markas Demokrat.

Soal Tuduhan Setnov

Pada kesempatan itu, SBY juga mengatakan, tuduhan Setya Novanto (Setnov) terhadap putra bungsunya, Ibas, dinilai ganjil dan menggelikan. SBY melihat tuduhan Novanto terhadap Ibas hanyalah sebuah permainan dan pihak manapun bisa melihat hal itu. "Bagaimana dengan tuduhan terhadap EBY (Edhie Baskoro Yudhoyono) yang secara ganjil menggelikan ditunjukkan dalam catatan seorang Setya Novanto? Mungkin secara tidak langsung maunya enggak (bermaksud) saya. Tetapi siapapun dengan mudah (menilai) itu sebuah permainan," kata SBY.

SBY menyampaikan, aneh jika Setya Novanto memamerkan buku catatannya.

Lebih disayangkan lagi, apa yang dipamerkan mantan Ketua DPR-RI tersebut langsung disebarkan luaskan oleh media massa dan menjadi bahan pergunjingan publik.

Untuk diketahui, Setya Novanto selalu membawa buku hitamnya saat persidangan. Kepada media, Novanto menyebutkan ada catatan terkait proyek e-KTP dalam buku itu. Pada persidangan Senin (5/2/2018), terlihat di buku tersebut ada sebuah kalimat menonjol, yakni "Justice Collabolator", yang ditulis dengan tinta hitam dan disertai tiga tanda seru.

Selain kata "Justice Collabolator", ada juga tulisan "Nazaruddin" dengan garis ke bawah, USD 500.000. Kata lainnya adalah "Ibas" dan "Ketua Fraksi". Ditanya lebih lanjut soal apakah Ibas yang dimaksud adalah Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono? Setya Novanto menjawab "No comment."

Ditanya soal apakah pihaknya juga akan meminta agar Puan Maharani, yang saat proyek e-KTP bergulir masih menjabat sebagai ketua Fraksi PDI Perjuangan, untuk dihadirkan di persidangan, jawaban Setya Novanto sama. "No comment lah," ujarnya. Setelah tersorot media soal catatan tangan di buku hitamnya, Setya Novanto menyembunyikan catatan tersebut.