Di-PHK, Security Graha Pena Menuntut

 

Puluhan security menggelar aksi protes di gedung Graha Pena Jl Ahmad Yani, Surabaya, Kamis (1/2). Aksi ini dilakukan karena uang pesangon belum dibayar setelah terjadi PHK. FOTO SP/BYOB


SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Gunjang-ganjing di Graha Pena Jawa Pos tampaknya belum reda. Setelah Dahlan Iskan disebut-sebut melepas sahamnya dan anaknya, Azrul Ananda, mundur dari semua posisi pucuk pimpinan Jawa Pos. Kini giliran masalah ketenagakerjaan mencuat di gedung yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Surabaya itu. Kamis (1/2/2018) kemarin, sejumlah security melayangkan protes terhadap manajemen.

Aksi protes itu setidaknya dilakukan oleh 26 petugas security di depan Gedung Graha Pena, pagi kemarin. Mereka mempertanyakan uang pesangon atas pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh manajemen Graha Pena. Apalagi, PHK dilakukan secara sepihak.

"Iya ini kami bersolidaritas buat mempertanyakan nasib kami di Graha Pena ini. Ini juga tidak jelas, surat pemutusan per tanggal 31 Desember 2016, sedangkan sampai saat ini kami masih disuruh bekerja," ujar salah satu security saat berbincang dengan Surabaya Pagi.

Selain itu, ada kejanggalan yang menurut para security ini dilakukan oleh pihak manajemen. Salah satunya mekanisme pemberian surat yang baru diberikan akhir Januari lalu, padahal di situ tertera tanggal pemberhentian sejak 31 Desember 2017. "Ya itu, saya kurang tau ya kenapa. Yang pasti surat pemberitahuan pemberhentian kerja ini dikasih kemarin (31 Januari). Kami juga tidak pernah dipanggil sebelumnya terkait persoalan ini," kata pria bertubuh tambun itu.

 





Selain itu, security sekuriti yang bekerja rata-rata dua hingga tiga tahun itu mengaku jika tidak ditemui oleh pihak manajemen untuk mengklarifikasi persoalan tersebut. "Iya kami sebetulnya ingin berkomunikasi, tetapi pihak manajemen tidak menemui. Tadi disuruh ke atas tapi tidak ditemui," lanjutnya.

Rencananya, jika pihak manajemen masih enggan melakukan komunikasi dengan para security yang sudah mengabdi pada perusahaan ini, mereka akan tetap melakukan aksi protes. Mereka juga mempertanyakan kejelasan terkait nasib mereka. Selanjutnya, para sekuriti ini menunjuk kuasa hukum untuk turut membantu proses negosiasi terhadap pihak manajemen Graha Pena.

Sementara itu, saat mencoba dikonfirmasi, pihak manajemen melalui resepsionis kantor pemasaran Wiwik menuturkan jika dirinya tidak dapat menjawab persoalan itu, Surabaya Pagi pun diminta agar menghubungi Leni selaku HRD di perusahaan tersebut. Namun setelah menunggu satu jam lebih, Leni yang semula memberitahukan akan menemui wartawan, justru membatalkannya dengan dalih meeting mendadak. Sampai berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak manajemen PT. Graha Pena Jawapos itu. n fir



Komentar Anda



Berita Terkait