SURABAYAPAGI.com, Jember - Rencana aksi menuntut Bupati Jember mundur, mulai mendapat respon penolakan sejumlah ormas asli Jember. Seperti Ormas Perintis, yang menilai rencana aksi 212 versi Jember, kental muatan politis.18/1
 
Ketua Ormas Perintis Jember, Gembong Konsul Alam, menilai ada kelompok oposisi bupati, memanfaatkan momen aksi dahsyat 212 Bela Islam seperti saat melawan Ahok di Jakarta. "Tapi ini Jember bung. Bukan Jakarte," Sindirnya.
 
Soal Ahok di Jakarta, tentu sangat berbeda dengan Bupati Faida di Jember. "Coba cek, adakah kebijakan bupati yang merugikan umat Islam?. Tidak ada," tegasnya.
 
Gembong pun malah memuji, sikap bupati yang menaikkan tunjangan guru ngaji di kampung-kampung yang jadi 3 kali lipat. "Apalagi sekarang di mana-mana sering ada sholawatan. Ini prestasi. Bukan malah dikritisi," ujarnya. 
 
Belum lagi soal rencana Bupati Faida, membangun bandara untuk embarkasi haji dan umroh di Jember. "Rencana itu bukan wacana. Tapi nyata. Angkasa Pura II sudah bersedia. Bahkan Presiden Joko Widodo setuju, atas gagasan bupati yang perpihak pada umat Islam," bebernya.
 
Gembong merasa heran, di Jember bisa dipastikan, baru Bupati Faida yang menerapkan bisa sekolah di mana pun, bagi pelajar yang hafal al quran. "Masak ini masih mau di demo, atas nama kiyai dan santri?. Saya kok heran," sesalnya. 
 
Ketua II Ormas Perintis Jember, Cak Omen, menilai memang seksi demo pakai nama kiyai dan santri. Namun itu tidak baik, karena ada nama agama yang dikedepankan. "Kalau menilai kinerja 2 tahun Bupati Faida, saya kok puas banget," akunya. 
 
Kata Cak Omen, 2 tahun bisa merealisasikan 16 janji kerja, dia nilai keseriusan membangun Jember sudah sangat tampak. "Kalau saran saya, sabar dulu lah. Tunggu tiga tahun lagi, cari calon yang layak, lawan Faida di Pilkada berikutnya. Itu lebih terhormat," pintanya. 
 
Kades Tanggul Kulon yang juga koordinator kades di Ormas Perintis Jember, Arifin Wahyuono berharap tak ada kegaduhan politik di Jember. Apalagi, mempolitisir sikap dan kebijakan bupati yang sudah pro rakyat. 
 
Kata Arifin, dia menilai rencana aksi 212 lebih tinggi hasrat politiknya, ketimbang untuk kepentingan rakyat Jember. "Kenapa?, karena saya nilai, pembangunan era Bupati Faida sudah merata," katanya. 
 
Seperti yang dicontohkan di desanya. Bukan hanya pengaspalan, pavingnisasi pun juga merata di desa-desa. "Sekarang pembangunan merata, karena bupatinya tak mau minta jatah (tidak korupsi)," tegasnya.
 
Arifin, menyindir penggagas aksi 212 versi Jember, dengan kata-kata : "Nikmat apa lagi yang kau dustakan?," katanya. 
 
Karenanya, dia meminta supaya masyarakat Jember tak mudah terpengaruh, gerakan dengan embel-embel 212, seolah-olah gerakan bela Islam yang pernah ramai di Jakarta. "Karena memang benar, pemimpin jujur tak mau korupsi, jadi sasaran tembak banyak orang. Tapi rakyat, pasti mendukung pemimpiin yang jujur," pungkasnya