Ombak tinggi dan besar seperti ini, membuat mayoritas nelayan Pantura berhenti melaut. (SMG/MUHAJIRIN KASRUN)

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Sudah dua minggu ini mayoritas nelayan di wilayah Pantura Brondong dan Paciran harus kehilangan mata pencarianya, menyusul keenggananya melaut, lantaran ombak saat ini cukup tinggi dan membahayakan keselamatan.

Apalagi tingginya ombak 3-4 meter juga disertai dengan angin kecang. Kontan saja kondisi yang demikian, oleh pera nelayan di wilayah utara dimanfaatkan untuk memperbaiki jala dan jaring di sekitar tepi pantai sepanjang pantai mulai Weru Paciran hingga wilayah Brondong.

Seperti yang dituturkan oleh Abd Manaf ketua Rukun Nelayan Desa Weru Kecamatan Paciran Lamongan, Minggu (14/1/2018), kalau nelayan sudah semingguan mayoritas tidak menjalankan aktifitas mencari ikan.

Kalaupun ada yang nekad beraktifitas, karena semua itu adalah bagian dari kebutuhan, sesama nelayan hanya bisa memperingatkan, tidak bisa mencegahnya, dan semua nelayan tahu akan resikonya.

"Kami para nelayan tidak gegabah nekad melaut, kalaupun ada yang masih nekad melaut itu karena keterpaksaan dan kebutuhan, kami sebagai teman hanya bisa mengingatkan tidak bisa mencegahnya," katanya.

Meskipun katanya, pendapatan yang selama ini diperoleh akan hilang begitu saja, namun lanjutnya keselamatan jiwa tetap menjadi yang utama. "Rata-rata nelayan harus kehilangan pendapatan per harinya 150 - 200 ribu, ya bagaimana lagi memang sudah musimnya," terangnya.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, Rahman harus mengambil uangnya yang ada di bank. "Untuk saya kebetulan kami punya tabungan, ya kami ambil uang itu untuk kebutuhan sehari-hari, kalau tidak punya tabungan ya kasihan, harus ada perhatian dari Pemerintah, " ujarnya.

Namun dari ratusan nelayan Pantura, masih banyak dan mayoritas mereka jarang yang mempunyai tabungan. Sehingga untuk melanjutkan hidup dari kondisi demikian, nelayan kebanyakan banyak juga yang menjual barang berharga.

"Barang berharga mereka ada yang dijual, ada juga yang digadaikan, semua itu dilakukan hanya untuk menyambung hidup, dan kebutuhan sehari-hari," jelasnya.

Sekretaris HNSI Lamongan Rukun Muhlisin saat dihubungi terpisah membenarkan kalau nelayan di Pantura enggan melaut. Kalaupun ada yang melaut tidak berani terlalu jauh. Hanya sejauh sekitar 2-5 mil dari pantai. Itupun hanya untuk mencari rajungan.

"Tapi ada juga yang nekat. Meskipun sudah diimbau tapi tetap berani menerobos ombak. Alasannya mutlak karena mereka butuh makan. Kita ini hanya bisa mengimbau dan berharap agar mereka berhati-hati," katanya.

Dalam kondisi ombak besar seperti ini, masih menurut Mukhlisin, sangat rawan kecelakaan. Apalagi, di perairan Desa Paciran, tempat keluar masuk perahu menuju tambat labuh sekarang ini mengalami pendangkalan.

Nelayan sangat berharap kepada pemerintah agar pintu keluar masuk perahu itu dikeruk agar lebih dalam. "Sebenarnya jika di keruk kita sangat berterima kasih, dan nelayan yang tidak melaut ini supaya diperhatikan," pungkasnya.jir