Mochtar W Oetomo Dosen Universitas Trunojoyo Madura

Adalah Sumul Aga. Ajudan Mahidevran salah satu permaisuri dari Raja Sulaiman (1520-1566), Sultan Ke-10 Kekhalifahan Ustmani (1299-1922). Lah, terus apa pentingnya Si Sumul Aga yang hanya ajudan Mahidevran ini? Begini ceritanya : Dari Raja Suleiman, Mahidevran memiliki seorang anak lelaki bernama Mustafa yang karena kecakapan, kecerdasan dan keberaniannya dinobatkan sebagai Putera Mahkota. Pewaris Kekhalifahan Ustmani yang gilang-gemilang dan ditakuti oleh seluruh negara Eropa pada saat itu. Pendeknya, Pangeran Mustafa adalah harapan seluruh rakyat Turki dan Ustmani. Pujaan, kebanggaan dan idola seluruh rakyat karena segala atribut kelayakannya sebagai pewaris tahta Kesultanan terbesar di muka bumi pada zaman itu.

Tapi, perjalanan manusia siapa yang tahu. Intrik internal keluarga yang berkepanjangan antara Mahidevran ibu Pangeran Mustafa vs Hurrem Ibu Pangeran Mehmed menyeret Kekhalifahan Ustmani dalam pusaran duka dan darah. Pangeran Mehmed tewas di tahun 1543 dalam sebuah skandal pembunuhan yang rapi. Disusul terbunuhnya Pangeran Mustafa di tahun 1553 atas perintah ayahnya sendiri Sultan Suleiman dengan tuduhan memberontak. Tragedi kematian Pangeran Mustafa benar-benar menyentakkan hati seluruh rakyat. Terutama sekali Mahidevran dengan segenap kroninya. Rakyat berduka, kecewa dan marah atas terbunuhnya pangeran pujaan hati. Ketidakpuasan melanda seluruh negeri dan juga dalam istana. Rasa marah dan kecewa itu bukan hanya ditumpahkan pada Hurrem musuh utama Mahidevran, tapi juga pada Sultan Suleiman yang dianggap tidak adil dan bijak karena telah memerintahkan pembunuhan atas sang pangeran.

Apalagi ketika satu persatu Mahidevran dan kroninya mulai terusir dari istana. Kegelisahan rakyat makin menjadi-jadi. Bahkan pemberontakan-pemberontakan kecil di berbagai wilayah atas nama pembelaan terhadap Pangeran Mustafa mulai merebak. Nah disinilah peran Sumul Aga itu dimulai. Sebagai salah satu orang kepercayaan Mahidevran, Sumul Aga juga terusir dari istana. Di salah satu sudut kota Istambul Sumul Aga membuka sebuah kedai kopi. Semata-mata bukan sekedar untuk menyambung hidup setelah kehilangan pekerjaan di istana, lebih dari itu kedai kopi Sumul Aga menjadi tempat membuncahkan kecewa dan amarah rakyat atas kematian Pangeran Mustafa.

Begitu tahu kedai kopi itu milik Sumul Aga rakyat berbondong-bondong datang ke kedai, ngopi, curhat, menumpahkan kecewa dan mencari informasi intrik istana dari salah satu pelakunya langsung, Sumul Aga. Makin hari kedai kopi Sumul Aga makin sesak dengan pengunjung. Bukan hanya rakyat biasa. Tapi juga mantan-mantan kroni Mahidevran dan Pangeran Mustafa yang berserak ke berbagai tempat pasca terusir dari istana. Kedai kopi Sumul Aga sekarang tidak lagi sekedar menjadi tempat cangkruk dan ngopi, tapi telah menjadi tempat rasan-rasan politik, diskusi kekuasaan dan bahkan konsolidasi berbagai kekuatan politik. Dan dari kedai itu mengalirlah berbagai informasi politik menyebar ke seluruh penjuru Kekhalifahan Ustmani, dari mulut-ke mulut sambung menyambung dan memperkuat serta memperluas kegelisahan, kekecewaan dan amarah publik pada Hurrem dan Suleiman.

Ya ya ya. Inilah salah satu peran kopi  dalam satu konstelasi politik dan perebutan kekuasaan yang pernah dicatat oleh sejarah. Kopi dan warkop dalam banyak perjalanan perebutan kekuasaan ternyata memiliki peran yang acapkali tak bisa diabaikan. Bahkan menentukan. Di berbagai belahan dunia lain pun peran penting kopi dan warkop ini juga terjadi. Berbagai studi antropologi menunjukkan kedekatan antara kopi, wakop dan politik. Seiring perkembangan zaman kedai-kedai kopi perlahan berubah menjadi ruang publik yang terbuka bagi siapa pun tanpa mengenal ras, agama, suku, kelompok sosial, dan antar golongan.

Kedai kopi menjadi media komunikasi politik tanpa intervensi kepentingan politik kelompok mana pun. Warung ataupun kedai  kopi juga bisa bercerita tentang sejarah peradaban. Di Arab misalnya, sudah sejak lama kedai-kedai kopi menjadi forum perdebatan politik, terutama saat negara-negara Arab dimonopoli oleh rezim yang berkuasa. Pada dekade 1500an warung-warung kopi di Makkah pernah dimanfaatkan para warga sebagai sarana mengkritisi pemimpin mereka. Kedai Kopi di Mekah juga menjadi perhatian sebagai tempat untuk pertemuan-pertemuan politik. Tak ayal, Khair-Beg, Gubernur Muda Makkah, pada 1511 M melarang pendirian kedai kopi akibat bermunculannya nada-nada kritis dan satir akan dirinya.

Di Inggris, kedai-kedai Kopi  mulai muncul pada abad pertengahan. Beberapa hikayat menyebutkan bahwa saat itu terdapat 2000 lebih kedai kopi. Kedai kopi kemudian muncul atas peran Virtuoso, kelompok elite lokal yang memiliki perhatian pada sastra, dan kebudayaan pada zaman renaissance. Di kedai kopi tersebut, hanya dengan membayar 1 Penny, orang-orang berkumpul sambil duduk berjam-jam mendengarkan berbagai perbincangan menarik mulai dari kedokteran , perdagangan hingga politik. Itulah mengapa warung kopi di Inggris saat itu  disebut dengan “penny universities”.

Saat kedai-kedai kopi di Inggris bermunculan, perlahan kopi mulai menemukan dimensi sosialnya yakni dikonsumsi sembari berbincang-bincang. Ketika mulai menemukan dimensi sosialnya, kopi tak lagi sekadar minuman yang rutin dikonsumsi tapi juga terlibat dalam banyak perubahan sosial-politik.Perkembangan kedai kopi dan aktivitas didalamnya  mampu mempertemukan warga di ruang publik. Kedai Kopi mejadi ruang alternatif di Inggris dalam melakukan jejaring sosial. Kalangan lelaki yang sebelumnya tidak memiliki tempat untuk membahas dimensi politik Kerajaan Inggris, akhirnya menemukan momentum setelah keberadaan kedai kopi muncul. The Economist pada 7 Juli 2011 misalnya menulis artikel “Back to the coffee house” pada era tersebut konsep media massa belum lagi dikenal. Berita tersebar dari mulut-ke mulut di kedai-kedai kopi, melalui proses dialogis.Tak ayal perkembangan dan dimensi politik kedai-kedai kopi di Inggris saat itu membuat Raja Inggris Charles II pada 29 Desember 1675 mengeluarkan pernyataan tentang Pelarangan Kedai Kopi, dengan alasan membuat orang mengabaikan tanggung jawab sosial serta mengganggu stabilitas kerajaan. Suara-suara protes pun bermunculan di London. Klimaksnya, dua hari sebelum aturan itu berlaku, raja mengundurkan diri.

Di Perancis, Pasqua Rosee juga mendirikan kedai kopi pertama di Paris pada tahun 1672. Kaum intelektual seperti Voltaire, JJ Rousseau, dan Denis Diderot kerap nongkrong di kafe untuk mendiskusikan ide-ide mereka.Antoine François Prévost mengatakan bahwa warkop memiliki kebebasan untuk mendukung atau menentang pemerintah; sehingga menjadi cikal bakal lahirnya kesetaraan dan republikanisme. Banyak pendapat mengatakan bahwa ide-ide Revolusi Perancis pada 1789 muncul di kafe. Seperti dituliskan Andinna Habiba dalam artikelnya Tentang Sebuah Masa Lalu Warung Kopi seorang penulis dan traveler dari Perancis, Jean Chardin menceritakan bahwa pada abad ke 17 suasana warung kopi di Persia. Pada saat itu, warung kopi merupakan lokasi bertukarnya berita secara luas, orang-orang bebas berdebat, dan mengkritisi pemimpin mereka tanpa ada kekhawatiran sedikit pun.

Sejarah telah mencatat kehadiran kedai kopi juga dapat menjadi ruang publik yang mapan dan mampu membangkitkan kesadaran banyak orang. Di kedai kopi warga bertemu, saling sapa, bekerja, berbagi, tertawa atau bahkan akhirnya mendorong perubahan. Tak terkecuali dalam kontestasi perebutan kekuasaan di Pilgub Jatim 2018. Kopi dan warung kopi pun mendapatkan peran dan momentumnya. Jatim sering dijuluki dengan provinsi sejuta warkop. Karena merebaknya warung-warung kopi di berbagai sudut desa dan kota. Ini tidak terlepas dengan adanya tradisi Cangkrukkan.  Meski tidak selalu harus selalu di warkop. Di Jatim, tradisi cangkrukan juga biasa dilakukan di teras, lincak, pos kamling atau di mana saja, satu yang pasti bumbu penyedapnya adalah secangkir kopi. Cangkrukkan, ngobrol ngalor-ngidul itu ternyata dapat berdampak besar.

Bahkan lebih dahsyat daripada pertemuan-pertemuan yang lebih serius seperti forum kelas, seminar, rapat, diskusi dan sebagainya. Dari rasan-rasan dan obrolan warkop inilah menyebar segala informasi politik terkait Pilgub menyebar ke seluruh Jatim. Bahkan, pertemuan-pertemuan politik, deal-deal politik acap terjadi di warkop, sambil nyeruput secangkir kopi. Politisi, pengamat, wartawan, konsultan dan bandar politik menjadi akrab dengan kopi dan warung kopi disela-sela kontestasi Pilgub Jatim yang mempertemukan dua kekuatan besar. Gus Ipul - Puti Guntur vs Khofifah - Emil Dardak.

Bahkan sejak dini kedua kandidat ini juga memandang pentingnya kopi dan warung kopi sebagai ruang publik yang strategis untuk menguasai dan mendistribusikan informasi politik. Disadari betul bahwa dari kopi dan warkop penggalangan, pembentukan dan pendistribusian opini publik bisa dilakukan. Jika pepatah Yahudi mengatakan siapa yang menguasai media dia akan menguasai dunia. Maka dalam pepatah Cangkrukkan, siapa yang menguasai warkop maka dia akan mendapatkan hati pemilih. Maka sejak dini Gus Ipul sudah mencanangkan program aksi "Ngopi Bareng Gus Ipul" di berbagai tempat dan kesempatan. Pergi kemana saja Gus Ipul selalu menyediakan stok kopi di mobilnya. Menjadi diplomasi kultural Gus Ipul saat bertemu dengan siapapun.

Dengan diplomasi ngopi bareng, Gus Ipul membangun jejaring politiknya, dari rakyat biasa, profesional, politisi hingga pengusaha. Sebagaimana yang dilakukan oleh Tim Khofifah dengan program aksi "Ngopipah" nya. Tak jauh beda, telah menempatkan kopi dan warkop menjadi instrumen penting dalam sekian banyak instrumen dalam strategi pemenangan. Ya ya ya. Sebagaimana Sumul Aga, Gus Ipul dan Khofifah juga tak mau ketinggalan dalam memanfaatkan kopi untuk merebut hati pemilih. Bahkan dengan cerdik Tim Khofifah menggabungkan jargon ngopinya dengan jargon kompetitornya, "Ngopi Bareng Kopipah". Ya ya ya. Sumul Aga Ngopi Bareng Kopipah. Menurut Sampyan, kopi siapa yang lebih "ngluwak"...? Kopi Bareng Gus Ipul apa Kopipah..?! Eheem........