Puti, Cucu Soekarno, Masih Lakukah di Generasi Milenial Jatim

Surat Terbuka untuk Calon Pemilih Pilkada Gubernur Jatim 2018, Pasca Pendaftaran Cagub-Cawagub di KPU (3-habis)

 

H. Tatang Istiawan


Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Kehadiran Puti Guntur Soekarno, jelang pendaftaran Pilgub Jatim 2018 di KPU, saya baca sebagai langkah yang “ujug-ujug” (mendadak). Ya mendadak, karena permintaan Gus Ipul, cagub usungan PKB yang ditinggalkan spontan oleh cawagub Abdullah Azwar Anas, kandidat pilihan PDIP.

Akal sehat saya mengatakan, penjodohan Puti Guntur, bukan praktik pemasaran politik yang baik. Artinya penggabungan dua kandidat dari partai yang berbeda ideologinya semacam ini bukan sebuah strategi marketing politik yang komprehensip. Terutama diukur dari feasibility politik.

Sifat “ujug-ujug” menggandengkan Puti Guntur langsung berujung pada pendaftaran peserta pilkada Gubernur Jatim di KPU, dua hari lalu, terkesan tanpa melihat segmen pemilih yang dituju. Kandidat Puti dan PDIP, sepertinya lebih memilih jalan pintas tanpa memiliki strategi pemasaran politik yang memadai.

Padahal, Gus Ipul harus berhadapan dengan Khofifah, lawan tempur dalam pilkada tahun 2008 dan 2013 lalu.

Saya heran, sepertinya, dengan fakta ini, baik PKB maupun PDIP,  tidak menempatkan marketing politik sebagai kebutuhan yang urgen. Padahal ditengah persaingan merebut kekuasaan L-1, bukan satu dua partai yang memerlukan marketing politik. Hampir semua parpol era keterbukaan seperti sekarang ini perlu mengontrol citra dan popularitasnya agar dapat menengguk suara yang memadai, pada Juni 2018 mendatang.

Saya heran, sebagai partai-partai besar (PKB dan PDIP) yang telah eksis dan mapan, kesan saya kok masih meremehkan kehadiran instrumen marketing politik?. Dengan realita seperti ini, saya bisa prediksi suaranya, bisa-bisa kelak tergerus oleh suara yang memulih cagub-cawagub yang diusung Partai Demokrat, Golkar, NasDem, Hanura, PPP, PAN dan PKPI.

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Pemilih terutama yang rasional, berkecenderungan lebih mengutamakan kemampuan cagub-cawagub dalam program kerjanya. Paling tidak program kerja atau  ‘platform’ partai politik dalam otonomi daerah seperti sekarang bisa dianalisis dalam dua hal: (1) kinerja partai di masa lampau  (back ward looking), dan (2) tawaran program untuk menyelesaikan permasalahan nasional yang ada  (forward-looking).

Kecenderungan yang saya serap, sejumlah pemilih rasional tidak hanya melihat program kerja atau  ‘platform’ partai atau cagub yang berorientasi ke masa depan, tetapi juga menganalisis apa saja yang telah dilakukan oleh partai dan cagub tersebut di masa lampau.

Maklum, kinerja cagub-cawagub biasanya termanivestasikan pada reputasi dan ‘citra’  (image) yang berkembang di masyarakat. Dalam konteks ini yang lebih utama bagi cagub-cawagub adalah mencari cara agar mereka bisa membangun reputasi di depan publik dengan mengedepankan kebijakan untuk mengatasi permasalahan provinsi Jawa Timur.

Gus Ipul, misalnya, sebagai cagub Pak De Karwo, minim prestasi nyata di masyarakat, kecuali menerima penghargaan Lencana Melati dari Presiden SBY, karena posisinya sebagai  Ketua Kwartir Daerah (Ka Kwarda) Jatim dan penghargaan Narwasita Tantra yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Minimnya prestasinya ini karena ia “ban serep’’ seorang gubernur, ataukah ia memang tidak pernah memulai membangun program membangun kesejahteraan rakyat yang jelas dan terukur. Berbeda saat masih menjabat Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Gus Ipul tercatat sebagai Menteri yang paling sering "blusukan" di daerah-daerah tertinggal.

Berbeda dengan Khofifah, yang memiliki berbagai program sebagai Menteri Sosial yang terukur. Antara lain pernah dipilih sebagai tokoh penggerak masyarakat oleh Islamic Fair of Indonesia. Perempuan yang juga Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) ini juga pernah mendapat penghargaan dari Menteri Kehutanan atas kontribusinya menggerakkan warga Muslimat NU menanam pohon, Pada tahun 2011. Selain inisiator Koperasi An-Nisa. Prestasi koperasi ini, yang membawa Khofifah  mendapatkan penghargaan dari Menteri Koperasi dan UKM, selama dua tahun yaitu pada tahun 2008 dan 2013. Pujian Kementerian Koperasi, Khofifah mau keliling provinsi mengajak perempuan/Muslimat NU, membangun koperasi.

Selain di forum internasional, Khofifah juga menoreh prestasi yaitu menjadi ketua delegasi pemerintah Indonesia di beberapa negara seperti menjadi Ketua Delegasi Republik Indonesia dalam “Women 2000, Gender Equality, Development and Peace for the Conventi on on The Elliminati on of All Forms of Discriminati on Against Women” di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, 28 Febuari 2000.

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Saya tidak tahu dengan minumnya prestasi Gus Ipul dan kemudian merekrut Puti Guntur yang bukan orang Jatim, apakah PKB dan PDIP telah menerapkan strategi pemasaran politik yang tepat? Terutama untuk memaksimalkan segala sumber daya yang dimiliki dalam memikat suara pemilih.

Dalam pandangan saya, strategi pemasaran politik seperti tingkat pilkada, seorang cagub minimal memperhatikan  Segmentation, Strategy, dan Scorecard.

Segmentasi pemilih misalnya, dari aspek marketing, adalah tahap pertama strategi pemasaran politik. Kadang ini seringkali dilewatkan dalam penyusunan strategi pemasaran politik. Dan segmentasi yang paling mudah ini berbasis demografi (usia, gender, dll) dan geografi, bahkan kini sudah bergerak ke berbasis psikografi. Nah, menampilkan Puti Guntur basis psikografinya sudah diperhitungkan? Apalagi geografi, keterwakilan mataramannya belum diwakili, baik oleh Gus Ipul maupun Puti.

Apalagi menyentuh target segmen pemilih yang dituju, seperti besarannya jumlah pemilih, tingkat persaingan, dan kemampuan cagub-cawagub PKB dan PDIP dalam menarget segmen pemilih. Saya tidak ingin tahu tentang penyusunan strategi yang biasanya partai melakukan penggarapan positioning cagub beserta partai, brand, dan campaign.

Apakah menyorongkan Puti sebagai cawagub, ada keinginan dari PDIP dan PKB, menempatkan positioning yaitu  menempatkan citra Puti Guntur di benak pemilih realistis?. Citra ini benarkah  memiliki cita rasa yang berbeda dengan Emil Dardak, cucu tokoh NU Trenggalek yang kini menjadi Bupati Trenggalek?

Sebagai calon pemilih Anda pasti bertanya siapa sebenarnya Puti Guntur? Apa prestasi dalam politik? Apakah didampingkan sebagai cawagubnya Gus Ipul, karena ia cucu Soekarno yang cantik? wallahualam.

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Dari menyerap anak-anak generasi milenial di Surabaya dan Malang, masa kemasan Soekarno, di kalangan generasi itu, jujur telah lewat. Apalagi diantara anak-anak biologisnya sudah tercerai berai ke beberapa parpol, sepertinya tidak kompak meneruskan ideologi penyambung lidah rakyat. Misal, Rachmawati, kini bergabung dengan Partai Gerindra, setelah sempat berlabuh ke Partai NasDem. Ia sering mengejek Megawati, yang menjadi Ketua Umum PDIP.

Sementara Megawati, meski tidak diikuti mayoritas anak biologis Soekarno, yang lain, istri almarhum Taufik Kiemas mendapat sokongan moral dari Guntur, kakaknya dan kini menyodorkan Puti, anaknya yang cantik, untuk menggantikan posisi cawagub Azwar Anas. Selain itu, Megawati  bisa mempengaruhi Guruh Soekarno Putri, untuk ikut memperkuat pencitraan PDIP yang dipimpinnya. Dibelakang Megawati ada anak kandungnya sendiri yaitu Puan Maharani dan Prananda. Sementara Sukmawati lebih menjadi penggiat sosial dan kebudayaan.

Dibandingkan Puan dan Prananda, Puti, putri tunggal pasangan Guntur Soekarnoputra dan Heni itu memang tak banyak dikenal. Maklum Puti Guntur baru beredar di jagat politik formal dalam lima tahun terakhir. Sebelumnya Puti banyak berkiprah di dalam kegiatan sosial, antara lain sebagai Wakil Ketua Yayasan Fatmawati. Baru pada 2009, maju sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat mewakili Jabar.  Puti duduk di Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan dan olahraga. Demikian juga pada periode 2014-2019 perempuan kelahiran Jakarta 26 Juni 1971 menduduki posisi anggota Komisi X DPR RI. Namun nama Puti tak tercantum dalam kepengurusan DPP PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati.

Pada pengujung Oktober 2012 lalu, alumnus jurusan Administrasi Negara Universitas Indonesia itu kepada satu media nasional, Puti Guntur mengaku tak memiliki ambisi politik.

Gambaran ini mencerminkan aspek branding Puti, yang menyentuh  personifikasi dan identitasnya. Nah, saat  positioning dan brand Puti Guntur dipublikasi, kita masih menunggu bagaimana PKB-PDIP, PKS dan Gerindra menyusun campaignnya.

Dalam dunia marketing sebagai ilmu, pemasaran politik bukan sekedar komunikasi politik atau juga bukan sekedar menjual Puti Guntur dan Gus Ipul kepada pemilih. Ada yang lebih dari itu yaitu serangkaian aktivitas komprehensif untuk menyampaikan dan menerjemahkan ide dan gagasan kepada target pemilih yang lebih tepat. Ini yang masih kita tunggu pasca pendaftaran dan pemeriksaan kesehatan. Pertanyaannya, masih lakukah Puti Guntur yang bukan asli Jatim dan mewakili dapil (Daerah Pemilihan) di Jawa Timur bisa menggaet suara pemilih muda, minimal generasi milenial anak nasionalis?

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Secara teoritis, dalam memahami perilaku pemilih, paling tidak ada empat karakter. Kategori pertama adalah pemilih rasional. Umumnya mereka generasi muda yang tinggal di kota-kota besar. Dalam bahasa gaul mereka sekarang dinamai generasi milenial.

Pemilih rasional atau generasi milenial umumnya memilih cagub-cawagub dengan mengukur  rekam jejak dan program yang dijanjikan, sekaligus menganalisis kemungkinan program-program tersebut relevan untuk dikerjakan atau tidak. Nah ini, persoalan bagi Puti Guntur.

Saya pernah diberi rekaman video Puti Guntur. Wanita cantik ini memang berpidatonya memukau. Tetapi kontens yang disampaikan masih masalah verbal-verbal yang ditinggalkan Soekarno, kakeknya. Pidatonya hanya bicara sekitar gotong royong dan Trisakti. Tak saya temukan cara ia memotret persoalan kebangsaan ini yang relevan dengan generasi milenial. Apalagi menyangkut kemiskinan dan menjualkan asset BUMN yang pernah dilakukan oleh Megawati, tantenya saat masih berkuasa sebagai presiden.

Bahkan hasil kajian  Dista Kurniawan dalam "Pengaruh Hasil Survei tentang Elektabilitas Capres-Cawapres 2014 terhadap Perilaku Pemilih di Surabaya" di jurnal Review Politik, dinyatakan bahwa pemilih rasional tidak begitu peduli faktor ideologi suatu partai dari kandidat tertentu. Nah, kajian Dista ini yang tampaknya tidak dipikirkan oleh PDIP, memilih Puti Guntur, mendampingi Gus Ipul.

Apalagi sejak pemilu presiden 2014, ditemukan oleh beberapa peneliti bahwa pemilih pada pemilu maupun pilkada sudah mampu melihat kandidat sebagai persona atau pribadi. Faktor ideologi sudah tidak lagi menjadi poin penting. Apalagi pemilih kritis yang selalu kritis dalam menganalisis kaitan antara sosok cagub dengan kebijakan yang akan dibuat apabila memenangkan pilkada.

Maka itu, saat saya membayangkan bagaimana cara Puti Guntur, menggoda perilaku utama dari pemilih milenialis yang dikenal melek digital, menyukai sumber pengetahuan yang cepat dan referensi dari kehidupan sosial dari dunia maya?

Saya memprediksi dengan modal wajah cantik dan menumpang nama besar Soekarno, kakeknya, Puti Guntur lebih bisa dilirik  pemilih tradisional yang memiliki hubungan emosional dengan partai nasionalis PNI. Maklum, antara PNI dan PDIP, meski tidak seluruhnya, dalam hubungan emosional masih memiliki  kedekatan sosial budaya dan asal-usul serta paham nasionalis kebangsaan.

Suka atau tidak, sekiranya Puti Guntur juga membidik segmen generasi milenial atau pemilih rasional dan kritis, perlu belajar dari gegap gempitanya para relawan masing-masing kandidat Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 lalu, dimana cagub yang diusung PDIP, kalah.

Dalam sebuah penelitian terhadap generasi ini, ditemukan mereka merupakan generasi baru yang mempunyai pandangan berbeda dengan pendahulunya. Kritik acapkali  menjadi marwah dalam kehidupan individunya. Apabila menghadapi penyelenggara kekuasaan yang berperilaku tidak adil, mereka tidak akan segan untuk menggunakan media dan organisasi massa untuk menekannya, terutama melalui Medsos.

Bahkan ada kekhawatiran generasi milenial juga rentan? akan hilangnya cara ber-Nasionalisme sebagaimana yang digelorakan oleh kakek Puti Guntur, Soekarno. Termasuk kecenderungannya yang kurang menaruh  hormat terhadap pahlawan pendahulu bangsa Indonesia. Terutama dalam menghadapi perkembangan zaman yang dianggapnya berbeda tantangan zaman dulu dengan zaman sekarang. (tatangistiawan@gmail.com)

 



Komentar Anda