Meski usianya sudah 73 tahun, Sumaji tetap menjadi pengayuh becak demi sesuap nasi. Sedang Masenun (63 tahun) berjualan tahu krispi. FOTO SP/FIRMAN

Bertahan hidup di kota metropolitan seperti Surabaya, tak segampang ucapan pengamat maupun pejabat pemerintahan yang menyebut ekonomi saat ini membaik. Apa yang dirasakan rakyat kecil (wong cilik) berbanding terbalik dengan analisis kebanyakan. Jika Bank Indonesia (BI) menyatakan rata-rata pertumbuhan ekonomi saat ini stabil di kisaran 5,05 persen, justru yang dirasakan wong cilik betapa sulitnya mencari uang untuk sesuap nasi.
---------------
Laporan : Firman Rachman, Editor : Ali Mahfud
-------------

Mencari sesuap nasi memang banyak cara, namun dengan segala bentuk keterbatasan yang alami dan sengaja diciptakan, membuat semakin sulitnya ruang gerak bagi pemburu "receh". Seperti dirasakan Sumaji, yang menggantungkan hidupnya sebagai tukang becak.

Bermodal becak sewaan, Sumaji sudah 35 tahun menekuni pekerjaan ini. Usianya yang sudah menginjak 73 tahun, tak menyurutkan semangatnya sebagai pengayuh becak di kota yang dipimpin Tri Rismaharini ini.

Sore itu, Sumaji agak enggan mengayuh becaknya. Tidak seperti biasanya. Seorang perempuan menghampiri Sumaji untuk meminta diantarkan ke jalan Dharmahusada, sekitar 7 kilo meter dari lokasinya saat ini. Namun dengan nada tak ingin menyinggung, Sumaji menolak halus permintaan perempuan itu.

"Bukan karena uangnya mas, tapi kaki saya gak kuat kalau terlalu jauh. Saya ambil yang dekat-dekat saja," cetus Sumaji sambil berada di dalam becaknya, saat ditemui Surabaya Pagi, sore kemarin.

Tinggal di Bantaran Rel
Cuaca pun tak bersahabat di langit kota Surabaya. Mendung tebal membuat Sumaji bersiap membeber terpal plastik di atas kursi penumpang becaknya. Sumaji, tinggal di sebuah rumah di kawasan bantaran rel kereta api Ngaglik. Kakek kelahiran Blitar yang sudah 50 tahun tinggal di Surabaya ini sudah berstatus duda. Istrinya sudah mendahuluinya meninggal. Sumaji memiliki tujuh orang anak yang kini sudah menikah semua.

"Saya tinggal sama anak saya nomor lima dan tujuh, yang lain ikut keluarganya ada yang kos mas," imbuhnya sambil memegang jenggot yang sudah dominan putih.

Seumur hidup Sumaji dipertaruhkan di jalanan. "Sebagai orang susah" sebutnya. Pernah suatu hari ia bermimpi menghabiskan masa tuanya dengan tenang bersama sang istri, almarhumah. "Tapi apa daya mas, kalau dulu saya mulai jadi kuli sampai narik becak masih lumayan. Meskipun saingan banyak masih ada saja yang pakai becak. Sekarang, bawa uang dua puluh ribu sampai lima puluh saja sudah lebih dari cukup. Belum lagi kondisi saya yang sudah berumur dan tak sekuat dulu lagi," tutupnya.