Khofifah, Berpenampilan Lembut Justru Pada saat Kuat

Surat Terbuka untuk Calon Pemilih Pilkada Gubernur Jatim 2018 (2)

 

H. Tatang Istiawan


Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Sebagai calon pemilih, Anda perlu tahu bahwa pilkada Gubernur Jatim 2018 akan melibatkan 32 juta pemilih lebih. Mereka memiliki keragaman latar sosial, politik, ekonomi, etnis, agama, dan ideologi serta berdomisili di berbagai wilayah pedesaan dan perkotaan.

Nah, cagub kali ini sama-sama dari keluarga Nahdliyin. Logikanya, baik Gus Ipul maupun Khofifah, tetap mengandalkan basic primordial dan basic kultural. Akal sehatnya keduanya masih sangat mengandalkan pemilih loyal yang tradisional. Pertanyaannya, apakah pemilih kelas menengah yang rasional di kota-kota, otomatis bisa Dirangkul semua atau malah memilih abstain atau golput?.

Saya memprediksi pemilih pilgub kali ini tak jauh dari empat karakter yaitu pemilih tradisional, pemilih apatis, pemilih rasional, pemilih bingung atau swing voter. Anda yang suka membaca koran, minimal berasal tiga pemilih berkarakter rasional, apatis dan swing voter. Berdasarkan teori regresi, tiga karakter pemilih ini berkecenderungan cuek atau memilih golput.

Kini, dengan adanya cawagub Gus Ipul, yang mojang priangan yang tak dikenal di Jawa Timur, bisa jadi pemilih tradisional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Jawa Timur, diprediksi tak solid memberikan suara kepada pasangan Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno, dalam Pemilihan Gubernur Jatim Juni 2018 mendatang.

Kelompok nasionalis ini, meski tersebar di hampir semua wilayah, tetap didominasi mereka yang berada di wilayah Mataraman. Nah, pertanyaannya, kenalkah pemilih nasionalis tradisional ini mau diajak Puti Guntur Soekarno, memilih Gus Ipul? Bila tergiur, mereka memilih karena programnya atau kecantikan Puti?. Kita lihat nanti pada saat pemilihan 27 Juni 2018.

Dalam surat terbuka ini, saya sengaja munculkan kawasan Mataraman dengan pemilih kaum nasionalis tradisional?, karena ada Puti Guntur dab wilayah Mataraman. Maklum, sejak dulu, wilayah ini dikenal sebagai daerah bekas Keresidenan Madiun dan Kediri. Dua kawasan dalam satu wilayah ini sampai sekarang kental dengan budaya Jawa yang memiliki historis dengan partai nasionalis seperti PDIP dan Partai Demokrat.

Sedangkan tapal kuda melukiskan budaya bagian timur yang dikenal pendalungan dengan dominasi bahasa Madura. pemilih di kawasan ini dikenal memiliki corak Islam yang kuat, bersama pemilih yang berada di empat Kabupaten di Madura, Bangkalan, Sampang, Sumenep dan Pamekasan. 

Dan Khofifah maupun Saifullah Yusuf, sama-sama berasal dari kelompok religius. Satunya dari wilayah arek dan satunya berasal Tapal Kuda.

Nah, meski dilahirkan di dua wilayah berbeda, keduanya sama sama-sama santri atau ijo-ijo royo-royo.

Dengan menggunakan pendekatan regresi, pada setiap pemilihan langsung, baik presiden maupun kepala daerah, ternyata diwarnai  berbagai kejutan politik. Ini terjadi pada Pilpres 2004 lalu, capres  SBY-JK yang diusung sejumlah parpol kecil dan kurang diperhitungkan ternyata mampu mengandaskan pasangan Mega-Hasyim, yang diusung sejumlah parpol besar dan sedang berkuasa. Demikian pula dalam Pilgub DKI Jakarta 2012,  pasangan Jokowi-Ahok yang diusung PDIP dan Partai Gerindra, bisa mengalahkan calon petahana Fawzi Bowo (Foke). 

Dua contoh ini merupakan fenomena praktis politik Indonesia yang selalu diwarnai banyak kejutan yang tak terprediksi sejak dini. Bisa jadi, meski Gus Ipul, adalah ‘’tuan rumah’’ atau incumbent, bisa jadi tergeserkan oleh Khofifah. Maklum, kejutan di politik praktis acapkali berlangsung tanpa prediksi dan terjadi pada detik-detik terakhir.

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Dari data yang saya peroleh, track record dua cagub ini, yaitu Saifullah Yusuf, pernah menjabat sebagai ketua Anshor. Sementara Khofifah menjabat sebagai ketua muslimat. Muslimat merupakan organisasi bagi kaum wanita NU. Kedua organisasi tersebut berada dibawah naungan organisasi masyarakat Islam yakni Nahdlatul ulama (NU).

Sementara konfigurasi dari partai politik pendukungnya, baik  Khofifah maupun Saifullah didukung oleh partai Islam. Khofifah didukung oleh PPP dan PAN, sedangkan Saifullah didukung oleh PKB dan PKS. Menariknya, mereka juga disupport oleh partai nasionalis. Khofifah didukung Partai Demokrat, Golkar dan Hanura. Sementara Gus Ipul dibela Partai Gerindra.

Secara matematis, atas majunya kedua pemimpin NU,  dapat diprediksi suara kaum nahdliyin akan terpecah menjadi dua. Anda  bisa mencoblos Saifullah Yusuf dan lainnya memilih Khofifah. Nah meski suara NU, tidak bisa bersatu dalam satu dukungan cagub dan cawagub pada pilgub Jatim 2018, tetapi insya Allah, diantara dua kandidat ini ada yang mampu menyedot lebih banyak.

Secara teoritis, Khofifah yang memiliki basis NU kultural, diprediksi bisa lebih disimpati oleh mayoritas kaum nahdliyin dengan penopang ibu-ibu. Maklum, meski Khofifah menjabat Mensos, setiap libur terutama hari Jumat sampai Minggu, ia sering melakukan kunjungan kerja ke hampir semua Kabupaten di Jatim. Antara lain mengadakan pengajian ibu-ibu hingga ke pelosok desa. Sementara Gus Ipul, lebih dekat dengan basis NU struktural yaitu pengurus NU tingkat provinsi dan Kabupaten/kota.

Apalagi, di Jawa timur sejak Pemilu 1955 dikenal sebagai basis masanya NU. Antara lain ditandai oleh tumbuh suburnya ratusan bahkan ribuan pondok pesantren ( ponpes) tradisional. Semuanya dibawah naungan NU. Dan kelaziman sejak dulu, para santri akan menentukan pilihannya dalam pemilu dan pilkada berdasarkan atas anjuran dari Kyai sebagai pimpinan ponpes. Penentuan pilihan  para santri ini mengenal sami'na wato'na (dengarkan dan laksanakan).

Tetapi kini, setelah ponpes-ponpes dimodernisasi, hasil penelusuran saya ke beberapa ponpes, tidak semua santri di ponpes-ponpes masih menerapkan konsep sami’na wato’na, apalagi dalam pilihan tokoh politik yang dimata sebagian santri, tukang membual ( banyak janji). Apalagi santri- santri yang berasal dari orang tua yang bertempat tinggal di kota, umumnya, saat pencoblosan pulang ke daerahnya, karena masalah KTP. Sedangkan yang tinggal di ponpes, bisa jadi masih sungkan dengan kyai, dan ada yang sudah acuh, karena menganggap pencoblosan bersifat rahasia dan jurdil, jujur dan adil.

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Sebagai calon pemilih, Anda perlu memahami bahwa apa yang kini dipertaruhkan Khofifah maupun Gus Ipul, adalah merebut kekuasaan. Artinya, suatu kekuasaan, apalagi menyangkut pengelolaan sumber daya alam dan keuangan pusat dan daerah (APBN dan APBD), tidak bisa dilakukan dengan sharing.

Perebutan jabatan Gubernur Jatim secara akal sehat, masing-masing kandidat akan mengeluarkan dana, tenaga, pikiran dan jaringan serta tentu saja strategi perang beserta taktik dan tekniknya. Goalnya, merebut kekuasaan Gubernur Jatim periode 2018-2023.

Saya membaca, strategi perang politik sampai pendaftaran yang telah diterapkan oleh Khofifah dari ajaran Sun Tzu, adalah menggabungkan beberapa jurus. Pertama yang kental adalah seringnya Khofifah melempar senyum dan menjawab pertanyaan dengan kalimat-kalimat diplomasi. Ini menggambarkan model seni berperang berpenampilan “tampak lemah (lembut) justru pada saat kuat”.

Strategi ini terbaca, Khofifah, seperti tahu hakikat perang dalam politik yang tak selalu disertai dengan perkelahian. Adu strategi “tampak lemah (lembut menebar senyum) justru pada saat kuat” dalam Islam, dikenal sebagai konsep ketawadhuan. Makanya, saat pendaftaran di KPU, ia sudah dielu-elukan oleh ribuan masyarakat sepanjang jalan Tenggilis-kantor KPU Jawa Timur.

Dalam buku “The Art of War”, Sun Tzu menyatakan Perang itu tentang menetapkan aksi dengan cara efisien untuk meraih kemenangan. Tentu, taktiknya dengan sedikit mungkin terlibat konflik dan mengakibatkan timbulnya jatuh korban. Apalagi dalam bisnis dan politik. Sikap yang dianjurkan Sun Tzu, orang politik yang cerdas hendaknya suka memilih kecerdikan ketimbang kekuatan kasar. Strategi ini akhirnya membuat Sun Tzu,  menduduki tempat terhormat diantara jenderal perang di dunia.

Nah dalam konsep ‘’berpenampilan lemah justru pada saat kuat’’, dimaknai sebagai strategi perang bertahan dan menyerang. Artinya, Khofifah, sebenarnya sudah tahu lawan sudah kalah sebelum berperang ( dengan mundurnya Azwar Anas menjelang pendaftaran).

Kesan yang saya baca, Khofifah-Emil, tahu berdiri di tempat yang tak terkalahkan, dan mereka tahu tentaranya (tim muslimat dan kyai-kyai disertai mesin politik parpol) sudah menang sebelum berperang.’’

Maka itu, Sun Tzu mengeluarkan pesan dalam bentuk kata mutiara perang yaitu ‘’Jika Anda tahu musuh dan suka mengenal diri sendiri, Anda tidak perlu takut hasil dari seratus pertempuran. Sebaliknya jika Anda mengenal diri sendiri, tapi tak mengenali musuh, untuk setiap kemenangan yang diperoleh, Anda juga akan menderita kekalahan. Jika Anda tidak tahu akan musuh maupun diri sendiri, Anda akan menyerah dalam setiap pertempuran. ” (The Art of War).

Strategi perang Sun Tzu ini dalam bahasa jawa dikenal dengan istilah ‘’digdaya tanpa aji’’. Artinya kurang lebih bahwa suatu kekuasaan sering kali tercipta, karena suatu kemenangan fisik, dan kemenangan mental. Artinya, kata-kata kekuasaan bukan juga karena seseorang mempunyai suatu ilmu bela diri,  ilmu tenaga dalam atau aji-aji. Namun suatu kekuasaan tercipta karena citra dan wibawa seseorang dari penampilan dan perkataannya. Hal ini yang dapat membuat orang lain sangat menghargainya. Sehingga apa yang diucapkannya, orang lain senantiasa mau mengikutinya. Sikap dan sifat ini justru tampak pada karakter Khofifah, bukan Gus Ipul, yang lebih dikenal tukang mbanyol atau bikin joke-joke. (tatangistiawan@gmail.com)



Komentar Anda