Last Minute, PKB, Terbaca Terapkan Strategi Perang Sun Tzu

Surat Terbuka untuk Calon Pemilih Pilkada Gubernur Jatim 2018, Pasca Pendaftaran di KPU (1)

 

H. Tatang Istiawan


Rabu (10/01/2018) hari terakhir pendaftaran Pilkada Gubernur Jatim 2018 di KPU Jatim. Sampai semalam, hanya dua bakal calon Gubernur yang mendaftar. Ini berarti genderang perang atau pertempuran hanya diikuti oleh cagub Khofifah dan Gus Ipul. Keduanya memiliki cawagub generasi milenial yaitu Emil Dardak Elestianto Ph.D (putra mantan Wakil Menteri PU Hermanto Dardak) dan Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri S.Pol, cucu Presiden Soekarno. Khofifah tidak lagi menggandeng cawagub dari militer atau Polri. Saifullah Yusuf, terkesan makin pede (percaya diri) seolah tanpa wakil pun, dirinya mampu menarik pemilih pilkada sekitar 32 juta orang. Kini, memungkinkan dua cagub yang sama-sama warga NU, mulai menyiapkan pertempuran dengan berbagai strategi. Terakhir yang berhasil saya telisik, PKB mencukil salah satu strategi perang ajaran Sun Tzu, tokoh klasik dari China. Sedangkan cagub Khofifah, masih senyum-senyum. Termasuk cawagubnya Emil Dardak. Apakah Khofifah dalam perebutan kursi L-1 ini juga menerapkan strategi perang Sun Tzu, wallahualam. Sebagai jurnalis investigator, bersama tim Surabaya Pagi, saya mengikuti jejak dua cagub ini dan saya tulis melalui surat terbuka dengan pendekatan Jurnalisme interpretative. Berikut tulisan pertama saya.

 

Analisis Politik

Dr. H. Tatang Istiawan

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Urusan memilih dan dipilih adalah hak Anda sebagai warga negara.  Pada dasarnya setiap warga negara memiliki hak memilih dan hak dipilih (hak pilih). Kali ini saya menyoroti hak Anda sebaqai pemilih calon Gubernur Jatim periode 2018-2023. Ternyata hanya dua kandidat yang mendaftar ke KPU. Gegap gempita porong emas, poros tengah dan poros-poros lain yang sejak tahun 2017 digembar-gemborkan, ternyata tidak terbukti ada. Rabu kemarin hari terakhir pendaftaran cagub-cawagub yang dibuka oleh penyelenggara Pilkada serentak, KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Dengan demikian pertempuran memperebutkan kekuasaan ditingkat provinsi Jatim telah dimulai! Dua  bakal calon kontestan dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 telah menggunakan  kesempatan mendaftar di KPU. Bakal calon yang akan memperebutkan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim akan mulai mendaftar di KPU Jatim. Sementara para petarung yang memperebutkan kursi Bupati dan Wakil Bupati serta Walikota akan mendaftar dengan rentang waktu sama di KPU masing-masing daerah.

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Peserta Pilkada Jatim kali ini masih diisi pemain lama yaitu Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf. Keduanya sebenarnya bukan setara. Dari aspek pengabdian untuk Negara, Khofifah harus diakui jauh lebih pengalaman dibanding Gus Ipul, nama panggilan Saifullah Yusuf. Paling tidak untuk 10 tahun terakhir ini, sejak keduanya head to head mulai tahun 2008, dalam Pilkada Gubernur Jatim secara langsung.

Khofifah, sejak Pilpres 2014, dari aktivis muslimat NU, melambung menjadi Menteri Sosial Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Maklum, saat pemilihan presiden antara Jokowi vs Prabowo, Khofifah, mendapat tugas pengelolaan wilayah Jatim dan menjadi juru bicara capres Jokowi. Alhamdulillah, Jokowi bisa mengalahkan Prabowo dalam soal mempengaruhi Anda pemilih gabungan nasionalis dan religius.

Sedangkan Gus Ipul, saat itu meski tidak menjadi anggota parpol manapun, ia bersimpati pada capres Prabowo, bersama beberapa elite politik lain di Jatim. Tak salah bila dalam Pilkada 2018 ini, Prabowo tidak jadi menelurkan kader atau orang non partisan untuk pilkada Jatim, seperti pilkada di Jabar dan Jateng.

Pilihan Gerindra, last minute malah mendukung bakal calon Gubernur Gus Ipul, bersama PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Tetapi PAN (Partai Amanat Nasional) “rekan’’ seperjuangan di pilkada DKI 2017, tidak ikut bergabung. PAN yang kini dipimpin oleh Zulkifli Hasan, mensupport cagub Khofifah, seperti mantan bosnya pada pemerintahan kabinet “Indonesia Bersatu’’, SBY, Ketua Umum Partai Demokrat.

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Khofifah, kali ini maju untuk kali ketiga. Sebagai politikus berbasis NU, lulusan FISIP Unair dan UI (S2), menurut akal sehat saya mesti belajar dari pengalaman dua kali maju dalam Pilgub Jatim yang mengalami kegagalan. Dua kali itu ia diusung PKB, yang kini malah merangkul Gus Ipul. Akankah Gus Ipul, mengalami nasib seperti Khofifah dalam Pilkada 2008 dan 2013, gagal tidak mampu meraih kursi L-1? Hanya Alloh yang Maha Tahu.

Kini, Khofifah, dengan telah pengalaman menjadi menteri lagi (setelah era Gus Dur, ia  sudah merasakan tanggung jawab sebagai menteri), pasti tidak mau menjadi keledai lagi. Dengan segudang pengalaman, apalagi telah menjadi Mensos, yang job descriptionnya mengurusi masalah kemiskinan dan sosial sampai ke pelosok desa, Khofifah belajar banyak. Termasuk mengenai strategi pertempuran politik di medan yang ‘’ganas’’ terutama di kawasan Mataraman, Tapal Kuda, Madura, Pantura dan Arek.

Dua kali, Khofifah, secara pikiran orang awam, seolah melakukan pertempuran head to head dengan KarSa (Karwo dan Saifullah Yusuf). Padahal, sesungguhnya, menurut analisis saya, jauh dari pertempuran setara atau head to head!

Kajian saya ini, didasarkan dua kali Khofifah didampingi calon wakil Gubernur dari Militer dan Polri. Mereka adalah Brigjen (purn) Mujiono, mantan Kasdam V/Brawijaya dan periode cagub kedua dengan Irjen Pol Herman S Sumawiredja, mantan Kapolda Jatim.

Faktanya, toh meski cawagubnya ahli perang, Khofifah tidak bisa menaklukkan KarSa. Siapa kuncinya, Pak De Karwo atau Saifullah Yusuf?. Menurut penelusuran saya, power KarSa, ada pada Pak De Karwo, bukan Saifullah Yusuf. Nah menggunakan teori regresi, sebenarnya power Saifullah Yusuf, tidak sebesar gambaran yang dicitrakan selama ini.

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Saya pikir Anda saatnya mengawasi benarkah nanti dalam pilkada Jatim 2018, pertempuran antara cagub-cawagub yang diusung PKB, PDIP, PKS dan Gerindra akan head to head dengan cagub-cawagub pilihan Partai Demokrat, Golkar, NasDem, PPP, Hanura, dan PAN?. Saya tidak terlalu percaya. Sebab dari cagub Gus Ipul, ada partai politik yang berpengalaman menerapkan politik identitas di pilkada DKI. Saya khawatir, meski di Jawa Timur didominasi oleh Islam moderat atau Islam nusantara, yang namanya perang bisa terjadi pengaturan strategi. Terutama melalui media Sosial. Mengingat, salah satu partai politik pendukung Gus Ipul, dikenal memiliki kemampuan pengelolaan Muslim Cyber Army (MCA) ala Indonesia.

Praktik pertempuran riil dengan opini publik bisa bertolak belakang. contoh dalam pertempuran di Israel antara tentara dengan pejuang intifadah Palestine. Benarkah pertempurannya bernuansa head to head?  Tidak, karena satu memakai senjata auto plus panser dan plus-plus lainnya. Sedangkan Hamas hanya menggunakan ketapel batu dan molotov. Fakta yang mendekati head to head hanya saat mereka mulai lempar-lemparan roket.

Faktanya, yang satu (konon) memakai homemade roket bernama Al Qossam dengan hulu ledak dari TNT. Sedangkan bahan bakar pendorong roketnya dari campuran pupuk dan sirup glukosa. Hampir mirip dengan buatan film MacGyver tahun 1980an. Sedangkan Israel sudah menggunakan perangkat roket canggih yang disebut Iron Dome.

Nah, pertempuran antara kubu Khofifah dan Gus Ipul, bisa jadi tidak seimbang. Bahkan meski mereka sama-sama memiliki basis NU, bisa jadi, bisa terjadi ada penusukan dari belakang. Maklum, posisi sekarang ini, Gus Ipul adalah ‘’kubu tuan rumah’’, sedangkan Khofifah, pendatang dari Jakarta.

Prediksi saya, bakal ada adu strategi. Maklum, dari dua kubu ini, ada tim dari militer yaitu SBY, Ketua Umum Partai Demokrat dan Prabowo, Ketua Umum Partai Gerindra. Akankah dua parpol ini menurunkan jenderal-jenderal tua yang bergabung padanya untuk mengutak-atik strategi perang mengalahkan lawan politiknya? Semua bisa terjadi. Mengingat, pilkada adalah pertempuran merebut kekuasaan tanpa perang menggunakan amunisi militer senjata otomatis dan panser, tetapi menggunakan akal militer, strategi dan taktik-taktik perang.

Toko-toko buku sekarang menjual buku strategi perang bisnis dan politik karangan Zun Tzu, ahli strategi perang China kuno.

Sun Tzu (770 SM-470 SM) maha guru seni berperang mengajarkan kita yang sedang bertempur agar berpenampilan ‘tampak lemah justru pada saat kuat’. Mengingat, perang, apalagi dalam politik tidak selalu berkaitan dengan perkelahian.

Perang lebih tentang menetapkan cara efisien meraih kemenangan dengan sedikit mungkin terlibat konflik dan mengakibatkan timbulnya jatuh korban.?Maka itu, ahli perang bisnis dan politik acapkali  menerjemahkan strategi-strategi seni perang Sun Tzu yang sangat aplikatif secara universal menjadi keterampilan mencapai kesuksesan di bidang apa pun.

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Ajaran seni perang Sun Tzu, bisa diserap oleh seorang pemilik perusahaan, pebisnis, pialang saham, produser film, atau astronot dan politisi. Bahkan, seorang ibu rumah tangga pun bisa mempelajari seni perang Sun Tzu. Terutama untuk  membantu mentransformasikan suatu kelemahan menjadi kekuatan. Maklum, Sun Tzu lebih dikenal sebagai seorang ahli strategi perang, sehingga banyak pemikirannya dipakai sebagai dasar berpijak bagi orang-orang, bukan hanya yang bergerak pada bidang militer, bahkan bisa dipakai para CEO dalam menjalankan bisnisnya. Termasuk elite politik dalam merebut kekuasaan.

Sikap lebih memilih kecerdikan ketimbang kekuatan kasar membuat Sun Tzu menduduki tempat terhormat. Makanya,  politisi dan pengusaha Jepang mengatakan , “politik itu bisnis, dan bisnis adalah perang.” 

Maklum, pasar adalah medan perang, yang mengharuskan strategi dan taktik, Sun Tzu menulis ajaran ini: Umpanlah Mereka dengan bayangan untung, bingungkan dan silaukan mereka.?Gunakanlah amarah untuk membuat mereka murka, rendah hatilah agar mereka sombong.

Letihkan mereka dengan jalan berputar-putar, bikin mereka bertengkar sendiri. Serang mereka di saat mereka tidak menduganya, di saat mereka lengah. Haluslah agar kau tidak terlihat. Misteriuslah agar kau tak teraba. Maka kau akan kuasai nasib lawanmu. 

Tidak heran banyak pebisnis dari barat bingung dan merasa dimanipulasi oleh rekan bisnis Asianya. Gunakanlah mata-mata dan pengelabuan dalam setiap usaha. Segenap hidup ini dilandaskan pada tipuan.

Bagi Sun Tzu perang adalah kegagalan. Menang itu sangat penting, tetapi seni perang adalah menang tanpa bertempur.

Semua orang berkata menang di medan tempur itu baik,?padahal tidak. Jenderal yang memenangkan setiap pertempuran?bukanlah jagoan sejati. Membuat musuh kalah tanpa bertempur itulah kuncinya. Lebih baiklah menjaga keutuhan negeri daripada menghancurkannya. Mengalahkan lawan tanpa bertempur Itulah puncak kemahiran. 

Soal kemahiran pertempuran politik, pernah diperagakan oleh Prabowo, pada tahun 2014. Menghadapi Jokowi, rivalnya, ia mencuplik Strategi No. 3 dan Strategi No. 10 dari Seni Perang Sun Tzu dan dikombinasikan.

 

Calon Pemilih Gubernur Jatim Yth,

Strategi No. 3 adalah meminjam tangan orang untuk menyerang digunakan terutama untuk menghadapi musuh yang sangat kuat. Teorinya, politisi disarankan gunakan tangan orang lain untuk menyerangnya. Artinya, kumpulkan tangan-tangan sebanyak mungkin, cari dan himpun dukungan sekutu sebanyak-banyaknya untuk dapat menyerang musuh yang kuat. Saran Sun Tzu, bila perlu sogok tentara musuh untuk dijadikan Penghianat. Apakah strategi perang seperti ini layak dikategorikan strategi head to head? Jawabannya bukan.

Penerapan strategi No. 3 dipraktikkan oleh Ketum Partai Gerindra  dalam koalisi yaitu Prabowo merangkul PKS yang selama ini konon mendendam kepada Jokowi akibat kekalahan di Pilgub DKI sebelumnya Ahok (Jokowi vs Fauzi Bowo). Dan ada  pula Amien Rais yang ‘sakit hati’ dengan Jokowi, konon dengki atas popularitas Jokowi, di samping pernah sakit hati karena gagal merayu Jokowi untuk disandingkan dengan Hatta Rajasa. Koalisi yang dihimpun Prabowo  ini konon juga oleh sejumlah elite politik dianggap  koalisi Barisan Sakit Hati.

Bahkan Prabowo saat itu juga berupaya mendekati SBY . Ini bisa ditelisik dari  pidato Prabowo  saat pendeklarasian Capresnya tahun 2014 di rumah Polonia. Saat itu Prabowo  memuja-memuji SBY. Padahal beberapa waktu sebelumnya sudah tersirat bahwa SBY lebih menyukai Jokowi daripada Prabowo. Konon, SBY sangat tidak setuju dengan Visi Nasionalisasi Asset Negara yang digaung-gaungkan Prabowo. Dan karena merasa lebih cocok degan Jokowi maka SBY sudah berupaya mendekati Jokowi dan mengajak Megawati untuk ‘berbaikan’ setelah 10 tahun berseberangan. Sayang Megawati masih emoh melupakan masa lalunya.

Praktik ini gambaran yang tampaknya juga dipraktikkan oleh Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, yang menggadang-gadang Gus Ipul, bisa menjadi Gubernur Jatim dari PKB. Angan-angan Cak Imim, panggilan akrab Muhaimin, karena sekarang saja ia sudah berancang-ancam ingin maju sebagai cawapres 2019.

Inilah praktik perang dalam politik yaitu ada saatnya seorang elite politik itu  menggencarkan kekuatan. Artinya, semua kemungkinan lain haru diupayakan mati-matian, termasuk berbalik dan lari. Seperti saat ini, PKB dan PDIP, dalam Pilkada Jatim 2018 ini rela atau mau merangkul Gerindra dan PKS, yang dalam pilkada DKI 2017 berseberangan, karena menerapkan politik identitas.

Praktik Muhaimin dan Gus Ipul kali ini bisa dibaca, sedang menerapkan satu strategi perang yang diajarkan Sun Tzu. Ajaran Sun Tzu, yang dicukil adalah agar Gus Ipul yang didukung PKB-PDIP, merangkul PKS dan Gerindra, agar tidak dapat dikalahkan oleh Khofifah.

Kesan yang saya amati, tim PKB mencitrakan dirinya pada awal pendaftaran tidak dapat dikalahkan. Setelah mendaftar Rabu kemarin, mereka bisa menunggu keadaan lawan untuk dapat dikalahkan.  Dari sini saya membaca, tim Gus Ipul, berperasaan sedang bertahan (karena ditinggal Azwar Anas mendadak) dan saat mendapat amunisi baru cucu dari Presiden pertama Soekarno, sepertinya bangga (posisi mau menyerang dengan memadukan religius dan nasionalis).

Jadi, pasca kasus Azwar Anas, saya membaca detik-detik terakhir (last minute) Strategi PKB dan Gus Ipul, yang saya ikuti, tim suksesnya tahu lawan   ‘’tergoda’’ dengan mundurnya Anas, sebelum berperang (mendaftar ke KPU).

Pada saat gonjang-ganjing Gus Ipul, tak punya cawagub, Muhaimin, menemui Prabowo, merasa tidak ingin saat-saat dirinya sedang berdiri di tempat tak terkalahkan, mendadak dikalahkan secara psikologis oleh Khofifah. Maka itu, muncul sejumlah nama, termasuk Bupati Ponorogo Ipong, kader Gerindra. Ipong berharap pertemuan Muhaimin – Prabowo, bisa menelurkan terobosan baru, PKB melirik kader Gerindra, Ipong.

Maka itu, di beberapa wilayah, ada sejumlah elite PKB sampai mengklaim seolah tentaranya (tim sukses Gus Ipul) sudah menang sebelum berperang. Subhanalloh, wallahualam. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)



Komentar Anda