SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Pencalonan Ketua Kadinda Jatim, Ir. La Nyala Mattalitti, ikut Cagub Jatim melalui Partai Gerindra, sepertinya deadlock. Kini malah kisruh, setelah Ketua DPD Partai Gerindra Jatim, Supriyatno, dikeluhkan meminta mahar politik ke La Nyala Mattaliti sebesar Rp 170 miliar. La Nyalla, tak mau merealisasikan. Ia lebih ikhlas untuk membangun masjid dan menyumbang yatim piatu dan panti asuhan. Padahal, selama lebih dua bulan, terpasang baliho ukuran besar foto Ir. La Nyalla dengan foto Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Baliho ini tidak hanya di kota Surabaya saja, tapi di beberapa kota luar Surabaya. Informasi yang diperoleh Surabaya Pagi sampai semalam, Gerindra bergabung dengan PKB mendukung Gus Ipul, cagub yang diusung PKB.
----------------
Laporan : Riko Abdiono – Ibnu F Wibowo
----------------

Dikonfirmasi terkait adanya kabar permintaan mahar kepada calon gubernur, Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Timur Supriyatno langsung menepisnya. “Nggak bener itu, nggak ada (minta uang Rp 170 miliar),” kata Supriyatno, kemarin.

Percakapan Telepon
Tak seberapa lama kemudian, Hendro T Subiantoro, Wakil Ketua DPD Gerindra Jatim menjelaskan detail soal percakapan telepon yang sudah tersebar dan kemudian menyebut Gerindra meminta uang Rp 170 Miliar. Dipastikan,itu tidak seperti yang dituduhkan. “Gerindra tidak pernah meminta uang kepada calon, itu sama sekali tidak benar,” kata Hendro.

Ia lalu menjelaskan kronologi yang sebenarnya terjadi dan kemudian memunculkan percakapan telepon antara pendukung La Nyalla dengan Supri hingga menyebut angka Rp 170 miliar.

Kata Hendro, percakapan itu bermula dari beberapa bulan yang lalu, Pak La Nyalla melalui tim pemenangnya pernah menyampaikan tiga tawaran supaya Partai Gerindra memberikan dukungan.

Siap Ajak Demokrat
Pertama adalah siap membawa Partai Demokrat untuk koalisi sekaligus mempertemukan Pakde Karwo (Ketua Demokrat Jatim) kepada Ketua Umum Prabowo. Kedua, ada dukungan dari kyai-kyai khos seluruh Jawa Timur dalam bentuk surat dukungan resmi. Lalu yang ketiga, akan menyiapkan dana Rp 300 miliar untuk pemenangan. “Lalu seiring waktu berjalan, 3 hal itu tidak bisa dibuktikan,” kata Hendro.

Sebenarnya, poin satu dan dua saja sudah cukup untuk meyakinkan Gerindra mengusung La Nyalla. Karena Gerindra hanya 13 kursi dan butuh partai koalisi. “Pak Supri bahkan berjanji, jika Pak Nyalla dapat dukungan dari Demokrat, maka siap mempertemukan Pakde Karwo ke Ketua Umum (Prabowo),” imbuhnya.

Dana Bukan untuk Gerindra
Tentang dana Rp 170 miliar, kata Hendro, sebetulnya adalah dana untuk kampanye pemenangan yang harus dibuktikan oleh calon. Angka itu sudah turun dari yang ditawarkan awal Rp 300 M. Karenanya, Pak Supri bilang, tak perlu 170 miliar, 150 miliar saja sudah cukup untuk meyakinkan Partai Gerindra bahwa calon ini benar-benar serius untuk menang di pilgub Jawa Timur. “Dana itu bukan buat Gerindra, tapi buat pemenangan calon itu sendiri,” papar kader Ansor ini. “Gerindra tidak pernah minta-minta uang mahar untuk pilgub,” tegasnya lagi.

Sebelumnya, beredar kabar Ketua DPD Gerindra Jawa Timur Supriyatno, yang meminta uang mahar agar La Nyalla Mattaliti bisa lolos sebagai Cagub di Pilgub Jatim 2018. Dalam sebuah rekaman percakapan telepon, suara laki-laki diduga Supriyatno meminta kepada La Nyalla untuk menyediakan uang sebesar Rp170 miliar atau minimal Rp150 miliar. "Kalau di Jawa Timur gampang bos, sekarang tunjukkan saja uang cash 170 atau minimal 150 miliar ke Jakarta, saya akan antar ke Pak Prabowo. Kalau tidak ada ya susah bos," ujar Supriyatno dalam salah satu rekaman yang beredar, Selasa (9/1/2017).

La Nyalla Menolak Setor
Sementara itu, La Nyalla M Mattaliti menolak untuk menyetorkan dana untuk mendapat rekomendasi Partai Gerindra yang diminta oleh Ketua DPD Gerindra Jawa Timur Supriyatno. Ia mengaku, lebih baik sumbangkan uang ke anak yatim dan membangun masjid daripada harus setor uang yang sangat besar tersebut. “Kalau ada uang Rp170 miliar, dari pada kita beli rekom partai, mending kita bangun masjid yang bagus saja,” ujarnya, Selasa (09/1/2017).

La Nyalla menyesalkan perbuatan Supriyatno yang telah meminta uang kepada dirinya. Menurutnya, sikap itu justru bertolak belakang dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. “Saya masih ingat sekali, pak Prabowo pernah bilang, kalau ada kader yang punya potensi mau nyalon kepala daerah, Gerindra membuka pintu selebar-lebarnya, yang penting calon tersebut diinginkan rakyat,” ujar La Nyalla.

“Jadi pak Prabowo seperti iklan salah satu rokok yang punya tagline bukan basa-basi. Tapi nyatanya ya begitulah,” ungkapnya.

Bertentangan dengan Sikap Prabowo
Permintaan uang mahar itu juga disayangkan oleh sejumlah relawan dan pendukung La Nyalla. Zha Wulandari misalnya, menurutnya, permintaan uang tersebut kelewatan dan tidak masuk akal.

Disebutkan, permintaan uang tersebut tidak berdasar dan bertentangan dengan sikap Prabowo. “Padahal Pak Nyalla itu kader Gerindra, memang politik itu tidak gratis. Tapi mbok mikir, uang segitu baru buat setoran, belum biaya kampanye dan lain-lain, makanya kok Indonesia ini tidak bisa bebas korupsi,” tutup timses LNM ini. n