Jerman Dominasi AS Tinggal Sejarah

 

Menlu Jerman, Sigmar Gabriel


Amerika Serikat tidak lagi melihat dunia sebagai komunitas global, namun sebagai arena pertempuran, di mana setiap orang harus mencari keuntungan sendiri. Namun, dia mencatat bahwa Eropa harus menetapkan langkah dan lebih ketat menentukan kepentingannya agar menjadi pemain global utama. BERLIN, Yuri Kowalsky.

Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel mengatakan, tatanan dunia berubah dan peran AS sebagai pemimpin dunia yang dominan memudar di bawah administrasi Trump. Dia mengatakan, Berlin perlu mempertahankan kepentingannya lebih aktif, bahkan jika itu berarti melawan Washington.

"Dominasi global AS perlahan menjadi sejarah. Kemunduran AS di bawah Donald Trump dari perannya yang dapat diandalkan sebagai penjamin multilateralisme negara barat mempercepat perubahan tatanan dunia dengan konsekuensi langsung bagi kepentingan Jerman, dan Eropa," ucap Gabriel, seperti dilansir Russia Today.

"Jerman tidak bisa lagi bereaksi terhadap kebijakan AS, tapi harus menetapkan posisinya sendiri. Bahkan setelah Trump meninggalkan Gedung Putih, hubungan dengan AS tidak akan pernah sama," sambungnya.

"Karena AS telah menarik diri dari pentas internasional, tidak ada yang beralih ke Uni Eropa (UE)," ucapnya. Dia menyebut UE tidak lagi memiliki seperangkat nilai tertentu, dan menuduh anggotanya memperlakukan UE seolah-olah mereka memiliki kartu kedua di saku pinggul mereka.

"Kita harus menggambarkan posisi kita sendiri dan, jika perlu, menggambar garis merah berdasarkan kepentingan kita sendiri," ungkapnya.

Gabriel menambahkan, meskipun AS akan tetap menjadi sekutu terdekat Eropa, perbedaan dengan Washington sudah cukup besar dan hal ini perlu ditangani dengan cepat. Dia mengutip tindakan kontroversial oleh Washington, termasuk sanksi terhadap Rusia yang mengancam perusahaan energi Eropa dan meningkatnya risiko perang dengan berencana mencabut kesepakatan nuklir Iran. 03



Komentar Anda



Berita Terkait