Patung terletak di depan kampus Unesa, Lidah Wetan Surabaya, yang menjadi kontroversi ini, Rabu (6/12), ditutupi kain hitam. FOTO SP/BYOB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Sejak viral di sosial media dan diprotes sejumlah pihak, patung di depan kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Lidah Wetan, Surabaya, akhirnya ditutup kain hitam. Ini terlihat sejak Rabu (6/12) kemarin. Patung balerina itu menjadi kontroversi lantaran dianggap porno.

Semula, patung sepasang laki-laki dan perempuan yang menggambarkan sedang menari balet itu tidak menjadi soal. Sudah lebih dari tiga tahun patung itu berdiri, belum pernah ada reaksi masyarakat yang kemudian memprotes keberadaan patung tersebut. Namun ketika dilihat seksama, patung berwarna hitam itu memperlihatkan tubuh sensual perempuan yang sedang ada dalam pelukan sang laki-laki. Tak pelak, aksi massa kemudian timbul setelah seorang netizen mengunggah foto patung tersebut.

“Ironi kota pahlawan Surabaya, ada patung yang tidak elok menuju kompleks perumahan di dekat pintu masuk perguruan tinggi negeri, UNESA Kampus Lidah Wetan Surabaya @bemunesa @UnesaSurabaya @e100ss kampus penghasil pendidik, lingkari merah tampak dari jauh,” kicau @Ipul20ipul di Twitter, kemarin.

Aksi demo masyarakat yang terdiri dari LSM dan warga kemudian digelar. Aksi itu diinisiasi oleh Forum Anak Muda Surabaya Peduli Kota Pahlawan. Mereka sepakat menolak patung yang dinilai berbau pornografi tersebut.

Salah seorang pekerja kebersihan Unesa menjelaskan, saat berlangsungnya aksi demo itu, ia melihat puluhan orang berkumpul di depan patung sambil meneriakkan penolakan terhadap patung tersebut. Namun dalam situasi seperti itu, pihak Citraland tidak menemui para pendemo. Sedangkan diantara mereka ingin merobohkan patung tersebut namun aksinya dicegah polisi.

"Iya mas, mereka teriak menolak, ada yang mau merobohkan kalau sampai patung itu tidak segera diturunkan, tapi dicegah polisi. Banyak yang jaga," terang Rahmat ditemui Surabaya Pagi, Rabu (6/12).

Tak hanya berorasi, para pendemo pun membawa serta gulungan kain berwarna putih yang sontak dibalutkan pada patung tersebut. Namun, selang sehari, balutan kain putih itu tak lagi tampak. Patung tersebut kemudian berbalut kain berwarna hitam dan entah siapa yang menggantinya.

"Kemarin itu masih putih mas, kelihatan. Lah pagi tadi, (Rabu 6 Desember 2017) kainnya berganti hitam, gak tau siapa yang ganti," imbuh Rachmat.

Kendati mendapat reaksi dari sebagian masyarakat, namun ada beberapa warga atau pengguna jalan yang mengaku tidak tahu dan tidak terlalu memperhatikan patung tersebut. Seperti Kevin misalnya, Mahasiswa Unesa itu mengaku tidak begitu memperhatikan. "Itu tergantung orangnya sih mas," singkat Mahasiswa Seni itu.

Menyikapi berdirinya patung ‘porno’ tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim berjanji akan mengirimkan surat kepada pihak Pemerintah Kota Surabaya. “Iya, insya Allah begitu,” ujar Sekretaris MUI Jatim Mochammad Yunus. n fr