JATIM DIKEPUNG 9 NAGA

Setelah Pengusaha Kopi, Orang-orang Super Kaya Dikabarkan Ikut Andil di Pilgub Jatim Juni 2018. Mereka Siap dengan Dana Besar

 

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Bandar-bandar raksasa yang ditengarai ikut ‘main’ di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018, bukan lagi isapan jempol.
Pasalnya, mereka ini sudah dikenal pernah ikut andil di perhelatan politik Indonesia. Mulai dari Pemilihan Presiden (Pilpres) hingga Pilgub DKI Jakarta. Setelah pengusaha kopi dan investor tambang yang disebut-sebut menyokong salah satu kandidat, kini isu 9 naga juga mewarnai perpolitikan Jawa Timur jelang pesta demokrasi yang akan digelar Juni 2018.

Isu 9 naga alias orang-orang super kaya di Indonesia yang disebut-sebut mengontrol keputusan politik semakin santer terdengar. Termasuk belakangan ini saat Pilgub Jawa Timur mulai ramai dibicarakan. Keberadaan mereka bagai misteri, namun terasa nyata. Terutama sejak Ahok mencuat di Pilkada DKI Jakarta lalu.

Ragil Nugroho, seorang Netizen mengungkapkan, saat Ahok sang calon gubernur terlihat kuat dari hukum, sebenarnya bukan Ahoknya yang kuat, tapi yang berada di belakang Ahok itulah yang kuat, yaitu sembilan naga. Meski akhirnya, Ahok pun divonis bersalah dan dipenjara karena kasus penistaan agama.

Tak ubahnya Pilkada DKI Jakarta, Pilkada Jatim diprediksi tidak akan lepas dari kepungan kepentingan bisnis para mafia dan bandar-bandar besar. Termasuk di dalamnya ada 9 naga atau geng of nine. Bahkan, mereka tak segan-segan menggelontorkan dana besar untuk kandidat cagub yang maju. “Saya dengar, 9 naga itu main di Pilgub Jatim,” ungkap salah satu tokoh Kosgoro yang enggan disebut namanya, saat ditemui di Jakarta, kemarin.

“Kalau mau aman ya bantu dua-duanya, baik GI maupun KIP. Tapi sudah pasti dealnya ke depan sangar besar, tinggal cagubnya ini mau apa tidak,” lanjut sumber ini.

Peran yang sangat penting kepada siapa 9 naga ini terlibat membandari Pilgub Jatim, tergantung pada konstelasi politik di pusat. “Jatim ini kan jika dilihat dari petinggi partai, dua pasangan calon yang sudah muncul itu dekat dengan bandar-bandar kakap,” tambahnya.

Berdasarkan penelusuran, sembilan naga adalah akronim untuk menggambarkan penguasa kekayaan di Indonesia. Kekuatannya mengular di semua provinsi, termasuk Jawa Timur. Suatu ketika Kwik Kian Gie berujar dalam acara di Indonesia Lawyer Club (ILC). “Saya benar-benar prihatin dengan kabar-kabar bahwa Pak Jokowi dikepung 9 Taipan. Orang-orang kaya yang mengendalikan. Dan kabar ini menyebar sangat luas. cuma tidak ada yang mengatakan, biarlah saya yang mengatakan. Bukan karena apa-apa, karena kecintaan saya. Tolong dijawab dengan fakta-fakta bahwa itu tidak betul. Karena kabar ini meluas,” ujar Kwik dalam acara ILC di TVOne 21 Oktober 2014 bertema “Jokowi JK Mencari Menteri Yang Bersih”.

Siapa 9 Naga?
Siapa Saja 9 Naga itu? Data pastinya masih simpang siur. Tapi database redaksi Surabaya Pagi mencoba mengelompokkan beberapa nama pengusaha kelas kakap yang disebut-sebut anggota 9 naga itu. Pertama adalah, Sofjan Wanandi yang dikenal dekat dengan Jusuf Kalla. Tidak heran karena keduanya sudah kenal baik sejak lama. Bahkan, seorang petinggi PDIP mengaku Sofjan sudah sejak lama melobi Megawati untuk memasangkan Kalla dengan Jokowi. Sejak tahun 2013, Sofjan di berbagai kesempatan menyatakan bakal mengeluarkan Rp 2 triliun bila sekondanya, Jusuf Kalla, dipasangkan dengan Jokowi. Sofjan sendiri tercatat memiliki kekayaan lebih dari Rp 3 triliun.

Sofjan kini memimpin Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan kabarnya sedang konsen di bisnis pengembangan pelabuhan di pantura Jawa Timur, seperti Smelter untuk Freeport dan sebagainya.

Nama kedua adalah juragan Dato’ Sri Tahir. Ia tak lain ipar James Riady. Rosy Riady, isteri Tahir, adalah putri dari Mochtar Riady. Majalah Forbes menyebut, kekayaan Tahir per Maret 2013 sekitar US$ 2 miliar. Dia berada di peringkat ketujuh orang terkaya di Indonesia. Tahir sukses dengan Grup Mayapada.

Kini dia kabarnya sedang mengembangkan bisnis di Jawa Timur dimulai dengan Mayapada Complex di Jl Mayjend Sungkono dan Taman Beverly di Jl HR Muhammad Surabaya, menyusul kemudian beberapa proyek property di sekitar Surabaya.

Ketiga, Rusdi Kirana. Bos Lion Air ini bersama kakaknya, Kusnan Kirana, tercatat sebagai orang kaya ke-29 menurut majalah Forbes pada November 2013. Keduanya sukses mendirikan maskapai penerbangan Lion Air. Dengan kekayaan yang mencapai US$ 1 miliar, Rusdi bergabung dengan tim pemenangan Jokowi-JK sebagai anggota Dewan Pengarah, karena Rusdi juga tercatat di pengurus DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Keempat, Jacob Soetoyo Direktur PT Gesit Sarana Perkasa ini mempunyai jaringan yang kuat untuk lobi-lobi internasional. Jacob, juga menjadi Dewan Pengawas Center of Strategic and International Studies (CSIS).

Kelima adalah James Riyadi, Bos Lippo Group. James Riyadi yang bernama asli Li Bái sempat dikenal sebagai sponsorship pemilihan presiden Amerika Serikat yang memenangkan Bill Clinton. James Riyadi merupakan bos Group Lippo yang menguasai bermain di pasar perbankan, properti, dan rumah sakit. Ia disebut-sebut menjadi pendukung Joko Widodo sejak pemilihan gubernur Jakarta. Belum jelas, di pilgub Jatim ini, Riady mendukung cagub siapa.

Nama keenam adalah Anthony Salim, alias Liem Hong Sien. Ia merupakan salah satu orang yang masuk ke dalam 10 Tokoh Bisnis yang paling berpengaruh pada tahun 2005 oleh Warta Ekonomi. Predikat itu diberikan karena dirinya berhasil membangun kembali Group Salim yang saat itu mengalami kegagalan yang diakibatkan oleh krisis ekonomi tahun 1998.

Anthony Salim mempunyai beberapa perusahaan besar antara lain adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Bogasari Flour Mills. Kedua perusahaan ini merupakan perusahaan penghasil mie instan dan tepung terigu terbesar di dunia. Sebagian besar pabriknya ada di Jawa Timur.

Ketujuh, Tommy Winata, pemilik Grup Artha Graha atau Artha Graha Network. Usahanya terutama bergerak dalam bidang perbankan, properti dan infrastruktur. Disamping usaha bidang komersial, TW juga dikenal sebagai pendiri Artha Graha Peduli, sebuah Yayasan sosial, kemanusiaan dan lingkungan yang sering turun membantu masyarakat di banyak daerah di Indonesia.

Kedelapan, Edward Soeryadjaya yang bernama asli Tjia Han Pun adalah pemilik Ortus Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif. Edward pernah mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat besar dari koceknya sendiri untuk proyek monorel. Ortus Group juga bahkan tengah dalam proses untuk mengakuisisi saham PT JM hingga 90% atau mayoritas.

Kesembilan adalah, Robert Budi Hartono yang bernama asli Oei Hwie Tjhonga adalah pemilik perusahaan rokok Djarum. Saat ini ada sebuah tren baru di dunia maju untuk menekan industri rokok. Baik iklan maupun sponsor rokok pada sejumlah kegiatan mulai dibatasi. Misalnya, Marlboro yang pasarnya di Amerika mulai mendapat tekanan sehingga mencari pasar baru, salah satu lahan basah tersebut adalah Indonesia. Inilah sebabnya Robert Budi Hartono aktif incar backing politik untuk mengamankan bisnis dan pasarnya di Indonesia serta Jawa Timur.

Dibantah
Sekretaris DPD PDIP Jawa Timur Sri Untari membantah adanya Bandar Politik maupun Bandar Pilkada di Pilgub Jatim 2018. Bahkan, Sekretaris Pemenangan Gus Ipul-Azwar Anas ini menjamin, bahwa dalam kaitan Pilgub Jatim maupun Pilkada serentak 2018, tidak akan ada istilah bandar politik yang bermain. Ia menegaskan skema pembiayaan yang dianut PDIP pantang dengan istilah bandar politik.

"Kenapa demikian, karena kami masih sangat percaya dengan pembiayaan berbasis gotong royong. Selama ini pun kami selalu menggunakan ekonomi gotong royong dalam skema pembiayaan partai," jelas Sri Untari dikonfirmasi Surabaya Pagi, Senin (4/12) kemarin.

Skema pembiayaan gotong royong tersebut, lanjut Untari, memiliki arti bahwa pembiayaan kampanye yang dilakukan oleh partai murni berlandaskan swasembada. "Jadi, yang tidak kampanye, membantu yang kampanye. Seperti apa? Entah bantu cetak kalender, cetak kaos, atau alat peraga kampanye lainnya. Kadang juga support dengan membantu biaya saksi. Pokoknya saling bantu," tandas anggota DPRD Jatim ini.

Demi benar-benar menjalankan prinsip tersebut, Untari mengatakan PDIP melakukan regulasi pembiayaan secara ketat kepada setiap calon yang memperoleh dukungan dari partai tersebut. Rekam jejak sumbangan dana dari pihak ketiga pun ditelusuri secara mendalam. "Jadi, setiap calon yang maju lewat kita pun kita seleksi ketat. Setiap sen pembiayaan yang masuk, kita pastikan asal muasal dan tujuannya apa. Karena ya itu tadi, kami masih sangat percaya dengan skema gotong royong," jelas Untari yang dikabarkan bakal maju pada Pilkada Kota Malang.

Disinggung terkait fenomena bandar politik yang sedang marak, Untari mengaku bahwa dirinya sudah sering mendengar hal itu. "Ya tapi, saya kira itu isu saja. Kenapa? Karena belum ada yang terbukti kan itu," tutur Untari.

Modus Baru
Sebelumnya diberitakan, sejumlah bandar politik dan mafia Pilkada, disebut-sebut sudah berebut jadi investor (pemodal) untuk salah satu kandidat yang akan bertarung di Pilgub Jatim 2018. Modusnya pun baru, karena tidak lagi berharap pada proyek-proyek yang didanai APBD. Sebab, penggunaan dana APBD sudah diincar KPK. Kini mereka mengincar sejumlah potensi tambang dan industri di Jawa Timur.

Daerah-daerah yang menjadi rebutan bisnis para mafia di Jakarta bahkan Australia, ada di daerah-daerah seperti Tapal Kuda. Meliputi Lumajang, Jember, Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso. Kemudian ada juga di kawasan pantura seperti Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik dan Madura. “Macam-macam jenis bisnisnya, ada tambang minyak, tambang emas, perkebunan kopi, pelabuhan dan pabrik-pabrik,” beber sumber yang mengaku pada pilgub 2008 lalu menjadi saksi mata beredarnya dana dari cukong dari asing ke salah satu kandidat yang tak mau ia sebut namanya. n Tim

 



Komentar Anda



Berita Terkait