Risma, Berani Pencitraan, tapi tak Berani Mundur Kayak Dirjen Kemenhub

Surat terbuka untuk Risma, Walikota Surabaya, yang Suka Pencitraan (2-habis)

 

H. Tatang Istiawan


Bu Risma Walikota Surabaya,

Saya salah satu warga kota yang mengamati  Perilaku dan pencitraan Anda. Sejauh ini, pencitraan yang Anda lakukan didominasi publisitas. Secara ekonomi, pencitraan melalui publisitas, jauh lebih murah dan efisien tapi berdampak luar biasa.

Lebih-lebih Anda adalah sosok walikota Surabaya, wanita dan berhijab, bisa menarik perhatian media massa. Artinya, pencitraan melalui publisitas, mendorong publik  lebih percaya dengan berita daripada beriklan. Maklum, pencitraan melalui publisitas cenderung lebih mendekati realitas. Pertanyaan saya, adakah perilaku Anda benar-benar konstitusional atau ada varian non konstitusionalnya?.

Dua hal yang paradoks ini perlu saya sampaikan, karena di sekeliling Anda ada konsultan bisnis yang saya kenal, sebagai pria yang berbeda keyakinan dengan Anda. Saya khawatir, Anda dibawa ke awang-awang yang bernama pencitraan untuk mengangkat pamor Anda, yang sebenarnya belum layak mengelola kota seluas Surabaya dengan APBD sebesar Rp 8.561.484.147.400,-. Anggaran ini telah Anda sepakati bersama Badan Anggaran DPRD Surabaya yang diketuai Ir. Armudji.

Dari APBD sebesar itu, Anda menyetujui dana sebesar Rp 1.058 triliun untuk pembangunan gorong-gorong atau box culvert. Ternyata, pada Jumat lalu, pencegahan banjir yang Anda rumuskan tidak terjadi. Justru sebaliknya,  banjir semakin meluas, meningkat dan menyiksa warga kota dan pemakai jalan.

Saya juga heran, Anda dalam upaya mengatasi banjir saat musim penghujan, juga membangun bozem dengan Luasan lahan 1,2 juta m2. Bahkan dilaporkan sebelum banjir parah Jumat lalu, sudah  ada 37 bozem dibangun untuk menampung air hujan yang tersebar di Surabaya.

Bozem-bozem ini juga dibangun di tengah kawasan perumahan atas permintaan warga, selain dibangun di atas lahan pemkot.

Wajar bila dengan dana sebesar itu, kemampuan Anda sebagai pengelola kota Surabaya dipertanyakan. Mengingat, hasil dari dana Rp 1 triliun tak dirasakan masyarakat. Malah banjir dimana-mana dari sudut kampung hingga pusat kota.

Sebelum banjir hari Jumat itu, Anda berjanji dengan perbaikan bozem, dan pembangunan gorong-gorong, Surabaya bebas banjir. Nyatanya? Apakah Anda tidak malu ? Mengapa tidak mundur sebagai walikota seperti Dirjen Kemenhub Djoko Sasono.

Bahkan di Jepang, pejabat yang berbicara tidak bisa dibuktikan, ia mengundurkan diri sebagai sikap satrianya. Mengapa Anda tidak meniru Dirjen Kemenhub,  Djoko Sasono, mengundurkan diri karena tak bisa mengantisipasi macet panjang lalu lintas saat liburan 24-25 Desember 2015 lalu. Problema sama, Anda tidak dapat mengantisipasi banjir.

 

Bu Risma Walikota Surabaya,

Surat terbuka saya ini bukan semata mengkritik Anda. Tetapi merupakan partisipasi politik warga kota terkait aktualisasi dari proses demokratisasi di Surabaya. Maklum, sejak reformasi,  berpartisipasi politik dijamin oleh Negara.

Undang undang yang melindungi partisipasi masyarakat antara lain  Pasal 28       UUD 1945 pasal 28 yang berbunyi “kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.  Kemudian, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 mengenai jaminan hak-hak sipil dan politik. Pendeknya, sejak reformasi 1999,  telah dikeluarkan berbagai instrumen hukum berupa undang-undang (UU) atau Peraturan Pemerintah (PP) yang membuka lebar ruang bagi partisipasi masyarakat dalam pembuatan kebijakan publik dan monitoring pembangunan.

Apalagi undang-undang tentang otonomi daerah . Anda insha Alloh tahu bahwa dari segi kemasyarakatan tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk meningkatkan partisipasi serta menumbuhkan kemandirian warga kota Surabaya.

Saya ingin mengingatkan Anda bahwa sebagai kepala daerah, Anda pelaku politik. Mengingat jabatan kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat adalah pejabat politik. Apalagi Anda sudah memproklamirkan sebagai kader PDIP.

Tak salah bila perilaku  politik Anda mudah  dijumpai dalam berbagai bentuk. Nah, dalam berperilaku politik,  dikenal sikap politik. Artinya, meski antara sikap dan perilaku terdapat kaitan yang sangat erat , keduanya perlu dibedakan. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek tersebut. Misal soal antisipasi banjir setelah Anda menggelontorkan dana penanggulangan banjir Rp 1 triliun lebih. Sikap seperti ini mengandung tiga komponen yaitu kognisi, afeksi dan konasi. Kognisi berkenaan dengan ide, afeksi menyangkut kehidupan emosional, sedangkan konasi merupakan kecenderungan bertingkah laku. Nah, apakah Anda sadar bahwa dana Rp 1 triliun itu banyak.

Dengan munculnya sikap politik Anda menjamin bebas banjir, warga kota tenang. Tetapi dengan fakta banjir malah makin merajalela di semua jalan di kota Surabaya, publik wajar bereaksi minor terhadap Anda. Sayang, sikap politik Anda tidak diwujudkan di publik yaitu mundur, karena tidak bisa menjaga komitmen janji seorang pejabat publik.

 

Bu Risma Walikota Surabaya,

Hampir semua warga kota Surabaya tahu bahwa konsep Anda dalam mengatasi masalah banjir dan kemacetan kota, melalui dinas PUBMP (Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan) membuat solusi pembangunan gorong-gorong lewat proyek box culvert .

Proyek ini Anda rintis sudah sejak 2010. Saat itu Anda saya catat pernah mengatakan mega proyek box culvert bertujuan untuk mengatasi kepadatan lalu lintas sekaligus mencegah banjir. Berturut-turut sejak tahun 2010, Anda membangun box culvert sampai mencapai 10.963 meter atau hampir 11 kilometer. Pada  tahun 2013, Anda membangun gorong-gorong sepanjang 1147 meter Dan pada tahun 2014 dan 2015, ada gorong-gorong ditutup dengan box culvert, sepanjang 2.476 meter dan 1.076 meter. Baru pada  tahun 2016, box culvert dibangun sepanjang 1986 meter.

Sementara pembangunan gorong-gorong saluran air di Jalan Banyu Urip menuju Tandes Anda nyatakan sudah rampung, yakni sepanjang 6,7 kilometer. Otomatis, pengerjaan proyek yang digadang-dagang sebagai solusi mengatasi luapan air di daerah barat mencapai setengahnya, dari total panjang 13,85 km.

Sejauh ini, gorong-gorong dari Girilaya ke daerah Manukan, yang belum dirampungkan mulai Manukan hingga Kelurahan Benowo. Konsep Anda, selain sebagai saluran air, gorong-gorong ini juga difungsikan sebagai jalan kendaraan macam-macam termasuk truk.

 

Bu Risma Walikota Surabaya,

Pada Februari 2014 saat jelang Pilkada Surabaya yaitu naiknya Anda untuk kedua kalinya, Anda membikin geger warga kota. Anda yang berbadan tegap, dan suka marah, tetapi mudah menangis. Saya tak tahu bagaimana campur-baurnya Anda yang bisa berada dalam suasana melankolis?

Apakah ini sifat kodrati wanita yang saat menghadapi masalah kemasyarakatan.  muncuk kecamuk dalam jiwanya? Benarkah selama menjadi Walikota Surabaya, Anda tertekan. Bahkan tahun 2014 Anda pernah menghilang beberapa hari kemudian dilaporkan sakit? Sungguh menarik perjalanan Anda menjadi walikota Surabaya.

Wartawan saya yang bertugas meliput di Pemkot Surabaya, melihat Anda mengekspresikan rasa haru sambil mengeluarkan tetesan air mata. Ini terjadi pada tanggal 14 September 2017, ketika Anda membacakan sambutannya di atas panggung usai melakukan penandatanganan kerja sama Pemerintah Kota Surabaya dengan Maskapai Citilink Indonesia.

"Saya sempat khawatir bagaimana dengan kelanjutannya kalau hasilnya tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Sebagai seorang pemimpin saya merasa amat berdosa jika mereka akhirnya memilih kembali ke profesinya," ungkap Anda terbata-bata saat membacakan sambutannya di Balai Kota Surabaya.

Mengamati gerak gerik Anda, dari tahun ke tahun sampai mempublikasikan mendapat penghargaan internasional, tak jauh dari pencitraan. Dalam ilmu komunikasi, pencitraan pejabat biasa disetting  untuk meningkatkan citra diri agar tampil menarik di publik.

Saya kadang bertanya, benarkah Anda berada konsep boneka dengan peran sutradara? Benarkah Ir. Kresnayana Yahya dan Ir. Don Rosano, yang dikenal sebagai konsultan marketing place Anda, bagian dari pencitraan Anda. Hanya Anda dan pejabat SKPD di Pemkot Surabaya yang tahu.

Hal yang saya pelajari sejak bangku kuliah ilmu komunikasi 20 tahun yang lalu, dalam dunia pencitraan, citra dan realitas menjadi dua kutub yang terus tarik-menarik. Kadang citra telah berubah menjadi sebuah mesin politis yang bergerak  cepat. Nah, muncul strategi pencitraan dan teknologi pencitraan atau yang dikenal imagologi. Hal hal ini  dikemas sedemikian rupa untuk mempengaruhi persepsi, emosi, perasaan, kesadaran, dan opini publik sehingga mereka dapat digiring ke sebuah preferensi, pilihan dan keputusan politik tertentu, kepada siapa saja, termasuk kepada Anda, walikota Surabaya sekarang ini. (tatangistiawan@gmail.com)



Komentar Anda



Berita Terkait