Perang Persepsi Khofifah Vs Anas, bukan Khofifah-Gus Ipul

Surat terbuka untuk Calon Pemilih Pilgub Jatim 2018-2023 (2)

 

H. Tatang Istiawan


Pemilih Pilgub Jatim Juni 2018,

Anda sebagai calon pemilih pilgub 2018, saat ini, bisa jadi, tak mampu belajar memahami realitas cagub Jatim penerus Pak De Karwo dengan sudut pandang yang benar. Beberapa kali saya ketemu dengan sejumlah kader partai politik tertentu, mulai ada yang membicarakan tentang gambaran bahwa Gus Ipul itu adalah incumbent dan Khofifah, penantang. Padahal keliru. Gus Ipul, hanyalah aktivis NU yang pernah menjabat Wagub Jatim dua periode. Mereka membicarakan sesuatu diluar kenyataan yang ada tentang Gus Ipul maupun Khofifah. Padahal mereka tidak pernah ketemu dengan dua cagub Jatim 2018 ini. Mereka hanya tahu tentang suatu isu publik. Misal, Gus Ipul sering datang di berbagai acara, baik resmi atau tidak, diundang maupun datang sendiri. Berbeda dengan

Khofifah, yang datang ke setiap undangan benar-benar teragendakan. Bahkan pernah diundang satu kampus dan dilakukan oleh Rektornya, Khofifah yang sudah menjadwalkan hadir, berani membatalkan. Ini gara-gara ada agenda yang menurutnya tidak etis secara politis.

Apa yang saya cuplik ini merupakan persepsi yang dibentuk oleh media-media lokal di Jatim, baik media siber, radio, tv maupun mainstream. Inilah gambaran suatu proses persepsi pada alam pemikiran normal Anda sebagai publik, calon pemilih Pilgub 2018.

Saat ini, masing-masing cagub mulai mengelola dirinya sebagai Merek yang perlu dipersepsikan sebagai produk politik yang berkualitas tinggi. Sasaran akhirnya, Anda sebagai calon konsumen Pilgub Jatim 2018 dapat memahami dan menerima GI, KIP, AAA dan ED adalah sebuah produk politik melalui eksistensi,  fungsi, citra dan mutunya. Artinya kualitas cagub dan cawagub di mata calon konsumen lebih bersifat subyektif. Ini tergantung bagaimana persepsi Anda sebagai calon konsumen terhadap GI, KIP, AAA dan ED sebagai produk yang “diperdagangkan” oleh masing-masing partai politik pendukungnya .

Nah, saat jumlah merek yang dikenal konsumen tidak lagi dua, tapi tiga cagub, maka peranan merek dapat diperluas sehingga mampu memberikan asosiasi tertentu dibenak Anda sebagai calon konsumen. Maklum, sebuah merek di politik praktis pun, sering dihubungkan dengan fungsi dan citra khusus masing-masing cagu . Bahkan nilai yang didasari merek sering kali didasari pada asosiasi-asosiasi spesifik parpol yang berkaitan dengan pencaguban.

 

Pemilih Pilgub Jatim Juni 2018,

Khofifah, Gus Ipul, Azwar Anas dan Emil Dardak, pada hakikatnya sebuah merek. Dalam marketing, nama-nama cagub dan cawagub ini sudah bisa samakan  brand association. Sampai November 2017 ini, keempatnya telah melakukan pencitraan suatu merek dalam politik praktis.

Masing-masing bahkan telah menimbulkan kesan tertentu di publik. Kesan sebagai wakil Nahdliyin dan nasionalis. Termasuk dalam kaitannya dengan kebiasaan, manfaat, atribut produk, geografis, ‘’harga’’, pesaing satu dan lainnya.

Pada bulan Juni 2017 lalu, Saifullah Yusuf, sebagai cagub Jatim 2018, disebut masih belum aman. Survei elektabilitas pada Juni 2017 yang dilakukan oleh The Initiative Institute menyebutkan, elektabilitas Gus Ipul masih meraih angka tertinggi, yakni 40,90 persen. Sedang Khofifah Indar Parawansa pada 34,20 persen. Logika elektabilitas sebagai petahana harus Gus Ipul sudah di atas 50 persen, kalau di bawah 50 persen berarti belum aman. Jadi posisi Gus Ipul mengkhawatirkan. Sebaliknya posisi Khofifah bisa melambung.

Sementara dalam survei yang dilakukan lembaga Survey Center (SSC) pada bulan Juli 2017 lalu. Survei, pada saat Khofifah belum mendeklarasikan, popularitas Khofifah sudah menyentuh angka 90 persen.

Perolehan angka ini mengalahkan Gus Ipul, yang telah mendeklarasikan di kantor DPP-PDIP Jakarta, bersama Azwar Anas. GI, singkatan Gus Ipul pada bulan Juli 2017 hanya mendapat 84,60 persen, lebih rendah dari Khofifah. Padahal, aspek popularitas, karena dorongan publisitas media. Ini menunjukkan pemberitaan sekitar kegiatan Gus Ipul yang masih sekitar seremonial, tak ada pengaruh pada publik.

Lalu survei pada Agustus 2017, dari sisi elektabilitas, Gus Ipul meraih suara 32,4 persen. Sedangkan Khofifah sebanyak 27,7 persen.

 

Pemilih Pilgub Jatim Juni 2018,

Menurut Aaker (1996:106) dalam buku The Power of Brand, Freddy Rangkuti (2002:43) menyatakan merek adalah “segala hal yang berkaitan dengan ingatan mengenai merek”.

Bagi pelaku marketing, merek bahkan telah berperan sebagai persepsi yang mempengaruhi keputusan membeli atau memilih. Makanya, nilai suatu brand selalu menciptakan kesetiaan konsumen. Nah, mengikuti realita di masyarakat sampai November 2017, brand Khofifah sebagai tokoh muslimat lebih kuat dibanding sosok Gus Ipul sebagai kader NU yang pernah menjadi Ketua Ansor.

Dengan fakta di masyarakat, kesetiaan ibu-ibu fatayat terhadap Khofifah sebagai merek calon Gubernur Jatim merupakan salah satu aset merek NU. Mengingat, dua kali pilgub Jatim tahun 2008 dan tahun 2013, Khofifah sudah dikenal sebagai cagub, sedangkan GI, baru pada level cawagub.

Nah, saat ini saya justru lebih melihat kiprah para pembentuk persepsi yaitu perusahaan hubungan masyarakat (Public Relations/PR). Mereka kadang bisa berperan sekaligus sebagai pelobi politik.

Penggunaan perusahaan PR dalam pilgub di Jatim bukan hal baru.

 

Pemilih Pilgub Jatim Juni 2018,

Pertanyaannya, mestikah Gus Ipul, Khofifah, Anas dan Emil, perlu menggandeng konsultan public relation? Dalam cara pandang perang opini dan pencitraan, masing-masing cagub menurut saya ingin merubah persepsi masyarakat yang memiliki hak memilih dalam Pilgub 2018 nanti. Jujur, dari data yang saya miliki terutama aspek keteknokratan, saat ini bisa terjadi perang persepsi antara Khofifah vs Azwar Anas, dan bukan Khofifah vs Gus Ipul. Mengapa? Prestasi Khofifah dalam menurunkan angka kemiskinan di Indonesia terukur. Demikian juga kinerja Azwar Anas, sebagai Bupati Banyuwangi, ia diakui mampu melakukan berbagai terobosan bidang pariwisata. Lalu apa prestasi Gus Ipul, selama dua periode menjadi wakil Gubernur Jatim Pak De Karwo?. Sejumlah SKPD di Provinsi Jatim yang saya hubungi menyatakan tak ada prestasi nyata GI yang dirasakan karyawan/ti Pemprov Jatim.

Dan sejak deklarasi Khofifah-Emil Dardak dipublish dari rumah mantan Presiden SBY, minggu yang lalu, pola perang opini telah dirasakan. Terutama mempersoalkan status Emil Dardak yang semula diklaim kader PDIP, tiba-tiba bersedia memegang lambang Partai Demokrat, bersama Khofifah. Dalam foto ini, mereka berdua didampingi Gubernur Jatim Soekarwo dan Ketua Umum Partai Demokrat. Foto ini bisa menimbulkan persepsi macam-macam di masyarakat.

Menurut Chifmann dan kanuk (2000), persepsi adalah cara orang memandang di dunia ini. Makanya, persepsi seseorang berbeda dari satu dengan yang lainnya.

Bahkan ada persepsi Kualitas Merek yang akan membentuk persepsi kualitas dari suatu produk. Artinya, apakah kualitas merek NU Khofifah lebih berkualitas dari merek NU yang dimiliki GI. Ada baiknya kita tunggu saat pencoblosan Juni 2018 mendatang.

Dalam pandangan saya, kualitas merek NU Khofifah dan Gus Ipul, insha Alloh dapat menentukan nilai dari produk PKB-PDIP atau produk Demokrat, Partai Golkar, NasDem, Hanura, dan PPP. Nilai produk-produk ini berpengaruh secara langsung kepada keputusan pembelian Anda sebagai konsumen, apakah Anda memilih Khofifah atau Gus Ipul? .

Saya merekomendasi, mulai sekarang telah ditabuh perang persepsi antara Khofifah Vs Anas. Tapi yang konkret, bukan perang persepsi antara Khofifah- Gus Ipul. Kita tunggu. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung).

 



Komentar Anda



Berita Terkait